Penyusupan kendaraan militer ke pihak musuh harus lolos dari sensor termal atau panas. Untuk itu, mahasiswa dan dosen Teknik Elektro ITB merintis teknologi penyamaran untuk tank atau pengangkut infanteri. Kelak kendaraan itu seakan menghilang dari pantauan, atau berubah wujud seperti hewan atau kendaraan sipil.
Kamuflase termal untuk kendaraan militer itu digarap Adrian Yopi Gazali, Claudius Andri, dan Gregorius Famalt, mahasiswa Teknik Elektro ITB 2010. Bentuknya semacam sisik berupa pelat tembaga berukuran 12,5 sentimeter sama sisi, setebal 0,4 milimeter. "Ukuran itu menyesuaikan satu pixel pada kamera pengintai termal," kata Adrian kepada Tempo di acara Electrical Engineering Days di Aula Barat ITB yang berlangsung dari 3-6 Juni 2014.
Sisik-sisik kamuflase itu menjadi pelapis luar kendaraan militer. Untuk pengangkut infanteri seperti Anoa buatan PT Pindad, kata Adrian, kurang-lebih diperlukan 1.200 sisik kamuflase. Pemasangannya perlu memakai kerangka tambahan pada kendaraan jadi.
Di belakang tiap sisik itu, pelat tembaga disambungkan ke sejumlah komponen utama, seperti heatsink yang membuang panas, peltier sebagai pendingin atau pemanas, relay untuk mengubah pelat menjadi panas atau dingin, serta sensor termal untuk mendapatkan suhu di lingkungan sekitarnya.
Tiap sisik harus dipasang sepasang pada posisi berseberangan agar sanggup membaca temperatur lingkungan dengan optimal. "Jika berada di hutan atau semak, tank akan lenyap dari pantauan karena suhunya mengikuti kondisi sekitar," ujarnya.
Sisik kamuflase juga bisa diatur agar panasnya membentuk hewan atau kendaraan sipil untuk mengelabui musuh. Kamuflase itu untuk operasi malam hari yang pemantauan umumnya memakai kamera termal.
Menurut Andri, studi tugas akhir ini melanjutkan riset tahun lalu yang menjajal pelat dari bahan aluminium. Dari hasil uji coba mereka, pelat aluminium lebih lambat panas daripada tembaga sehingga lebih boros tenaga listriknya.
Namun mereka juga belum puas, karena tembaga yang sanggup panas dalam 38 detik, masih terhitung lambat dibanding komponen peltier yang bisa menghasilkan panas kurang dari lima detik. Konduktivitas termal peltier juga lebih baik, yakni berkisar -10 hingga 70 derajat celsius, adapun tembaga berkisar 15-30 derajat. "Bahan itu perlu dipelajari lagi jenis materialnya," kata dia.
Masalah terbesar teknologi mereka yaitu daya listrik untuk pemakaian sisik kamuflase. Tiap sisik tembaga misalnya, butuh listrik hingga 60 watt. Mereka belum menemukan jalan keluarnya. (Tempo)
Tampilkan postingan dengan label Industri Pertahanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Industri Pertahanan. Tampilkan semua postingan
09 Juni, 2014
ITB Ciptakan Teknologi Kamuplase Untuk Panser Anoa dan Tank Pindad
Diunggah Oleh:
filereid12345678
pada Senin, Juni 09, 2014
04 Juni, 2014
PAL : Realisasi Kapal Perang Filipina Tunggu Desain
Diunggah Oleh:
filereid12345678
pada Rabu, Juni 04, 2014
PT PAL Indonesia meyakini segera merealisasikan dua unit kapal perang jenis "Landing Platform Deck/LPD" pesanan Pemerintah Filipina karena proses pembangunannya saat ini memasuki tahap perencanaan desain.
"Oleh sebab itu, kami masih menunggu permintaan desain dari Pemerintah Filipina. Apakah rancangannya beda ataukah sama dengan LPD milik TNI AL," kata Kepala Humas PT PAL Indonesia, Bayu Wicaksono, dihubungi di Surabaya, Minggu.
Ia menyatakan, kapal perang "LPD" yang dibeli Filipina adalah jenis "Strategic Sealife Vessel/SSV". Kapal tersebut mempunyai ukuran panjang 122 meter.
"Secara ukuran, memang lebih panjang kapal LPD milik Indonesia yakni mencapai 125 meter," ujarnya.
Sementara itu, jelas dia, pemesanan kapal perang tersebut dilakukan melalui Kementerian Pertahanan (Kemenhan) kepada PT PAL Indonesia. Untuk penandatanganannya sudah dilakukan pada bulan Maret lalu.
"Keputusan Pemerintah Filipina dilatarbelakangi keberhasilan kami membangun kapal perang jenis LPD dan Kapal Cepat Rudal (KCR) 60 meter pesanan dari Kemenhan," katanya.
Kini, tambah dia, pihaknya juga sedang melakukan koordinasi lebih lanjut dengan Filipina. Hal itu bertujuan untuk mengetahui apa saja yang menjadi kebutuhan mereka. (PAL)
"Oleh sebab itu, kami masih menunggu permintaan desain dari Pemerintah Filipina. Apakah rancangannya beda ataukah sama dengan LPD milik TNI AL," kata Kepala Humas PT PAL Indonesia, Bayu Wicaksono, dihubungi di Surabaya, Minggu.
Ia menyatakan, kapal perang "LPD" yang dibeli Filipina adalah jenis "Strategic Sealife Vessel/SSV". Kapal tersebut mempunyai ukuran panjang 122 meter.
"Secara ukuran, memang lebih panjang kapal LPD milik Indonesia yakni mencapai 125 meter," ujarnya.
Sementara itu, jelas dia, pemesanan kapal perang tersebut dilakukan melalui Kementerian Pertahanan (Kemenhan) kepada PT PAL Indonesia. Untuk penandatanganannya sudah dilakukan pada bulan Maret lalu.
"Keputusan Pemerintah Filipina dilatarbelakangi keberhasilan kami membangun kapal perang jenis LPD dan Kapal Cepat Rudal (KCR) 60 meter pesanan dari Kemenhan," katanya.
Kini, tambah dia, pihaknya juga sedang melakukan koordinasi lebih lanjut dengan Filipina. Hal itu bertujuan untuk mengetahui apa saja yang menjadi kebutuhan mereka. (PAL)
30 Mei, 2014
KCR-60 M Perkuat Alutsista Jajaran Koarmatim
Diunggah Oleh:
filereid12345678
pada Jumat, Mei 30, 2014
Panglima Komando Armada RI Kawasan Timur (Pangarmatim) Laksamana Muda TNI Sri Mohamad Darojatim menandatangani berita acara serah terima penyerahan Kapal Cepat Rudal (KCR)-60 M Ke-1 KRI Sampari-628 yang berlangsung di Dermaga Divisi Kapal Perang PT. PAL Indonesia Ujung Surabaya, Rabu (28/5). Kapal perang tersebut akan memperkuat Alutsista jajaran Satuan Kapal Cepat (Satkat) Koarmatim, dengan komandan kapal Letkol Laut (P) Hreesang Wisanggeni.
Selain meresmikan KRI Sampari-628, dilaksanakan juga peluncuran KCR-60 M sebagai pesanan TNI AL yang ke dua. Sebagai acara simbolis peresmian KRI Sampari-628, Menhan RI Dr. Purnomo Yusgiantoro dengan didampingi Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Dr. Marsetio, Asrena Kasal Laksamana Muda TNI Agung Pramono, S.H, M.Hum, Aslog Kasal Laksamana Muda TNI Suyitno, S.Pi., M.M, Pangarmatim Laksamana Muda TNI Sri Mohamad Darojatim dan pejabat lainnya melaksanakan pemotongan tali kendi yang diiringi lagu Padamu Negeri, sebagai simbul resminya KRI Sampari-628 bergabung dengan Armada TNI Angkatan Laut.
TNI AL bekerja sama dengan PT. PAL untuk membangun tiga unit kapal KCR-60 M, satu diantaranya adalah KRI Sampari-628 yang telah selesai dikerjakan. Hal tersebut merupakan upaya guna membangun kemandirian pemenuhan Alutsista sesuai dengan Undang-Undang nomor 16 tahun 2012 tentang Industri Pertahanan.
Kapal jenis KCR-60 M disesain memiliki kemampuan olah gerak yang tinggi. Lincah dalam menempati posisi tembak, dan mampu melaksanakan penghindaran dari pukulan balasan lawan. Selain itu, kapal jenis ini juga memiliki ketahanan bernavigasi dalam segala cuaca, hingga sea state 6.
Nama "Sampari" diambil dari nama senjata tajam sejenis keris yang digunakan oleh kaum laki-laki pada suku Mbojo, Dompu, Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), guna menjaga dan membela diri. Nama Sampari ini diabadikan sebagai kapal perang TNI AL dengan harapan semangat dalam menjaga dan membela kedaulatan NKRI dapat terus berkibar.
KCR-60 M memiliki panjang 60 meter, lebar 8.10 meter, berat muatan penuh 460 ton, kecepatan berlayar 15 knot, kecepatan jelajah 20 knot max 28 knot. Kapal ini dipersenjatai meriam dan peluncur rudal, dengan jumlah awak kapal 55 orang. (TNI)
![]() |
| Kapal Cepat Rudal (KCR)-60 M (KRI Sampari-628) |
Selain meresmikan KRI Sampari-628, dilaksanakan juga peluncuran KCR-60 M sebagai pesanan TNI AL yang ke dua. Sebagai acara simbolis peresmian KRI Sampari-628, Menhan RI Dr. Purnomo Yusgiantoro dengan didampingi Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Dr. Marsetio, Asrena Kasal Laksamana Muda TNI Agung Pramono, S.H, M.Hum, Aslog Kasal Laksamana Muda TNI Suyitno, S.Pi., M.M, Pangarmatim Laksamana Muda TNI Sri Mohamad Darojatim dan pejabat lainnya melaksanakan pemotongan tali kendi yang diiringi lagu Padamu Negeri, sebagai simbul resminya KRI Sampari-628 bergabung dengan Armada TNI Angkatan Laut.
TNI AL bekerja sama dengan PT. PAL untuk membangun tiga unit kapal KCR-60 M, satu diantaranya adalah KRI Sampari-628 yang telah selesai dikerjakan. Hal tersebut merupakan upaya guna membangun kemandirian pemenuhan Alutsista sesuai dengan Undang-Undang nomor 16 tahun 2012 tentang Industri Pertahanan.
Kapal jenis KCR-60 M disesain memiliki kemampuan olah gerak yang tinggi. Lincah dalam menempati posisi tembak, dan mampu melaksanakan penghindaran dari pukulan balasan lawan. Selain itu, kapal jenis ini juga memiliki ketahanan bernavigasi dalam segala cuaca, hingga sea state 6.
Nama "Sampari" diambil dari nama senjata tajam sejenis keris yang digunakan oleh kaum laki-laki pada suku Mbojo, Dompu, Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), guna menjaga dan membela diri. Nama Sampari ini diabadikan sebagai kapal perang TNI AL dengan harapan semangat dalam menjaga dan membela kedaulatan NKRI dapat terus berkibar.
KCR-60 M memiliki panjang 60 meter, lebar 8.10 meter, berat muatan penuh 460 ton, kecepatan berlayar 15 knot, kecepatan jelajah 20 knot max 28 knot. Kapal ini dipersenjatai meriam dan peluncur rudal, dengan jumlah awak kapal 55 orang. (TNI)
28 Mei, 2014
Indonesia Berpeluang untuk Dapatkan Kapal Selam Canggih dari Perancis
Diunggah Oleh:
filereid12345678
pada Rabu, Mei 28, 2014
Pemerintah Indonesia dan Perancis dalam suatu forum bilateral “Indonesian-French Defense SMEs Bilateral Forum (First Edition)” membahas kemungkinan Indonesia untuk mendapatkan kapal selam dengan teknologi yang sangat canggih (sophisticated). Hari pertama forum bilateral, Rabu (21/5), diisi dengan seminar tentang “Peluang Kerjasama Industri Pertahanan Indonesia-Perancis dan pembahasan atau diskusi mengenai kapal selam litoral dalam waktu bersamaan (paralel)”.
Untuk itulah forum bilateral ini diselenggarakan untuk mengkaji dengan seksama segala kemungkinan teknologi kapal selam litoral ini dalam menutup celah pertahanan Indonesia yang berkaitan dengan peta dan kondisi perairan Indonesia. Apakah memang harus menggunakan kapal selam dalam menjaga laut dangkal atau cukup dengan sarana pertahanan yang lain?
Mengingat dua pertiga wilayah Indonesia adalah perairan, pengetahuan tentang hal-hal yang berhubungan dengan pemetaan laut adalah esensial. Bagaimana keadaan hidrografi, tingkat kedalaman, kuat dan arah arus setiap musim dan perubahannya harus dipelajari dengan seksama dalam konteks pertahanan.
Hal ini akam melahirkan operation requirement baik untuk laut dangkal dan laut dalam. Misalnya laut yang dangkal akan menuntut kelincahan atau manuver dari kapal selam untuk menghindari pemantauan atau deteksi dari udara sehingga timbullah kekhususan operasional. Oleh karena itu maka dalam menghitung postur kemampuan perang tidak hanya berdasarkan kekuatan an sich tetapi juga berdasarkan kemampuan dan gelar.
Sementara itu ketua delegasi Perancis Admiral (Navy) Jean Claudelle dalam kesempatan tersebut menyatakan bahwa Perancis merupakan salah satu negara di Eropa yang sangat mendukung industri pertahanan yang berdasarakan pada sistem pertahanan otonomi dan kedaulatan. Dalam 50 tahun terakhir ini bidang industri dan peralatan pertahanan serta persenjataan Perancis menjadi hal yang sangat penting.
Hal ini memberikan peluang bagi pemerintah Perancis dan industri pertahanannya kemampuan untuk mengembangkan peralatan dan semua spesifikasi operasionalnya seperti untuk angkatan laut, angkatan udara, helikopter, satelit, missile antar negara dan antar benua.
Seperti diketahui kekuatan persenjataan dan pertahanan Perancis saat ini tersebar di Afrika Selatan, Mali, Guinea dan benua Afrika secara otonom dengan mitra atau partner Perancis tanpa melibatkan kekuatan besar atau super power lainnya. Kemampuan ini menjadi suatu hal yang unik di benua Eropa. Diharapkan hal ini dapat menarik Indonesia sebagai partner Perancis yang menganggap kedaulatan wilayah sebagai sesuatu yang penting.
Seminar yang diselenggarakan Kemhan RI dan The French Defense Procurement Agency (DGA) diikuti oleh berbagai perusahaan yang bergerak di bidang industri pertahanan Perancis seperti Airbus Helicopters, DCNS, EADS, MBDA Missile Systems, Thales dan perusahaan terkemuka Perancis lainnya. Pada hari kedua rangkaian kegiatan, Kamis (22/5), delegasi peserta dari Perancis bertolak ke Bandung untuk mengunjungi PT Pindad dan PT Dirgantara Indonesia. (DMC)
Untuk itulah forum bilateral ini diselenggarakan untuk mengkaji dengan seksama segala kemungkinan teknologi kapal selam litoral ini dalam menutup celah pertahanan Indonesia yang berkaitan dengan peta dan kondisi perairan Indonesia. Apakah memang harus menggunakan kapal selam dalam menjaga laut dangkal atau cukup dengan sarana pertahanan yang lain?
Mengingat dua pertiga wilayah Indonesia adalah perairan, pengetahuan tentang hal-hal yang berhubungan dengan pemetaan laut adalah esensial. Bagaimana keadaan hidrografi, tingkat kedalaman, kuat dan arah arus setiap musim dan perubahannya harus dipelajari dengan seksama dalam konteks pertahanan.
Hal ini akam melahirkan operation requirement baik untuk laut dangkal dan laut dalam. Misalnya laut yang dangkal akan menuntut kelincahan atau manuver dari kapal selam untuk menghindari pemantauan atau deteksi dari udara sehingga timbullah kekhususan operasional. Oleh karena itu maka dalam menghitung postur kemampuan perang tidak hanya berdasarkan kekuatan an sich tetapi juga berdasarkan kemampuan dan gelar.
Sementara itu ketua delegasi Perancis Admiral (Navy) Jean Claudelle dalam kesempatan tersebut menyatakan bahwa Perancis merupakan salah satu negara di Eropa yang sangat mendukung industri pertahanan yang berdasarakan pada sistem pertahanan otonomi dan kedaulatan. Dalam 50 tahun terakhir ini bidang industri dan peralatan pertahanan serta persenjataan Perancis menjadi hal yang sangat penting.
Hal ini memberikan peluang bagi pemerintah Perancis dan industri pertahanannya kemampuan untuk mengembangkan peralatan dan semua spesifikasi operasionalnya seperti untuk angkatan laut, angkatan udara, helikopter, satelit, missile antar negara dan antar benua.
Seperti diketahui kekuatan persenjataan dan pertahanan Perancis saat ini tersebar di Afrika Selatan, Mali, Guinea dan benua Afrika secara otonom dengan mitra atau partner Perancis tanpa melibatkan kekuatan besar atau super power lainnya. Kemampuan ini menjadi suatu hal yang unik di benua Eropa. Diharapkan hal ini dapat menarik Indonesia sebagai partner Perancis yang menganggap kedaulatan wilayah sebagai sesuatu yang penting.
Seminar yang diselenggarakan Kemhan RI dan The French Defense Procurement Agency (DGA) diikuti oleh berbagai perusahaan yang bergerak di bidang industri pertahanan Perancis seperti Airbus Helicopters, DCNS, EADS, MBDA Missile Systems, Thales dan perusahaan terkemuka Perancis lainnya. Pada hari kedua rangkaian kegiatan, Kamis (22/5), delegasi peserta dari Perancis bertolak ke Bandung untuk mengunjungi PT Pindad dan PT Dirgantara Indonesia. (DMC)
Ini Dia Produk-produk Militer yang akan Dibuat RI di Masa Depan
Diunggah Oleh:
filereid12345678
pada Rabu, Mei 28, 2014
Kementerian Pertahanan (Kemenhan) menggandeng Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk mengembangkan Alat Utama Sistem Persenjataan (Alutsista) di masa depan. Langkah ini untuk menciptakan kemandirian pemenuhan alutsista dari industri pertahanan dalam negeri.

Staf Ahli Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) Badan Kerjasama dan Hubungan Antar Lembaga Silmy Karim mengatakan pemerintah Indonesia memiliki 7 program penguasaan alutsista. Program tersebut sedang dan terus berlangsung, termasuk melibatkan negara asing dan BUMN Indonesia.
"Jadi program nasional ada 7. Pertama produksi propelan (bahan baku roket), tank (medium), kapal selam, IFX (jet tempur), misil, roket, fregate. Itu 7 program masih berjalan," kata Silmy di Kementerian Pertahanan Jakarta, Senin (26/5/2014).
BUMN strategis yang digandeng antara lain: PT Dahana (Persero), PT PAL (Persero), PT Pindad (Persero), PT Dirgantara Indonesia (Persero) hingga PT LEN (Persero). Upaya menggandeng BUMN agar ada transfer teknologi dari negara mitra terhadap BUMN strategis.
Pengembangan alutsista di dalam negeri juga memiliki banyak manfaat. Disamping menghidupkan industri pertahanan dalam negeri, juga mampu menghemat devisa dan pajak akibat impor alutsista per tahun.
"Yang jelas anggaran pertahanan kisarannya meningkat terus. Setidaknya 30% untuk belanja alutsista. Keunggulan lain dari sektor pajak, alih teknologi, penguasaan SDM, kemudian kemandirian alutsista," jelasnya.
Produk-produk yang dikembangkan dan sedang berjalan seperti medium tank. Pengembangan medium tank ini melibatkan PT Pindad dan pemerintah Turki. Turki dinilai memiliki kapasitas mengembangkan dan memproduksi medium tank canggih.
"Ini progres dengan Turki. Turki punya ahli. Dia punya perusahaan ahli bikin tank," jelasnya.
Sedangkan untuk kapal perang, RI melalui PAL menggandeng perusahaan Belanda mengembangkan dan memproduksi kapal jenis Perusak Kawal Rudal (PKR) atau Fregate. PAL juga berkerjasama dengan Korea Selatan mengembangkan dan memproduksi kapal selam di Surabaya, Jawa Timur.
Selain kapal, program lainnya adalah pengembangan jet tempur. Untuk pengembangan ini, Indonesia menggendeng Korea Selatan. Program tersebut bernama Korea Fighter experiment/Indonesia Fighter experiment (KFX/IFX). Pesawat tempur ini merupakan generasi 4.5 atau pesaing dari F16 versi terbaru. Pengembangan ini melibatkan PT Dirgantara Indonesia. (Detik)

Staf Ahli Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) Badan Kerjasama dan Hubungan Antar Lembaga Silmy Karim mengatakan pemerintah Indonesia memiliki 7 program penguasaan alutsista. Program tersebut sedang dan terus berlangsung, termasuk melibatkan negara asing dan BUMN Indonesia.
"Jadi program nasional ada 7. Pertama produksi propelan (bahan baku roket), tank (medium), kapal selam, IFX (jet tempur), misil, roket, fregate. Itu 7 program masih berjalan," kata Silmy di Kementerian Pertahanan Jakarta, Senin (26/5/2014).
BUMN strategis yang digandeng antara lain: PT Dahana (Persero), PT PAL (Persero), PT Pindad (Persero), PT Dirgantara Indonesia (Persero) hingga PT LEN (Persero). Upaya menggandeng BUMN agar ada transfer teknologi dari negara mitra terhadap BUMN strategis.
Pengembangan alutsista di dalam negeri juga memiliki banyak manfaat. Disamping menghidupkan industri pertahanan dalam negeri, juga mampu menghemat devisa dan pajak akibat impor alutsista per tahun.
"Yang jelas anggaran pertahanan kisarannya meningkat terus. Setidaknya 30% untuk belanja alutsista. Keunggulan lain dari sektor pajak, alih teknologi, penguasaan SDM, kemudian kemandirian alutsista," jelasnya.
Produk-produk yang dikembangkan dan sedang berjalan seperti medium tank. Pengembangan medium tank ini melibatkan PT Pindad dan pemerintah Turki. Turki dinilai memiliki kapasitas mengembangkan dan memproduksi medium tank canggih.
"Ini progres dengan Turki. Turki punya ahli. Dia punya perusahaan ahli bikin tank," jelasnya.
Sedangkan untuk kapal perang, RI melalui PAL menggandeng perusahaan Belanda mengembangkan dan memproduksi kapal jenis Perusak Kawal Rudal (PKR) atau Fregate. PAL juga berkerjasama dengan Korea Selatan mengembangkan dan memproduksi kapal selam di Surabaya, Jawa Timur.
Selain kapal, program lainnya adalah pengembangan jet tempur. Untuk pengembangan ini, Indonesia menggendeng Korea Selatan. Program tersebut bernama Korea Fighter experiment/Indonesia Fighter experiment (KFX/IFX). Pesawat tempur ini merupakan generasi 4.5 atau pesaing dari F16 versi terbaru. Pengembangan ini melibatkan PT Dirgantara Indonesia. (Detik)
Pabrik Baru Dahana Produksi 1.500 Ton Amunisi/Tahun
Diunggah Oleh:
filereid12345678
pada Rabu, Mei 28, 2014
Staf Ahli Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) Bidang Kerjasama dan Hubungan Antar Lembaga Silmy Karim mengatakan, dengan adanya pembangunan pabrik propelan pertama di Indonesia yang dilakukan oleh PT Dahana (Persero) melalui kerja sama dengan Eurenco dan Roxel yang berasal dari Prancis. Mampu menghemat devisa sebesar Rp1 triliun per tahunnya.
"Penghematannya jelas signifikan, kurang lebih kalau diperkirakan dengan proyeksi 5 tahun ke depan mendekati angka Rp1 triliun per tahunnya, sehingga ini salah satu hal yang istimewa," kata Silmy usai konferensi pers di Balai Media Kementerian Pertahanan, Jakarta, Senin (26/5/2014).
Silmy menjelaskan, selama ini Indonesia untuk mendapatkan bahan baku persenjataan atau propelan dilakukan dengan cara 100 persen impor dari negara Belgia.
"Selama ini kita impor dari Belgia, kita berharapkan kemandirian. Betul 100 persen kita impor," tambahnya.
Oleh karena itu, dengan adanya pabrik propelan yang pertama di Indonesia ini, ditujukan sebagai melengkapi kebutuhan dalam negeri akan amunisi persenjataan yang setiap tahunnya terus mengalami peningkatan kebutuhan.
"Untuk memenuhi kebutuhan Indonesia lima tahun ke depan, sesuai dengan rencana strategis yang ditetapkan Kemenhan. Ini semakin hari semakin baik lah prosesnya," tukas dia.
Alasan Pembangunan Pabrik Propelan di Subang
Kementerian Pertahanan (Kemenhan) baru saja menjadi saksi penandatanganan nota kesepahaman (MoU) bersama yang dilakukan oleh PT Dahana (Persero) dengan Eurenco dan Roxel yang berasal dari Prancis. Penandatanganan kerjasama ini mengenai pembangunan pabrik propelan di Subang, Jawa Barat.
Direktur Utama PT Dahana (Persero), Harry Sampurno mengungkapkan alasan mengapa pemerintah setuju pembangunan pabrik propelan tersebut di area sekitar perusahaan Dahana.
"Kebetulan Subang itu sudah disiapkan sejak 20 tahun, kenapa subang karena infrastrukturnya terbangun," kata Harry di Balai Media Kementerian Pertahanan, Jakarta, Senin (26/5/2014).
Tidak hanya infrastruktur, pemilihan Subang sebagai lokasi dibangunnya pabrik propelan ini juga lantaran terpaku dengan bahan baku dasar yang lain, sudah tersedia, dan tidak bisa dilakur atau pemindahan ke lokasi lain.
"Ada komponen bahan baku seperti asam nitrat 98 persen yang tidak ditransfer dan tidak bisa diimpor, makanya kita bangun disana (Subang)," tambahnya.
Menurut Harry, dirinya sama sekali tidak mengkhawatirkan soal defisit listrik yang akan terjadi di Pulau Jawa. Dirinya mengungkapkan, pembangunan pabrik propelan ini tidak banyak menghabiskan energi listrik.
"Energi listriknya tidak terlalu besar, dan kita menggunakan PLTA jati besar yang 2 tahun lagi, dan Subang yang 10 tahun lagi selesai," ungkapnya.
Tidak hanya itu, pemilihan dua perusahaan asal Prancis ini juga lantaran pada 2011 silam sudah melakukan kerjasama yang konteksnya lebih besar dibandingkan perjanjian pembangunan pabrik.
"Kita juga melihatnya karena mereka itu pemilik teknologi yang tercanggih," tukas dia.
Pabrik Baru Dahana Produksi 1.500 Ton Amunisi/Tahun
PT Dahana (Persero) ditunjuk oleh pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertahanan (Kemenhan) untuk membangun pabrik propelan atau bahan baku amunisi persenjataan Indonesia.
Direktur Utama PT Dahana (Persero), Harry Sampurno mengungkapkan, pabrik propelan yang dibangun di luas lahan 50 hektare serta membutuhkan investasi sekitar 400 juta euro, diproyeksikan akan mampu memproduksi propelan 1.500 ton setiap tahunnya.
"Kapasitasnya 1.500 ton per tahun," kata Harry usai konferensi pers di Balai Media Kementerian Pertahanan, Jakarta, Senin (26/5/2014).
Harry mengungkapkan, pembangunan pabrik propelan ini merupakan sebagai pabrik propelan pertama yang dimiliki Indonesia. "Pabrik ini kita sudah bercita-cita dari 20 tahun lalu," tambahnya.
Harry mengungkapkan, meski terbilang sebagai pabrik propelan pertama di Indonesia, akan tetapi dirinya tidak menutup kemungkinan untuk melakukan ekspor propelan kepada negara lain yang membutuhkan.
"Kalau lebih diserap kesemua negara yang produksi peluru," tukas dia.
Diketahui, Kementerian Pertahanan (Kemenhan) baru saja menjadi saksi penandatanganan nota kesepahaman (MoU) bersama yang dilakukan oleh PT Dahana (Persero) dengan Eurenco dan Roxel yang berasal dari Francis. Penandatanganan kerjasama ini mengenai pembangunan pabrik propelan di Subang, Jawa Barat.
Adapun, penandatanganan MoU pembangunan pabrik propelan ini dilakukan oleh Direktur Utama PT Dahana (Persero) Harry Sampurno, Senior VP Bussines Development Jean Claude dan CEO Roxel France Jacques Desclaux yang disaksikan oleh Plt. Dirjen Pothan Kemhan Timbul Siahaan, Direktur Teknologi Industri Pertahanan (Dirtekindhan) Kemhan Brigjen TNI Zaelan Arifin, dan Staf Ahli Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) Bidang Kerjasama dan Hubungan Antar Lembaga, Silmy Karim. (Okezone)
"Penghematannya jelas signifikan, kurang lebih kalau diperkirakan dengan proyeksi 5 tahun ke depan mendekati angka Rp1 triliun per tahunnya, sehingga ini salah satu hal yang istimewa," kata Silmy usai konferensi pers di Balai Media Kementerian Pertahanan, Jakarta, Senin (26/5/2014).
Silmy menjelaskan, selama ini Indonesia untuk mendapatkan bahan baku persenjataan atau propelan dilakukan dengan cara 100 persen impor dari negara Belgia.
"Selama ini kita impor dari Belgia, kita berharapkan kemandirian. Betul 100 persen kita impor," tambahnya.
Oleh karena itu, dengan adanya pabrik propelan yang pertama di Indonesia ini, ditujukan sebagai melengkapi kebutuhan dalam negeri akan amunisi persenjataan yang setiap tahunnya terus mengalami peningkatan kebutuhan.
"Untuk memenuhi kebutuhan Indonesia lima tahun ke depan, sesuai dengan rencana strategis yang ditetapkan Kemenhan. Ini semakin hari semakin baik lah prosesnya," tukas dia.
Alasan Pembangunan Pabrik Propelan di Subang
Kementerian Pertahanan (Kemenhan) baru saja menjadi saksi penandatanganan nota kesepahaman (MoU) bersama yang dilakukan oleh PT Dahana (Persero) dengan Eurenco dan Roxel yang berasal dari Prancis. Penandatanganan kerjasama ini mengenai pembangunan pabrik propelan di Subang, Jawa Barat.
Direktur Utama PT Dahana (Persero), Harry Sampurno mengungkapkan alasan mengapa pemerintah setuju pembangunan pabrik propelan tersebut di area sekitar perusahaan Dahana.
"Kebetulan Subang itu sudah disiapkan sejak 20 tahun, kenapa subang karena infrastrukturnya terbangun," kata Harry di Balai Media Kementerian Pertahanan, Jakarta, Senin (26/5/2014).
Tidak hanya infrastruktur, pemilihan Subang sebagai lokasi dibangunnya pabrik propelan ini juga lantaran terpaku dengan bahan baku dasar yang lain, sudah tersedia, dan tidak bisa dilakur atau pemindahan ke lokasi lain.
"Ada komponen bahan baku seperti asam nitrat 98 persen yang tidak ditransfer dan tidak bisa diimpor, makanya kita bangun disana (Subang)," tambahnya.
Menurut Harry, dirinya sama sekali tidak mengkhawatirkan soal defisit listrik yang akan terjadi di Pulau Jawa. Dirinya mengungkapkan, pembangunan pabrik propelan ini tidak banyak menghabiskan energi listrik.
"Energi listriknya tidak terlalu besar, dan kita menggunakan PLTA jati besar yang 2 tahun lagi, dan Subang yang 10 tahun lagi selesai," ungkapnya.
Tidak hanya itu, pemilihan dua perusahaan asal Prancis ini juga lantaran pada 2011 silam sudah melakukan kerjasama yang konteksnya lebih besar dibandingkan perjanjian pembangunan pabrik.
"Kita juga melihatnya karena mereka itu pemilik teknologi yang tercanggih," tukas dia.
Pabrik Baru Dahana Produksi 1.500 Ton Amunisi/Tahun
PT Dahana (Persero) ditunjuk oleh pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertahanan (Kemenhan) untuk membangun pabrik propelan atau bahan baku amunisi persenjataan Indonesia.
Direktur Utama PT Dahana (Persero), Harry Sampurno mengungkapkan, pabrik propelan yang dibangun di luas lahan 50 hektare serta membutuhkan investasi sekitar 400 juta euro, diproyeksikan akan mampu memproduksi propelan 1.500 ton setiap tahunnya.
"Kapasitasnya 1.500 ton per tahun," kata Harry usai konferensi pers di Balai Media Kementerian Pertahanan, Jakarta, Senin (26/5/2014).
Harry mengungkapkan, pembangunan pabrik propelan ini merupakan sebagai pabrik propelan pertama yang dimiliki Indonesia. "Pabrik ini kita sudah bercita-cita dari 20 tahun lalu," tambahnya.
Harry mengungkapkan, meski terbilang sebagai pabrik propelan pertama di Indonesia, akan tetapi dirinya tidak menutup kemungkinan untuk melakukan ekspor propelan kepada negara lain yang membutuhkan.
"Kalau lebih diserap kesemua negara yang produksi peluru," tukas dia.
Diketahui, Kementerian Pertahanan (Kemenhan) baru saja menjadi saksi penandatanganan nota kesepahaman (MoU) bersama yang dilakukan oleh PT Dahana (Persero) dengan Eurenco dan Roxel yang berasal dari Francis. Penandatanganan kerjasama ini mengenai pembangunan pabrik propelan di Subang, Jawa Barat.
Adapun, penandatanganan MoU pembangunan pabrik propelan ini dilakukan oleh Direktur Utama PT Dahana (Persero) Harry Sampurno, Senior VP Bussines Development Jean Claude dan CEO Roxel France Jacques Desclaux yang disaksikan oleh Plt. Dirjen Pothan Kemhan Timbul Siahaan, Direktur Teknologi Industri Pertahanan (Dirtekindhan) Kemhan Brigjen TNI Zaelan Arifin, dan Staf Ahli Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) Bidang Kerjasama dan Hubungan Antar Lembaga, Silmy Karim. (Okezone)
22 Mei, 2014
BJ Habibie Sempat Rancang Program Satelit Buatan Indonesia
Diunggah Oleh:
filereid12345678
pada Kamis, Mei 22, 2014
Baru-baru ini, salah satu bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Indonesia membeli satelit dari luar negeri. Proses pengembangan dan produksi tersebut dilakukan di luar negeri tanpa campur tangan tenaga ahli dan perusahaan Indonesia.
Padahal pada era 1980-an, pemerintah melalui PT Dirgantara Indonesia (PTDI) telah memiliki divisi khusus untuk merancang dan mengembangkan satelit buatan Indonesia. Pada masa itu, PTDI dipimpin oleh Menristek BJ Habibie. Ia membangun fasilitas pengembangan satelit hingga menyekolahkan puluhan putra-putri terbaik Indonesia ke luar negeri untuk belajar teknologi satelit.
“Itu kebanyakan angkatan saya. Itu yang pernah training di Los Angeles. Kita belajar bikin badannya. Ada 30 orang. Dia sekolah ambil degree (gelar), ada yang nggak. Saya pernah ikutan,” kata Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia (Persero) Budi Santoso kepada detikFinance saat ditemui di Gedung DPR RI, Jakarta Selasa (20/5/2014).
Program pengembangan satelit dilakukan dengan konsep transfer teknologi. Ketika proses produksi awal dilakukan di luar negeri proses selanjutnya dilakukan di Indonesia dengan memanfaatkan kemampuan insinyur dan komponen lokal. Sayangnya program tersebut berhenti di tengah jalan.
“Itu baru diajarin bagaimana cara bikin. Waktu mau bikin programnya berhenti. Saat mau produksi berhenti,” katanya.
Akibat berhentinya program pengembangan satelit di Indonesia, hingga saat ini tak satupun ada keterlibatan industri strategis nasional dalam mengembangkan satelit.
Kini, para tenaga ahli asal Indonesia yang pernah disekolahkan BJ Habibie, bekerja ke perusahaan-perusahaan pembuat satelit dunia.
“Mereka sudah bekerja di perusahaan satelit dunia. Kalau disuruh balik ke sini, saya nggak kuat bayar,” katanya.
Budi menjelaskan pengembangan industri satelit di Indonesia tidak terlepas dari dukungan pemerintah. Pemerintah harus konsisten dalam mendukung dan menjalankan program pengembangan teknologi satelit nasional.
“Katakanlah ada program 6 satelit ke depan. Itu pemerintah katakan harus beli dari situ. Ya memang harus konsisten. Kalau itu harus ditender ya susah. Kalau satelit biarpun namanya sama tapi setiap orang punya cara sendiri. Besok ambil teknologi Amerika, Prancis terus Rusia. Ya nggak jadi-jadi,” paparnya. (Detik)
Padahal pada era 1980-an, pemerintah melalui PT Dirgantara Indonesia (PTDI) telah memiliki divisi khusus untuk merancang dan mengembangkan satelit buatan Indonesia. Pada masa itu, PTDI dipimpin oleh Menristek BJ Habibie. Ia membangun fasilitas pengembangan satelit hingga menyekolahkan puluhan putra-putri terbaik Indonesia ke luar negeri untuk belajar teknologi satelit.
“Itu kebanyakan angkatan saya. Itu yang pernah training di Los Angeles. Kita belajar bikin badannya. Ada 30 orang. Dia sekolah ambil degree (gelar), ada yang nggak. Saya pernah ikutan,” kata Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia (Persero) Budi Santoso kepada detikFinance saat ditemui di Gedung DPR RI, Jakarta Selasa (20/5/2014).
Program pengembangan satelit dilakukan dengan konsep transfer teknologi. Ketika proses produksi awal dilakukan di luar negeri proses selanjutnya dilakukan di Indonesia dengan memanfaatkan kemampuan insinyur dan komponen lokal. Sayangnya program tersebut berhenti di tengah jalan.
“Itu baru diajarin bagaimana cara bikin. Waktu mau bikin programnya berhenti. Saat mau produksi berhenti,” katanya.
Akibat berhentinya program pengembangan satelit di Indonesia, hingga saat ini tak satupun ada keterlibatan industri strategis nasional dalam mengembangkan satelit.
Kini, para tenaga ahli asal Indonesia yang pernah disekolahkan BJ Habibie, bekerja ke perusahaan-perusahaan pembuat satelit dunia.
“Mereka sudah bekerja di perusahaan satelit dunia. Kalau disuruh balik ke sini, saya nggak kuat bayar,” katanya.
Budi menjelaskan pengembangan industri satelit di Indonesia tidak terlepas dari dukungan pemerintah. Pemerintah harus konsisten dalam mendukung dan menjalankan program pengembangan teknologi satelit nasional.
“Katakanlah ada program 6 satelit ke depan. Itu pemerintah katakan harus beli dari situ. Ya memang harus konsisten. Kalau itu harus ditender ya susah. Kalau satelit biarpun namanya sama tapi setiap orang punya cara sendiri. Besok ambil teknologi Amerika, Prancis terus Rusia. Ya nggak jadi-jadi,” paparnya. (Detik)
PTDI Rancang Helikopter Khusus Anti Kapal Selam
Diunggah Oleh:
filereid12345678
pada Kamis, Mei 22, 2014
Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pabrikan pesawat dan helikopter, PT Dirgantara Indonesia (PTDI) mampu merancang konsep helikopter super canggih. PTDI memiliki rancangan helikopter yang dilengkapi teknologi sonar anti kapal selam. Sonar ini mampu mendeteksi keberadaan kapal selam.
“Karena ini konsep dari PTDI jadi yang copy right atau hak cipta adalah PTDI,” kata Direktur Utama PTDI (Persero) Budi Santoso kepada detikFinance saat ditemui di Gedung DPR RI, Jakarta Selasa (20/5/2014)
Pengembangan helikopter ini bermula ketika TNI AL ingin memiliki helikopter super canggih namun harus berukuran relatif kecil dan bisa mendarat di kapal perang tipe Frigate terbaru. Alhasil PTDI mencari cara agar bisa membuat helikopter berukuran sedang yang bisa mendarat di deck kapal perang namun mampu memiliki teknologi anti kapal selam.
Biasanya teknologi kapal selam ini ditemui dan terpasang pada helikpter berukuran besar. PTDI menggandeng produsen helikopter yakni Eurocopter dan produsen sonar dunia untuk memproduksi helikopter medium dengan teknologi sonar anti kapal selam. Proses merancang helikopter ini memerlukan waktu 2 tahun.
“Waktu kita (pemerintah) beli kapal Fregate buatan Belanda. Itu yang sudah datang. Itu deck load hanya 5 ton jadi kita harus cari helikopter bobot 5 ton dengan senjata yang canggih. Orang mengatakan saya punya sonar bagus tapi helikopternya yang gede-gede. Nggak mungkin (untuk heli sedang). Akhirnya pakai sonar kelas lebih rendah. Kalau sonar long range itu frekuensi rendah. Dia antene gede,” terangnya.
Akhirnya lahir helikopter pertama di kelas medium yang memiliki teknologi sonar anti kapal selam. Teknologi ini dikembangkan pada jenis Helikopter AS565 Panther. Meski tidak memproduksi helikopter dan sonar, namun PTDI memiliki hak cipta rancangan helikopter AS565 Panther dengan teknologi sonar anti kapal selam tersebut.
“Buat kami ini pertama. Bagi pabrik helikopter ide pertama dan ternyata feasible untuk dikerjakan. Yang bikin sonar, dia bilang ini pertama kali dia akan pasang sonar di helikopter ini (medium),” ujarnya.
Helikopter AS 565 Panther telah dipesan TNI AL sebanyak 11 unit. Dari 11 unit tersebut, sebanyak 2 unit dilengkapi teknologi sonar anti kapal selam dan 9 tidak dilengkapi namun memiliki kemampuan untuk sewaktu-waktu dipasang teknologi anti kapal selam.
“Tahap pertama 11, namun yang pakai sonar ada 2. Itu delivery terakhir,” tegasnya. (Detik)
“Karena ini konsep dari PTDI jadi yang copy right atau hak cipta adalah PTDI,” kata Direktur Utama PTDI (Persero) Budi Santoso kepada detikFinance saat ditemui di Gedung DPR RI, Jakarta Selasa (20/5/2014)
Pengembangan helikopter ini bermula ketika TNI AL ingin memiliki helikopter super canggih namun harus berukuran relatif kecil dan bisa mendarat di kapal perang tipe Frigate terbaru. Alhasil PTDI mencari cara agar bisa membuat helikopter berukuran sedang yang bisa mendarat di deck kapal perang namun mampu memiliki teknologi anti kapal selam.
Biasanya teknologi kapal selam ini ditemui dan terpasang pada helikpter berukuran besar. PTDI menggandeng produsen helikopter yakni Eurocopter dan produsen sonar dunia untuk memproduksi helikopter medium dengan teknologi sonar anti kapal selam. Proses merancang helikopter ini memerlukan waktu 2 tahun.
“Waktu kita (pemerintah) beli kapal Fregate buatan Belanda. Itu yang sudah datang. Itu deck load hanya 5 ton jadi kita harus cari helikopter bobot 5 ton dengan senjata yang canggih. Orang mengatakan saya punya sonar bagus tapi helikopternya yang gede-gede. Nggak mungkin (untuk heli sedang). Akhirnya pakai sonar kelas lebih rendah. Kalau sonar long range itu frekuensi rendah. Dia antene gede,” terangnya.
Akhirnya lahir helikopter pertama di kelas medium yang memiliki teknologi sonar anti kapal selam. Teknologi ini dikembangkan pada jenis Helikopter AS565 Panther. Meski tidak memproduksi helikopter dan sonar, namun PTDI memiliki hak cipta rancangan helikopter AS565 Panther dengan teknologi sonar anti kapal selam tersebut.
“Buat kami ini pertama. Bagi pabrik helikopter ide pertama dan ternyata feasible untuk dikerjakan. Yang bikin sonar, dia bilang ini pertama kali dia akan pasang sonar di helikopter ini (medium),” ujarnya.
Helikopter AS 565 Panther telah dipesan TNI AL sebanyak 11 unit. Dari 11 unit tersebut, sebanyak 2 unit dilengkapi teknologi sonar anti kapal selam dan 9 tidak dilengkapi namun memiliki kemampuan untuk sewaktu-waktu dipasang teknologi anti kapal selam.
“Tahap pertama 11, namun yang pakai sonar ada 2. Itu delivery terakhir,” tegasnya. (Detik)
Dua Tahun Lagi RI Bakal Punya Tank Medium Buatan Sendiri
Diunggah Oleh:
filereid12345678
pada Kamis, Mei 22, 2014
Industri lokal telah mampu memasok Alat Utama Sistem Persenjataan (Alutsista) berteknologi modern. BUMN produsen kendaraan tempur dan senjata, PT Pindad (Persero) yang berbasis di Bandung, Jawa Barat salah satu yang mampu melakukannya.
Produk unggulan Pindad yang sukses dan laris manis adalah panser ANOA 6X6. Sukses di kelas panser, Pindad melanjutkan inovasi pada kendaraan tempur beroda rantai alias tank. Pindad optimistis bisa melahirkan tank medium pada 2016.
“Harapannya bisa kuasai medium tank pada tahun 2016. Itu jenis canon. Itu yang dibutuhkan user adalah medium tank dengan bobot 25-30 ton,” kata Direktur Utama Pindad Tri Hardjono kepada detikFinance saat ditemui di DPR RI Senayan, Jakarta Selasa (20/5/2014).
Tri menyebutkan tank tersebut masuk kategori kendaraan tempur modern. “Kemampuan manuvernya tinggi, geraknya cepat, punya daya tembak lebih besar,” sebutnya.
Kemampuan Pindad mengembangkan tank tersebut tak lepas dari perjalanan panjang di industri pertahanan. Pindad berpengalaman merakit tank scorpion, mengembangkan prototipe tank, memodifikasi (retrofit) tank AMX-13 milik TNI hingga pengembangan produk tank bersama Turki.
Pengalaman dan kemampuan tersebut selanjutnya digunakan Pindad untuk melahirkan tank canggih asli karya putra-putri bangsa Indonesia. “Dengan 3 pengalaman ini. Kita juga sedang dimintakan lagi. Kita diminta kembangkan satu kendaraan medium tank bersama dengan Turki,” jelasnya.
Selain mengembangkan tank, Pindad juga akan meningkatkan kemampuan produk panser ANOA. Pada tahun 2015, Pindad akan memproduksi ANOA versi amphibi. Panser versi amphibi mampu dioperasikan di darat dan permukaan air.
“Ini APC (armoured personnel carrier), tapi Amphibi. 2014 kita punya prototipe dan 2015 itu kita jual,” jelasnya.
Tri menerangkan beberapa negara tertarik dan sedang menjajaki pembelian panser ANOA, salah satunya adalah Malaysia. “Malaysia berminat, kemudian Putra Mahkota Brunei berminat, ada negara di timur tengah berminat,” katanya. (Detik)
![]() |
| Prototipe Tank Buatan Pindad |
Produk unggulan Pindad yang sukses dan laris manis adalah panser ANOA 6X6. Sukses di kelas panser, Pindad melanjutkan inovasi pada kendaraan tempur beroda rantai alias tank. Pindad optimistis bisa melahirkan tank medium pada 2016.
“Harapannya bisa kuasai medium tank pada tahun 2016. Itu jenis canon. Itu yang dibutuhkan user adalah medium tank dengan bobot 25-30 ton,” kata Direktur Utama Pindad Tri Hardjono kepada detikFinance saat ditemui di DPR RI Senayan, Jakarta Selasa (20/5/2014).
Tri menyebutkan tank tersebut masuk kategori kendaraan tempur modern. “Kemampuan manuvernya tinggi, geraknya cepat, punya daya tembak lebih besar,” sebutnya.
Kemampuan Pindad mengembangkan tank tersebut tak lepas dari perjalanan panjang di industri pertahanan. Pindad berpengalaman merakit tank scorpion, mengembangkan prototipe tank, memodifikasi (retrofit) tank AMX-13 milik TNI hingga pengembangan produk tank bersama Turki.
Pengalaman dan kemampuan tersebut selanjutnya digunakan Pindad untuk melahirkan tank canggih asli karya putra-putri bangsa Indonesia. “Dengan 3 pengalaman ini. Kita juga sedang dimintakan lagi. Kita diminta kembangkan satu kendaraan medium tank bersama dengan Turki,” jelasnya.
Selain mengembangkan tank, Pindad juga akan meningkatkan kemampuan produk panser ANOA. Pada tahun 2015, Pindad akan memproduksi ANOA versi amphibi. Panser versi amphibi mampu dioperasikan di darat dan permukaan air.
“Ini APC (armoured personnel carrier), tapi Amphibi. 2014 kita punya prototipe dan 2015 itu kita jual,” jelasnya.
Tri menerangkan beberapa negara tertarik dan sedang menjajaki pembelian panser ANOA, salah satunya adalah Malaysia. “Malaysia berminat, kemudian Putra Mahkota Brunei berminat, ada negara di timur tengah berminat,” katanya. (Detik)
16 Mei, 2014
PT DI Dapatkan ToT Pesawat CN-295 Dari Airbus Military Spanyol
Diunggah Oleh:
filereid12345678
pada Jumat, Mei 16, 2014
Airbus Military akan memberikan Transfer of Technology (ToT) pembangunan pesawat CN-295 dengan PT DI yang akan dibangun bersama di Bandung. Pesawat yang akan dibangun ini merupakan pesawat ke-8 dari seluruhnya 9 unit yang dipesan Kementerian Pertahanan dari Airbus Military. Selanjutnya, Kemhan akan berencana mengadakan 7 pesawat CN-295 lagi untuk melengkapi menjadi 1 skuadron pesawat CN-295. Sebelumnya telah datang 6 pesawat CN-295 dari Spanyol dan pesawat ke-7 akan datang dalam waktu dekat.
Hal itu diungkapkan Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, Jumat (16/5), saat menerima kunjungan kehormatan Duta Besar Spanyol untuk Indonesia HE Mr Francisco Jose Viquera Niel di kantor Kemhan, Jakarta. Yang penting menurut Menhan adalah selain mendapatkan ToT dalam pembangunan pesawat CN-295m dibangunnya pesawat ke-8 dan ke-9 di PT DI Bandung ini diharapkan dapat memberikan efek positif bagi pergerakan ekonomi di dalam negeri.
Pesawat C-295 sangat cocok dengan geografis kawasan Asia, karena itulah, diharapkan kemampuan PT DI untuk membangun pesawat ini akan diikuti dengan ketertarikan negara-negara tetangga untuk kemudian memesan pesawat ini.
Untuk mewujudkan Transfer of Technology ini Dubes Spanyol menekankan perlu adanya dokumen bersama tentang persetujuan pertukaran informasi. Hal itu menjadi syarat bagi ToT karena pembangunan pesawat CN-295 ini juga melibatkan beberapa industri pertahanan Spanyol lainnya di luar Airbus Military. Akan datang 50 insinyur dari Spanyol yang akan bekerja bersama insinyur-insinyur di PT DI untuk membangun pesawat CN-295 ini. (DMC)
Hal itu diungkapkan Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, Jumat (16/5), saat menerima kunjungan kehormatan Duta Besar Spanyol untuk Indonesia HE Mr Francisco Jose Viquera Niel di kantor Kemhan, Jakarta. Yang penting menurut Menhan adalah selain mendapatkan ToT dalam pembangunan pesawat CN-295m dibangunnya pesawat ke-8 dan ke-9 di PT DI Bandung ini diharapkan dapat memberikan efek positif bagi pergerakan ekonomi di dalam negeri.
Pesawat C-295 sangat cocok dengan geografis kawasan Asia, karena itulah, diharapkan kemampuan PT DI untuk membangun pesawat ini akan diikuti dengan ketertarikan negara-negara tetangga untuk kemudian memesan pesawat ini.
Untuk mewujudkan Transfer of Technology ini Dubes Spanyol menekankan perlu adanya dokumen bersama tentang persetujuan pertukaran informasi. Hal itu menjadi syarat bagi ToT karena pembangunan pesawat CN-295 ini juga melibatkan beberapa industri pertahanan Spanyol lainnya di luar Airbus Military. Akan datang 50 insinyur dari Spanyol yang akan bekerja bersama insinyur-insinyur di PT DI untuk membangun pesawat CN-295 ini. (DMC)
13 Mei, 2014
KCR-40 Mulai Dipasangi CIWS AK-630 Buatan Rusia
Diunggah Oleh:
filereid12345678
pada Selasa, Mei 13, 2014
Dua Kapal Cepat Rudal tipe KCR-40 tampil fotonya dalam forum militer Kaskus. Kali ini kedua KCR-40 tersebut masing-masing KRI Clurit 641 dan KRI Kujang 642 sudah dilengkapi dengan meriam putar/gatling AK-630 sebagai kanon utamanya menggeser kanon Denel Vektor 20 mm yang dipasang sementara di haluan.
AK-630 merupakan sistem senjata close-in weapon system (CIWS) buatan Rusia yang sepenuhnya otomatis. Sistem ini terdiri dari meriam putar 30mm enam laras yang dipasang pada sebuah turret otomatis tertutup, meriam ini diarahkan oleh radar dan sistem pelacak serta dilengkapi deteksi televisi untuk varian tertentu. Angka kode "630" artinya 6 barel kaliber 30 mm.
AK-630 digunakan untuk pertahanan terhadap rudal anti-kapal dan senjata presisi berpandu lainnya, namun juga dapat digunakan terhadap pesawat sayap tetap atau rotary wing, kapal besar dan kapal kecil lainnya, sasaran di pesisir, dan ranjau apung.
Kapal dengan sistem propulsi fixed propeller 5 daun ini persenjataan lengkapnya terdiri dari 1 unit meriam AK-630 6 barel kaliber 30 mm di haluan, 2 unit meriam Denel Vektor kaliber 20 mm di anjungan dan 2 unit peluru kendali SSM C-705 di buritan.
Tampak juga bahwa 2 peluncur rudal C-705 di buritan telah terpasang, dengan menggeser kanon Denel Vektor 20 mm ke arah anjungan, maka selesailah sudah pemasangan keseluruhan sistem senjata KCR-40. Sistem senjata tersebut akan terintegrasi dengan Combat Management System SEWACO.
Kapal Cepat Rudal KCR-40 memiliki panjang 44 meter, lebar 8 meter, tinggi 3,4 meter dan berat 238 ton. Dengan sistem propulsi fixed propeller 5 daun, maka KCR 40 mampu berlayar dengan kecepatan 30 knot.
KCR - 40 terbuat dari baja khusus High Tensile Steel pada bagian lambung (hull) serta Aluminium Alloy untuk bagian atasnya. Baja High Tensile Steel ini merupakan produk PT. Krakatau Steel. Paduan dua bahan tersebut membuat kapal ini memiliki stabilitas dan kecepatan yang tinggi pada saat berlayar.
Sampai sekarang telah dibuat 4 KCR-40 untuk Satkat (satuan Kapal Cepat TNI AL) masing-masing adalah KRI Clurit-641, KRI Kujang-642, KRI Beladau-642, dan KRI Alamang-644.
Dalam pemenuhan Minimum Essential Force, TNI AL berencana memiliki 38 Kapal Cepat yang terdiri dari 26 Kapal Cepat Rudal dan 12 Kapal Cepat Torpedo.
Sebelum pengembangan KCR-40 dan KCR-60, TNI AL telah memiliki 14 Kapal Cepat Rudal (4 FPB-57 Kakap class, 6 FPB-57 Pandrong class dan 4 Tacoma Mandau class) serta 2 Kapal Cepat Torpedo (FPB-57 Singa class).
Dengan pengembangan KCR-40 dan KCR-60 maka TNI AL membutuhkan 22 kapal cepat rudal/torpedo lagi yang dicukupi dari kedua tipe tersebut. Dengan demikian maka secara keseluruhan kapal cepat rudal/torpedo TNI AL akan terdiri dari 4 platform kapal : KCR-40, Tacoma-Mandau class, FPB-57 dan KCR-60. (Defense Studies)
![]() |
| CIWS AK-630 |
AK-630 merupakan sistem senjata close-in weapon system (CIWS) buatan Rusia yang sepenuhnya otomatis. Sistem ini terdiri dari meriam putar 30mm enam laras yang dipasang pada sebuah turret otomatis tertutup, meriam ini diarahkan oleh radar dan sistem pelacak serta dilengkapi deteksi televisi untuk varian tertentu. Angka kode "630" artinya 6 barel kaliber 30 mm.
AK-630 digunakan untuk pertahanan terhadap rudal anti-kapal dan senjata presisi berpandu lainnya, namun juga dapat digunakan terhadap pesawat sayap tetap atau rotary wing, kapal besar dan kapal kecil lainnya, sasaran di pesisir, dan ranjau apung.
Kapal dengan sistem propulsi fixed propeller 5 daun ini persenjataan lengkapnya terdiri dari 1 unit meriam AK-630 6 barel kaliber 30 mm di haluan, 2 unit meriam Denel Vektor kaliber 20 mm di anjungan dan 2 unit peluru kendali SSM C-705 di buritan.
![]() |
| Dua set sistem peluncur rudal C-705 (photo : silep04) |
Tampak juga bahwa 2 peluncur rudal C-705 di buritan telah terpasang, dengan menggeser kanon Denel Vektor 20 mm ke arah anjungan, maka selesailah sudah pemasangan keseluruhan sistem senjata KCR-40. Sistem senjata tersebut akan terintegrasi dengan Combat Management System SEWACO.
Kapal Cepat Rudal KCR-40 memiliki panjang 44 meter, lebar 8 meter, tinggi 3,4 meter dan berat 238 ton. Dengan sistem propulsi fixed propeller 5 daun, maka KCR 40 mampu berlayar dengan kecepatan 30 knot.
KCR - 40 terbuat dari baja khusus High Tensile Steel pada bagian lambung (hull) serta Aluminium Alloy untuk bagian atasnya. Baja High Tensile Steel ini merupakan produk PT. Krakatau Steel. Paduan dua bahan tersebut membuat kapal ini memiliki stabilitas dan kecepatan yang tinggi pada saat berlayar.
Sampai sekarang telah dibuat 4 KCR-40 untuk Satkat (satuan Kapal Cepat TNI AL) masing-masing adalah KRI Clurit-641, KRI Kujang-642, KRI Beladau-642, dan KRI Alamang-644.
Dalam pemenuhan Minimum Essential Force, TNI AL berencana memiliki 38 Kapal Cepat yang terdiri dari 26 Kapal Cepat Rudal dan 12 Kapal Cepat Torpedo.
Sebelum pengembangan KCR-40 dan KCR-60, TNI AL telah memiliki 14 Kapal Cepat Rudal (4 FPB-57 Kakap class, 6 FPB-57 Pandrong class dan 4 Tacoma Mandau class) serta 2 Kapal Cepat Torpedo (FPB-57 Singa class).
Dengan pengembangan KCR-40 dan KCR-60 maka TNI AL membutuhkan 22 kapal cepat rudal/torpedo lagi yang dicukupi dari kedua tipe tersebut. Dengan demikian maka secara keseluruhan kapal cepat rudal/torpedo TNI AL akan terdiri dari 4 platform kapal : KCR-40, Tacoma-Mandau class, FPB-57 dan KCR-60. (Defense Studies)
12 Mei, 2014
Indonesia Miliki Pabrik Bom Terbesar se-ASEAN
Diunggah Oleh:
filereid12345678
pada Senin, Mei 12, 2014
Siapa sangka Indonesia punya fasilitas pengembangan dan produksi bahan peledak modern dan terbesar di Asia Tenggara atau ASEAN. Fasilitas tersebut dimiliki oleh PT Dahana (Persero).
Perusahaan pelat merah yang telah berdiri sejak tahun 1966 ini mampu mengembangkan dan memproduksi bahan peledak untuk keperluan militer dan industri non militer di dalam dan luar negeri.
Pabrik milik Dahana tersebar di seluruh negeri namun pusat produki bahan peledak tingkat tinggi (high explosive) berada di area pabrik energetic material center, Kantor Manajemen Pusat (Kampus) di Desa Sadawarna, Kecematan Cibogo, Kabupaten Subang, Jawa Barat.
detikFinance pun memperoleh kesempatan istimewa berkunjung dan wawancara khusus Chief Executive Officer (CEO) Dahana, Harry Sampurno di area energetic material center milik Dahana di Subang.
Untuk menjangkau lokasi, harus menempuh perjalanan darat selama 3,5 jam dari Jakarta. Setelah keluar gerbang tol Cikampek arah Sadang, mobil harus bertarung dengan buruknya kualitas jalan selama 1 jam hingga memasuki bibir pabrik.
Ketika tiba di lokasi, tampak gedung megah dengan arsitektur ramah lingkungan (green) menyambut kedatangan. Lokasinya cukup jauh dari pemukiman penduduk. Pabrik dan Kampus Dahana diapit oleh 2 buah sungai serta dikelilingi pohon yang menjulang tinggi.
Saat memasuki area perkantoran, sistem pengamanan terasa cukup longgar. Kantor pusat dan pabrik milik BUMN bom tersebut menempati lahan seluas 600 hektar.
“Pengamanan kita biasa di awal. Nanti ring 1 baru ketat,” kata Harry kepada detikFinance di Kampus dan Pabrik Dahana di Subang, Jumat (9/5/2014).
Pada awal pertemuan, Harry dengan ramah dan jelas menerangkan bisnis dan apa yang dilakukan perseroan. Termasuk menjelaskan beberapa ruangan yang ada di gedung berkonsep ramah lingkungan tersebut.
Harry pun mengajak kami mengelilingi area pabrik dan melihat lebih dekat proses pembuatan salah satu jenis produk bahan peledak (non electric detonator). Pabrik di Subang merupakan pusat pengembangan produk bom komersial dan militer berdaya ledak tinggi (high explosive).
Didampingi Harry dan beberapa petugas keamanan, kami mengendarai kendaraan khusus milik perseroan. Benar saja, saat akan memasuki area pabrik atau berada di gerbang ring 1, seorang petugas bermimik serius mencegat kami.
“Selamat siang. Izin hape dalam keadaan dimatikan,” perintah seorang petugas keamanan kepada seluruh rombongan termasuk kepada Dirut Dahana yang ada di dalam mobil.
Akhirnya rombongan yang terdiri detikFinance dan Dirut Dahana mengikuti standar keamanan yang diperintahkan. Tugas petugas tersebut tidak berhenti di situ, ia memeriksa sekeliling kendaraan dan tas yang dibawa setiap orang di dalam mobil secara seksama.
Ketika diperbolehkan memasuki area pabrik, Harry yang bertugas sebagai pemandu kami. Ia menunjukkan lokasi pertama yakni bangunan tempat perakitan mobil khusus (mobile mixing unit) untuk mendukung operasional Dahana di lokasi tambang.
“Kita sebutnya pabrik bergerak. Kita buat di sini,” jelasnya.
Sambil bercerita, mobil dinas layaknya kendaraan wisata yang kami tumpangi mengelilingi area pabrik. Sesekali ia menujuk lokasi gudang dan pabrik yang berukuran kecil dan memiliki tanggul khusus.
“Kalau ada tanggul itu tandanya ada bahan peledaknya. Itu sebagai perisai kalau terjadi hal-hal terburuk seperti ledakan,” sebutnya.
Harry menjelaskan alasan ukuran pabrik dibuat kecil dan lokasinya berjauhan. Dasarnya adalah bagian dari standar keamanan. Dengan konsep safety distance atau jarak aman, ada pertimbangan jangkauan ledakan jika terjadi musibah di area pabrik. Meski ada musibah, dampak ledakan tidak akan dirasakan hingga ke luar lokasi pabrik.
“Ada safety distance. Semua di sini pabrik high explosive,” paparnya.
Rombongan sempat bertemu dengan kendaraan yang akan membawa bahan peledak ke luar lokasi pabrik. Selanjutnya rombongan melewati hutan di tengah pabrik dan memutuskan berhenti pada pabrik Non-Electric Detonator (Nonel).
Di sini Harry yang didampingi manager pabrik menjelaskan proses produksi. Kami pun diizinkan melihat dari dekat proses pembuatan hingga pengujian Nonel. Bangunan untuk pembuatan dan pengujian dilakukan di dalam kontainer khusus. Nonel sendiri biasa digunakan sebagai pemicu ledakan (initiating explosive).
“Pabriknya kecil pakai kontainer, masalah safety dan security,” katanya.
Harry menjelaskan rombongan tidak diizinkan memasuki area pabrik untuk pembuatan bom khusus militer. Pasalnya pabrik tersebut sangat berbahaya.
“Very high explosive jadi nggak boleh masuk,” tegasnya.
Setelah berkeliling di area pabrik selama 25 menit, rombongan meninggalkan area pabrik menuju kantor pusat. Saat akan meninggalkan area pabrik, petugas keamanan kembali mencegat rombongan. Masih dengan wajah serius, ia menelisik ke dalam kendaraan.
“Sudah selesai pak,” kata petugas keamanan sambil memberi salah usai melakukan pemeriksaan.
Pada kesempatan tersebut, Harry mengatakan untuk izin masuk area pabrik bagi warga negara asing berlaku peraturan yang sangat ketat. Khusus warga negara asing, harus memperoleh clearance dari TNI AU dan Dahana. Sedangkan WNI cukup memperoleh clearance dari perseroan. Sedangkan untuk kenyamanan area pabrik, sistem keamanan modern dan alamiah telah dibangun.
“Kita kemananan nggak pakai listrik, pakai natural barrier. Di sini pakai barrier sungai, bukit sama tanggul tinggi,” ujarnya.
Area pabrik di Subang, dijelaskan Herry akan dipersiapkan untuk membangun dan mengembangkan teknologi tertinggi dari bom. Seperti teknologi bom untuk airbag mobil, pengelasan rel kereta hingga hujan buatan.
Hingga saat ini, Dahana mampu menghasilkan puluhan paten produk bom yang telah berlebel Standar Nasional Indonesia. Produk Dahana di antaranya: dayagel seismic, dayagel series, dayadet non electric, shaped charges, dayagel sivor, grenade detonator, Bomb P-100 hingga Blast Effect Bomb.
Produk karya Dahana juga dijual hingga ke 26 negara. Bahkan berencana mendirikan pabrik di area pertambangan di Australia. Untuk mengembangkan, memproduksi, memasarkan produk bom, Dahana mempekerjakan hingga 1.300 karyawan.
Produksi Bom untuk Jet Tempur Sukhoi Hingga Roket
Industri pertahanan di Tanah Air menjadi tumpuan untuk mengurangi ketergantungan dari produk militer impor. Salah satu upaya yang dilakukan adalah mengembangkan produk pertahanan asli dalam negeri seperti yang dilakukan BUMN PT Dahana (Persero).
BUMN yang bermarkas di Subang, Jawa Barat ini telah berhasil mengembangkan dan memproduksi produk canggih untuk keperluan militer. Produk yang dibuat antaralain bom canggih P 100 Live untuk jet tempur Sukhoi.
Selain itu, Dahana berencana memproduksi bom kejut untuk jet tempur F5 (blast effect bomb). Guna bom sebagai anti huru hara mampu membuat pengunjuk rasa terpental dan membubarkan konsentrasi massa ketika bom dijatuhkan dari pesawat. Blast effect bomb ini tidak mematikan berbeda dengan bom P 100 Live yang bisa mematikan.
“TNI AU. Untuk Sukhoi. Itu Bom Udara, Bom P100 Live untuk pesawat Sukhoi. Kita juga sudah buat untuk pesawat F5. Yang kita buat untuk anti huru-hara. Namanya blast effect bomb. Itu sudah dimulai cuma kontrak pembelian yang bom baru dimulai tahun ini,” kata Chief Executive Officer (CEO) PT Dahana (Persero) Harry Sampurno kepada detikFinance di Pabrik Dahana di Subang, Jawa Barat akhir pekan lalu.
Selain itu, Dahana juga telah terlibat memproduksi dan mengembangkan roket R Han 122.
Produk unggulan versi militer yang telah diproduksi Dahana adalah dayagel dan dayagel sivor. Khusus dayagel sivor biasa ditemui pada aksi film laga untuk penyerbuan lokasi musuh. Bom tipe ini ditempelkan di pintu kemudian meledak. Beberapa negara telah memakai bom produksi Dahana ini.
“Kalau di film, bom ditaruh di pintu. Bisa meledak," katanya.
Dahana juga mengembangkan komponen penting di dalam peluru dan roket. Di lokasi pabrik di Subang, Dahana berencana memproduksi propelan. Propelan biasa dipakai untuk meluncurkan amunisi.
“Ini sangat strategis. Mungkin nggak bisa banyak cerita. Itu bahan pendorong amunisi. Itu untuk roket. Peluru-peluru di dalamnya ada propelan. Sekarang ini kita 100% masih impor. Nantinya kita buat di Dahana,” paparnya.
Dahana tidak hanya menggarap pasar industri pertambangan, selain itu pasar militer juga terus ditingkatkan. Porsi penjualan untuk militer dari 5% ditingkatkan menjadi 15%.
“Selama ini militer beli untuk bahan peledak biasa. Sekarang kita tingkatkan jadi bom dan roket,” jelasnya.
Diekspor ke 26 Negara
PT Dahana (Persero) merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) produsen bahan peledak untuk keperluan industri dan militer. Produk bahan peledak Dahana telah dijual hingga ke 26 negara.
Hampir sebagian besar negara-negara di Asia Tenggara telah membeli produk bahan peledak dari pabrik Dahana di Subang, Jawa Barat.
“Kita sudah ekspor bahan peledak ke 26 negara,” kata Chief Executive Officer (CEO) PT Dahana (Persero) Harry Sampurno kepada detikFinance di Pabrik Dahana di Subang, Jawa Barat akhir pekan lalu.
Selain negara-negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, Filipina, dan Kamboja, negara-negara di Timur Tengah hingga Kanada juga menjadi konsumen PT Dahana.
“Kita mulai dari Malaysia (Serawak), Thailand, kemudian Filipina, kemudian Kamboja sudah kirim, Timor Leste. Kita sedang penetrasi ke Vietnam dan Burma,” jelasnya.
Untuk produk bom versi industri, Dahana menjual jenis detonator, booster, hingga catridge emulsion (dinamit). Sedangkan untuk versi militer, Dahana mengekspor tipe bom plastik (dayagel sivor).
“Yang kita ekspor itu ada detonator (Nonel) kemudian kedua adalah booster ketiga adalah catridge emulsion (semacam dinamit). Itu komersial semua. Tapi yang untuk militer. Kita baru ekspor beberapa tempat,” paparnya.
Perseroan tidak terlalu mengkhawatirkan rencana dimulainya pasar bebas ASEAN (MEA) pada tahun 2015. Pasalnya produk Dahana justru telah dipakai di beberapa negara Asia Tenggara.
“Kalau tahun 2015 ada MEA. Kita banyak yang nggak tahu, itu nggak berpengaruh terhadap industri karena AFTA sudah berlaku sejak tahun 2007. Kita sudah mulai ekspor sejak 2005. Walau jumlah kecil tapi makin lama makin besar,” sebutnya.
Meski pasar di tanah air menjadi rebutan pemain dunia, namun Dahana perlahan tapi pasti menjajaki mendirikan pabrik bahan peledak di Australia. Begitu pula dengan pasar ASEAN. Dahana sedang menjajaki menjual produk bom ke Eropa hingga negara ASEAN yang belum tersentuh.
“Tahun ini kita sedang negosiasi untuk bisa ekspansi ke Australia. Kalau berhasil maka tahun depan kita bangun pabriknya,” jelasnya.
Aktivitas ekspor Dahana menyumbang 10% dari total pendapatan perseroan. Sedangkan 5% dari militer dan 85% dari industri tambang. Dahana pada tahun 2013 berhasil meraup pendapatan Rp 1 triliun dengan perolehan laba bersih sebanyak Rp 50 miliar.
“Struktur pendapatan kita itu untuk ekspor masih kecil atau sekitar 10%. Dan ini membuat kita kaget. Untuk militer hanya 5%. Di luar itu adalah dalam negeri untuk komersial. Strukturnya seperti itu,” paparnya.
Sumber : Detik
Perusahaan pelat merah yang telah berdiri sejak tahun 1966 ini mampu mengembangkan dan memproduksi bahan peledak untuk keperluan militer dan industri non militer di dalam dan luar negeri.
Pabrik milik Dahana tersebar di seluruh negeri namun pusat produki bahan peledak tingkat tinggi (high explosive) berada di area pabrik energetic material center, Kantor Manajemen Pusat (Kampus) di Desa Sadawarna, Kecematan Cibogo, Kabupaten Subang, Jawa Barat.
detikFinance pun memperoleh kesempatan istimewa berkunjung dan wawancara khusus Chief Executive Officer (CEO) Dahana, Harry Sampurno di area energetic material center milik Dahana di Subang.
Untuk menjangkau lokasi, harus menempuh perjalanan darat selama 3,5 jam dari Jakarta. Setelah keluar gerbang tol Cikampek arah Sadang, mobil harus bertarung dengan buruknya kualitas jalan selama 1 jam hingga memasuki bibir pabrik.
Ketika tiba di lokasi, tampak gedung megah dengan arsitektur ramah lingkungan (green) menyambut kedatangan. Lokasinya cukup jauh dari pemukiman penduduk. Pabrik dan Kampus Dahana diapit oleh 2 buah sungai serta dikelilingi pohon yang menjulang tinggi.
Saat memasuki area perkantoran, sistem pengamanan terasa cukup longgar. Kantor pusat dan pabrik milik BUMN bom tersebut menempati lahan seluas 600 hektar.
“Pengamanan kita biasa di awal. Nanti ring 1 baru ketat,” kata Harry kepada detikFinance di Kampus dan Pabrik Dahana di Subang, Jumat (9/5/2014).
Pada awal pertemuan, Harry dengan ramah dan jelas menerangkan bisnis dan apa yang dilakukan perseroan. Termasuk menjelaskan beberapa ruangan yang ada di gedung berkonsep ramah lingkungan tersebut.
Harry pun mengajak kami mengelilingi area pabrik dan melihat lebih dekat proses pembuatan salah satu jenis produk bahan peledak (non electric detonator). Pabrik di Subang merupakan pusat pengembangan produk bom komersial dan militer berdaya ledak tinggi (high explosive).
Didampingi Harry dan beberapa petugas keamanan, kami mengendarai kendaraan khusus milik perseroan. Benar saja, saat akan memasuki area pabrik atau berada di gerbang ring 1, seorang petugas bermimik serius mencegat kami.
“Selamat siang. Izin hape dalam keadaan dimatikan,” perintah seorang petugas keamanan kepada seluruh rombongan termasuk kepada Dirut Dahana yang ada di dalam mobil.
Akhirnya rombongan yang terdiri detikFinance dan Dirut Dahana mengikuti standar keamanan yang diperintahkan. Tugas petugas tersebut tidak berhenti di situ, ia memeriksa sekeliling kendaraan dan tas yang dibawa setiap orang di dalam mobil secara seksama.
Ketika diperbolehkan memasuki area pabrik, Harry yang bertugas sebagai pemandu kami. Ia menunjukkan lokasi pertama yakni bangunan tempat perakitan mobil khusus (mobile mixing unit) untuk mendukung operasional Dahana di lokasi tambang.
“Kita sebutnya pabrik bergerak. Kita buat di sini,” jelasnya.
Sambil bercerita, mobil dinas layaknya kendaraan wisata yang kami tumpangi mengelilingi area pabrik. Sesekali ia menujuk lokasi gudang dan pabrik yang berukuran kecil dan memiliki tanggul khusus.
“Kalau ada tanggul itu tandanya ada bahan peledaknya. Itu sebagai perisai kalau terjadi hal-hal terburuk seperti ledakan,” sebutnya.
Harry menjelaskan alasan ukuran pabrik dibuat kecil dan lokasinya berjauhan. Dasarnya adalah bagian dari standar keamanan. Dengan konsep safety distance atau jarak aman, ada pertimbangan jangkauan ledakan jika terjadi musibah di area pabrik. Meski ada musibah, dampak ledakan tidak akan dirasakan hingga ke luar lokasi pabrik.
“Ada safety distance. Semua di sini pabrik high explosive,” paparnya.
Rombongan sempat bertemu dengan kendaraan yang akan membawa bahan peledak ke luar lokasi pabrik. Selanjutnya rombongan melewati hutan di tengah pabrik dan memutuskan berhenti pada pabrik Non-Electric Detonator (Nonel).
Di sini Harry yang didampingi manager pabrik menjelaskan proses produksi. Kami pun diizinkan melihat dari dekat proses pembuatan hingga pengujian Nonel. Bangunan untuk pembuatan dan pengujian dilakukan di dalam kontainer khusus. Nonel sendiri biasa digunakan sebagai pemicu ledakan (initiating explosive).
“Pabriknya kecil pakai kontainer, masalah safety dan security,” katanya.
Harry menjelaskan rombongan tidak diizinkan memasuki area pabrik untuk pembuatan bom khusus militer. Pasalnya pabrik tersebut sangat berbahaya.
“Very high explosive jadi nggak boleh masuk,” tegasnya.
Setelah berkeliling di area pabrik selama 25 menit, rombongan meninggalkan area pabrik menuju kantor pusat. Saat akan meninggalkan area pabrik, petugas keamanan kembali mencegat rombongan. Masih dengan wajah serius, ia menelisik ke dalam kendaraan.
“Sudah selesai pak,” kata petugas keamanan sambil memberi salah usai melakukan pemeriksaan.
Pada kesempatan tersebut, Harry mengatakan untuk izin masuk area pabrik bagi warga negara asing berlaku peraturan yang sangat ketat. Khusus warga negara asing, harus memperoleh clearance dari TNI AU dan Dahana. Sedangkan WNI cukup memperoleh clearance dari perseroan. Sedangkan untuk kenyamanan area pabrik, sistem keamanan modern dan alamiah telah dibangun.
“Kita kemananan nggak pakai listrik, pakai natural barrier. Di sini pakai barrier sungai, bukit sama tanggul tinggi,” ujarnya.
Area pabrik di Subang, dijelaskan Herry akan dipersiapkan untuk membangun dan mengembangkan teknologi tertinggi dari bom. Seperti teknologi bom untuk airbag mobil, pengelasan rel kereta hingga hujan buatan.
Hingga saat ini, Dahana mampu menghasilkan puluhan paten produk bom yang telah berlebel Standar Nasional Indonesia. Produk Dahana di antaranya: dayagel seismic, dayagel series, dayadet non electric, shaped charges, dayagel sivor, grenade detonator, Bomb P-100 hingga Blast Effect Bomb.
Produk karya Dahana juga dijual hingga ke 26 negara. Bahkan berencana mendirikan pabrik di area pertambangan di Australia. Untuk mengembangkan, memproduksi, memasarkan produk bom, Dahana mempekerjakan hingga 1.300 karyawan.
Produksi Bom untuk Jet Tempur Sukhoi Hingga Roket
Industri pertahanan di Tanah Air menjadi tumpuan untuk mengurangi ketergantungan dari produk militer impor. Salah satu upaya yang dilakukan adalah mengembangkan produk pertahanan asli dalam negeri seperti yang dilakukan BUMN PT Dahana (Persero).
BUMN yang bermarkas di Subang, Jawa Barat ini telah berhasil mengembangkan dan memproduksi produk canggih untuk keperluan militer. Produk yang dibuat antaralain bom canggih P 100 Live untuk jet tempur Sukhoi.
Selain itu, Dahana berencana memproduksi bom kejut untuk jet tempur F5 (blast effect bomb). Guna bom sebagai anti huru hara mampu membuat pengunjuk rasa terpental dan membubarkan konsentrasi massa ketika bom dijatuhkan dari pesawat. Blast effect bomb ini tidak mematikan berbeda dengan bom P 100 Live yang bisa mematikan.
“TNI AU. Untuk Sukhoi. Itu Bom Udara, Bom P100 Live untuk pesawat Sukhoi. Kita juga sudah buat untuk pesawat F5. Yang kita buat untuk anti huru-hara. Namanya blast effect bomb. Itu sudah dimulai cuma kontrak pembelian yang bom baru dimulai tahun ini,” kata Chief Executive Officer (CEO) PT Dahana (Persero) Harry Sampurno kepada detikFinance di Pabrik Dahana di Subang, Jawa Barat akhir pekan lalu.
Selain itu, Dahana juga telah terlibat memproduksi dan mengembangkan roket R Han 122.
Produk unggulan versi militer yang telah diproduksi Dahana adalah dayagel dan dayagel sivor. Khusus dayagel sivor biasa ditemui pada aksi film laga untuk penyerbuan lokasi musuh. Bom tipe ini ditempelkan di pintu kemudian meledak. Beberapa negara telah memakai bom produksi Dahana ini.
“Kalau di film, bom ditaruh di pintu. Bisa meledak," katanya.
Dahana juga mengembangkan komponen penting di dalam peluru dan roket. Di lokasi pabrik di Subang, Dahana berencana memproduksi propelan. Propelan biasa dipakai untuk meluncurkan amunisi.
“Ini sangat strategis. Mungkin nggak bisa banyak cerita. Itu bahan pendorong amunisi. Itu untuk roket. Peluru-peluru di dalamnya ada propelan. Sekarang ini kita 100% masih impor. Nantinya kita buat di Dahana,” paparnya.
Dahana tidak hanya menggarap pasar industri pertambangan, selain itu pasar militer juga terus ditingkatkan. Porsi penjualan untuk militer dari 5% ditingkatkan menjadi 15%.
“Selama ini militer beli untuk bahan peledak biasa. Sekarang kita tingkatkan jadi bom dan roket,” jelasnya.
Diekspor ke 26 Negara
PT Dahana (Persero) merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) produsen bahan peledak untuk keperluan industri dan militer. Produk bahan peledak Dahana telah dijual hingga ke 26 negara.
Hampir sebagian besar negara-negara di Asia Tenggara telah membeli produk bahan peledak dari pabrik Dahana di Subang, Jawa Barat.
“Kita sudah ekspor bahan peledak ke 26 negara,” kata Chief Executive Officer (CEO) PT Dahana (Persero) Harry Sampurno kepada detikFinance di Pabrik Dahana di Subang, Jawa Barat akhir pekan lalu.
Selain negara-negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, Filipina, dan Kamboja, negara-negara di Timur Tengah hingga Kanada juga menjadi konsumen PT Dahana.
“Kita mulai dari Malaysia (Serawak), Thailand, kemudian Filipina, kemudian Kamboja sudah kirim, Timor Leste. Kita sedang penetrasi ke Vietnam dan Burma,” jelasnya.
Untuk produk bom versi industri, Dahana menjual jenis detonator, booster, hingga catridge emulsion (dinamit). Sedangkan untuk versi militer, Dahana mengekspor tipe bom plastik (dayagel sivor).
“Yang kita ekspor itu ada detonator (Nonel) kemudian kedua adalah booster ketiga adalah catridge emulsion (semacam dinamit). Itu komersial semua. Tapi yang untuk militer. Kita baru ekspor beberapa tempat,” paparnya.
Perseroan tidak terlalu mengkhawatirkan rencana dimulainya pasar bebas ASEAN (MEA) pada tahun 2015. Pasalnya produk Dahana justru telah dipakai di beberapa negara Asia Tenggara.
“Kalau tahun 2015 ada MEA. Kita banyak yang nggak tahu, itu nggak berpengaruh terhadap industri karena AFTA sudah berlaku sejak tahun 2007. Kita sudah mulai ekspor sejak 2005. Walau jumlah kecil tapi makin lama makin besar,” sebutnya.
Meski pasar di tanah air menjadi rebutan pemain dunia, namun Dahana perlahan tapi pasti menjajaki mendirikan pabrik bahan peledak di Australia. Begitu pula dengan pasar ASEAN. Dahana sedang menjajaki menjual produk bom ke Eropa hingga negara ASEAN yang belum tersentuh.
“Tahun ini kita sedang negosiasi untuk bisa ekspansi ke Australia. Kalau berhasil maka tahun depan kita bangun pabriknya,” jelasnya.
Aktivitas ekspor Dahana menyumbang 10% dari total pendapatan perseroan. Sedangkan 5% dari militer dan 85% dari industri tambang. Dahana pada tahun 2013 berhasil meraup pendapatan Rp 1 triliun dengan perolehan laba bersih sebanyak Rp 50 miliar.
“Struktur pendapatan kita itu untuk ekspor masih kecil atau sekitar 10%. Dan ini membuat kita kaget. Untuk militer hanya 5%. Di luar itu adalah dalam negeri untuk komersial. Strukturnya seperti itu,” paparnya.
Sumber : Detik
Usulan PT.DI Untuk Sinergikan Industri Dirgantara Nasional
Diunggah Oleh:
filereid12345678
pada Senin, Mei 12, 2014
PT Dirgantara Indonesia mengusulkan adanya sinergi kompetensi di antara para pemangku kepentingan (stakeholder) untuk dapat bersama-sama mengembangkan industri dirgantara nasional, khususnya untuk program pesawat lokal N-219.
"Industri di Indonesia sebenarnya cukup berpotensi untuk mendukung industri kedirgantaraan. Namun, harus ada sinergisme kompetensi antara para 'stakeholder' untuk mengembangkan industri dirgantara nasional," kata Manajer Program N-219 PT Dirgantara Indonesia Budi Sampurno di Jakarta, Kamis.
Pernyataan tersebut ia sampaikan dalam seminar "Kesiapan Industri Komponen Dalam Negeri Untuk Mendukung Kemandirian Industri Kedirgantaraan Nasional".
Budi mengatakan, beberapa pihak yang perlu terlibat dalam upaya pengembangan industri penerbangan nasional, antara lain Kementerian Perindustrian, Kementerian Perhubungan, Badan Pengkajian dan Penerapan (BPP) Teknologi.
Ia menilai Kementerian Perindustrian harus mengembangkan industri pendukung atau komponen dan menciptakan "cluster" industri untuk produksi pesawat lokal, seperti N-219.
Dukungan industri komponen dalam negeri sebagai supplier program N-219 sangat penting karena sejak awal masuk ke pasar, pesawat N-219 ditargetkan mempunyai kandungan lokal minimal 40 persen, dan akan ditingkatkan menjadi 60 persen dalam waktu lima tahun.
"Industri pendukung yang perlu dikembangkam Kemenperin untuk menopang industri pesawat lokal, meliputi industri mekanika dan manufakturing, karet dan ban, elektronika dan avionik," ujarnya.
Sementara itu, menurut dia, BPP Teknologi dapat berperan menguji pesawat N-219 dari segi aerodinamika dan struktur.
"Kalau untuk Lapan (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional), mereka bisa membangun pusat desain, penelitian dan pengembangan N-219. Dan Bappenas perlu memfasilitasi pembiayaan bagi pengembangan pesawat N-219 ini," kata Budi.
"Sedangkan untuk, Kementerian Perhubungan bisa berperan untuk pengadaan sertifikat produksi dan sertifikat penerbitan N-219," tambahnya.
Lebih lanjut Budi menyebutkan bahwa Kementerian BUMN dapat mendorong pembelian pesawat N-219 oleh perusahaan penerbangan di lingkungan BUMD dan BUMN.
Sementara PTDI sendiri, menurut dia, akan mengembangkan mesin, membuat prototipe, serta produksi dan pemeliharaan pesawat. (Antara)
"Industri di Indonesia sebenarnya cukup berpotensi untuk mendukung industri kedirgantaraan. Namun, harus ada sinergisme kompetensi antara para 'stakeholder' untuk mengembangkan industri dirgantara nasional," kata Manajer Program N-219 PT Dirgantara Indonesia Budi Sampurno di Jakarta, Kamis.
Pernyataan tersebut ia sampaikan dalam seminar "Kesiapan Industri Komponen Dalam Negeri Untuk Mendukung Kemandirian Industri Kedirgantaraan Nasional".
Budi mengatakan, beberapa pihak yang perlu terlibat dalam upaya pengembangan industri penerbangan nasional, antara lain Kementerian Perindustrian, Kementerian Perhubungan, Badan Pengkajian dan Penerapan (BPP) Teknologi.
Ia menilai Kementerian Perindustrian harus mengembangkan industri pendukung atau komponen dan menciptakan "cluster" industri untuk produksi pesawat lokal, seperti N-219.
Dukungan industri komponen dalam negeri sebagai supplier program N-219 sangat penting karena sejak awal masuk ke pasar, pesawat N-219 ditargetkan mempunyai kandungan lokal minimal 40 persen, dan akan ditingkatkan menjadi 60 persen dalam waktu lima tahun.
"Industri pendukung yang perlu dikembangkam Kemenperin untuk menopang industri pesawat lokal, meliputi industri mekanika dan manufakturing, karet dan ban, elektronika dan avionik," ujarnya.
Sementara itu, menurut dia, BPP Teknologi dapat berperan menguji pesawat N-219 dari segi aerodinamika dan struktur.
"Kalau untuk Lapan (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional), mereka bisa membangun pusat desain, penelitian dan pengembangan N-219. Dan Bappenas perlu memfasilitasi pembiayaan bagi pengembangan pesawat N-219 ini," kata Budi.
"Sedangkan untuk, Kementerian Perhubungan bisa berperan untuk pengadaan sertifikat produksi dan sertifikat penerbitan N-219," tambahnya.
Lebih lanjut Budi menyebutkan bahwa Kementerian BUMN dapat mendorong pembelian pesawat N-219 oleh perusahaan penerbangan di lingkungan BUMD dan BUMN.
Sementara PTDI sendiri, menurut dia, akan mengembangkan mesin, membuat prototipe, serta produksi dan pemeliharaan pesawat. (Antara)
PTDI : kembangkan industri pendukung untuk peningkatan TKDN N-219
Diunggah Oleh:
filereid12345678
pada Senin, Mei 12, 2014
PT Dirgantara Indonesia mendorong Kementerian Perindustrian mengembangkan industri pendukung atau komponen di dalam negeri guna menaikkan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) untuk produk pesawat buatan lokal N-219.
"Kementerian Perindustrian harus mengembangkan industri pendukung dan menciptakan 'cluster' industri untuk mendukung peningkatan TKDN dalam produksi pesawat N-219," kata Manajer Program N-219 PT Dirgantara Indonesia Budi Sampurno, di Jakarta, Kamis.
Pernyataan tersebut ia sampaikan dalam seminar "Kesiapan Industri Komponen Dalam Negeri Untuk Mendukung Kemandirian Industri Kedirgantaraan Nasional".
Menurut Budi, dukungan industri komponen nasional sebagai supplier program N-219 sangat penting karena sejak awal masuk ke pasar, pesawat N-219 ditargetkan mempunyai kandungan lokal atau TKDN minimal 40 persen, dan akan ditingkatkan menjadi 60 persen dalam waktu lima tahun.
"Industri komponen di Indonesia sebenarnya punya potensi cukup besar untuk dikembangkan agar bisa mendukung industri kedirgantaraan nasional," ujarnya.
Ia menjelaskan, industri pendukung yang harus dikembangkan untuk mencapai TKDN 40 persen pada produksi N-219 dalam dua tahun kedepan, antara lain acrylic/glass, plastik, karet, baja untuk tool dan jig - dari segi industri hulu.
Sementara dari industri supplier yang perlu dikembangkan, diantaranya jendela kabin pesawat, landing gear, dan bagian interior pesawat, seperti kursi, dapur, toilet.
Selanjutnya, kata Budi, industri yang harus dikembangkan untuk mencapai TKDN 60 persen dalam lima tahun berikutnya, dari segi hulu, yaitu industri alluminium alloy, titanium, cat, serat, dan bahan kimia untuk pesawat.
"Dari segi industri supplier yang perlu dikembangkan itu, industri avionik, bagian penempaan, mesin, kaca depan pesawat, radar, dan perlindungan korosi," katanya. (Antara)
"Kementerian Perindustrian harus mengembangkan industri pendukung dan menciptakan 'cluster' industri untuk mendukung peningkatan TKDN dalam produksi pesawat N-219," kata Manajer Program N-219 PT Dirgantara Indonesia Budi Sampurno, di Jakarta, Kamis.
Pernyataan tersebut ia sampaikan dalam seminar "Kesiapan Industri Komponen Dalam Negeri Untuk Mendukung Kemandirian Industri Kedirgantaraan Nasional".
Menurut Budi, dukungan industri komponen nasional sebagai supplier program N-219 sangat penting karena sejak awal masuk ke pasar, pesawat N-219 ditargetkan mempunyai kandungan lokal atau TKDN minimal 40 persen, dan akan ditingkatkan menjadi 60 persen dalam waktu lima tahun.
"Industri komponen di Indonesia sebenarnya punya potensi cukup besar untuk dikembangkan agar bisa mendukung industri kedirgantaraan nasional," ujarnya.
Ia menjelaskan, industri pendukung yang harus dikembangkan untuk mencapai TKDN 40 persen pada produksi N-219 dalam dua tahun kedepan, antara lain acrylic/glass, plastik, karet, baja untuk tool dan jig - dari segi industri hulu.
Sementara dari industri supplier yang perlu dikembangkan, diantaranya jendela kabin pesawat, landing gear, dan bagian interior pesawat, seperti kursi, dapur, toilet.
Selanjutnya, kata Budi, industri yang harus dikembangkan untuk mencapai TKDN 60 persen dalam lima tahun berikutnya, dari segi hulu, yaitu industri alluminium alloy, titanium, cat, serat, dan bahan kimia untuk pesawat.
"Dari segi industri supplier yang perlu dikembangkan itu, industri avionik, bagian penempaan, mesin, kaca depan pesawat, radar, dan perlindungan korosi," katanya. (Antara)
11 Mei, 2014
Habibie, Poros JAB dan TNI
Diunggah Oleh:
filereid12345678
pada Minggu, Mei 11, 2014
by: yayan@indocuisine / Kuala Lumpur, 10 May 2014
Ini adalah artikel tersulit yang pernah saya buat. Kemampuan bertutur seakan-akan hilang seketika, dibatasi oleh begitu banyaknya rambu yang harus saya patuhi. Merekayasa sebuah realita agar lebih terkesan fiktif, mengaburkan fakta agar lebih bernuansa hoax, adalah salah satu diantara sekian banyak tantangan yang saya hadapi. Namun apapun rintangannya, saya tetap berbangga karena telah mampu menjadi seorang saksi mata, sekaligus juga saksi bisu..!
![]() |
| Royal Brunei Airlines di KLIA |
Tiga gagang anggrek masih dalam genggaman, ketika Royal Brunei Airlines mulai menapakan kembali kaki-kakinya di atas landasan KLIA untuk mengantar saya kembali pulang ke tengah dekapan keluarga tercinta. “Uncle, terima kasih untuk kunjungannya. Sering-sering datang kemari ya..!” ungkapan seragam dari anak-anak sahabat saya saat menyerahkan anggrek-anggrek itu, sesaat sebelum saya meninggalkan Bandar Seri Begawan. Tawa kami pun berderai. Kenangan manis di Brunei itu, masih melekat di hati sanubari. Terima kasih sahabat, untuk tali persaudaraan yang telah kita jalin selama lebih dari 20 tahun. Salam takziah untuk ayahanda tercinta..!
Menyusuri koridor-koridor KLIA yang megah, membawa kembali ingatan pada penuturan sahabat saya beberapa hari yang lalu tentang kisah durhaka pemimpin Malaysia hingga menjadi sumber pangkal bekunya jalinan harmonis yang selama ini telah terbangun. Nun di tahun 1998, ketika Malaysia dikejar deadline untuk menjadi tuan rumah penyelenggaraan Commonwealth Games 1998. Kegundahan jelas tersirat di wajah-wajah para pemimpin Malaysia. Krisis ekonomi Asia yang datang menerjang, telah meluluhlantakan sendi-sendi perekonomian nasional yang telah terbangun. Proyek-proyek bersekala besar banyak yang terbengkalai bahkan harus rela terhenti. Kondisi yang tidak menentu, telah mengancam munculnya bopeng-bopeng yang akan mencoreng wajah-wajah kota yang akan ditampilkan pada pentas opera yang bersekala antara bangsa.
Tak ayal, Mahathir Muhammad pun ikut meradang. KLIA, Pusat pemerintahan Puterajaya, KL Sentral, Stadium Bukit Jalil, dan lain-lain adalah sebuah paket proyek raksasa yang sejatinya bersifat multiyears, yang pengerjaannya diprogram sedemikian rupa agar bisa selesai serentak dengan waktu penyelenggaraan event olahraga negara-negara persemakmuran. Alih-alih menjadi media pertunjukan kebesaran bagi Malaysia, Commonwealth Games malah beralih rupa menjadi sebuah media yang justru mengancam akan memojokan kegusaran dan kekerdilan Malaysia.
Akhirnya dengan sedikit menahan rasa malu, sang PM pun pergi mencari pertolongan, hingga sampailah di hadapan sang Baginda Sultan Brunei Darussalam, Sultan Hasanal Bolkiah. Selanjutnya yang kita dengar adalah cerita-cerita heroik tentang sang PM, keberaniannya menentang IMF, kegigihan, keuletan dan kecerdasannya dalam mengendalikan krisis, dan menjadikannya sebagai negara pertama di Asia yang berhasil keluar dari cengkeraman krisis. Tapi benarkah demikian yang terjadi sesungguhnya? Hehehe..! Ingat, tidak ada makan siang yang gratis..! Begitulah kira-kira ungkapan yang tepat untuk dilayangkan dalam kasus ini. Meskipun akhirnya Malaysia berhasil keluar dari krisis, tapi ongkos yang harus dibayar juga tidak murah. Limbang..! Ya, inilah nilai dari sebuah harga diri.
Setelah terbebas dari krisis, Mahathir Muhammad yang kemudian lengser keprabon, menyerahkan Limbang melalui tangan suksesornya, yakni Abdullah Ahmad Badawi. Meskipun beliau sendiri turut mencaci, tapi tak seorang pun tokoh di Malaysia yang berani menggugatnya di Mahkamah Internasional, termasuk sang Raja Agong sekalipun. Bukan seorang Abdullah Ahmad Badawi jika harus takut berkorban. Putera seorang tokoh agama paling berpengaruh di Malaysia ini, memilih rela menjadi tumbal sebuah harga diri bangsa, dari pada harus melawan tetapi hasilnya justru hanya akan mempermalukan bangsa dan negara dengan kadar yang tiada tara.
Fakta membuktikan, pasca penyerahan Limbang kepada Brunei, hingga kini tidak pernah ada satupun usaha diplomatik yang ingin mengungkit kembali masalah Limbang, karena segalanya telah terbayar tunai. Bahkan Brunei sendiri lebih memilih untuk meninggalkan dan membiarkan tapak istananya yang mewah dan megah di KL terbiar menjadi onggokan kumuh yang tak bernilai.
Bagi Brunei, pola hubungan yang dibangun dengan Malaysia, telah menjadi sebuah pelajaran penting yang sangat berharga. Mereka kini menyadari, di dunia ini, mungkin hanya tinggal Bruneilah yang menganut sistem monarki absolut, yang menempatkan titah raja, berada di atas segala-galanya. Sikap ekstra hati-hati ditunjukan dalam memilih rekan atau sahabat dalam melaksanakan hubungan internasionalnya.
Brunei bukanlah negara yang tertutup dari pengaruh luar. Tapi Brunei juga bukan negara yang agresif dalam menanamkan pengaruhnya di dunia internasional. Dengan kemampuan financial yang dimilikinya, sejatinya bisa saja Brunei menjadi negara industri yang besar seperti Singapore. Tinggal mendatangkan teknologi dan SDM, dalam sekejap mata, industri akan maju di tanah Brunei. Tapi bukan itu ambisinya.
Brunei sangat menyadari keterbatasan lahan yang ada. Mereka bukan Indonesia. Mereka juga gak mungkin membeli lahan di Indonesia. Mereka inginkan negeri mereka tetap hijau, minyak bisa dihemat dan rakyatnya selamat. Brunei akan memproteksi produk yang bisa dihasilkan oleh industrinya, tetapi tidak akan sungkan untuk import produk berteknologi tinggi. Sikap penuh kepedulian yang ditunjukan oleh sang Sultan pada rakyatnya inilah, yang membuat rakyat Brunei begitu loyal dan mencintai Sultannya.
Rakyat Brunei tidak pernah melihat kekuatan militer negara manapun sebagai sebuah ancaman, selama kekuatan itu tidak mengancam kedudukan sang Sultan. Karena itu tidak heran, ketika negara lain sedang sibuk berlomba menumpuk senjata, Brunei justru menghibahkan kapal-kapal perangnya. Bahasa filosofi yang ingin disampaikan Brunei adalah bahwa senjata hanya bersifat sesuatu, sementara kepercayaan adalah bersifat lebih dari itu. Kepercayaan memiliki nilai yang sama dengan kedaulatan. Karena itu Brunei dipercaya untuk berdaulat, dan berdaulat untuk memberikan kepercayaan.
Pelepasan Timor Leste dari NKRI, adalah titik awal kekaguman Sultan Brunei pada Indonesia. Baginda merasakan kepedihan yang dirasakan oleh sebagian besar rakyat Indonesia. Tapi kebenaran harus ditegakkan. Dan sejak saat itu pulalah, percaya atau tidak, bangsa Indonesia untuk pertama kalinya berani berdiri dengan kepala tegak dalam setiap perundingan internasional. Dalam kasus Sipadan dan Ligitan, meskipun kita kalah, tapi kita sudah berusaha maksimal hingga maju ke perundingan Mahkamah Internasional.
Brunei juga terpesona dengan sikap jantan kita saat menghadapi kasus Ambalat dan sikap luwes kita dalam kasus Aceh dan Papua. Bagi Brunei, apa yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia adalah sebuah pengejawantahan nilai-nilai luhur adat istiadat para leluhur yang sudah turun temurun. Untuk itu, pemberian atau hibah alat perang pada Indonesia adalah sebuah simbol kepercayaan tertinggi, karena bisa bermakna bahwa mulai sekarang, hidup dan matinya kami, andalah yang menjaga..! Beruntung para petinggi bangsa ini hidup di negara yang berlandaskan Pancasila, sehingga masih bisa berbudi pekerti luhur dan tahu berterima kasih.
![]() |
| Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam |
Pada tahun 2008, Sultan Hasanal Bolkiah, didaulat menjadi anggota kehormatan di berbagai satuan elite TNI. Sesudah itu, berbagai hibah peralatan militer dari Brunei mulai berdatangan. Dan baru-baru ini giliran sang Putera Mahkota yang menapak tilasi jejak sang Ayahanda. Beliau dinobatkan sebagai anggota kehormatan dalam satuan elite TNI, seperti Kopassus TNI AD, Marinir TNI AL dan Korpaskhas TNI AU. Lalu peran dan andil apa yang layak kita tunggu setelah ini? Hehehe..! Ternyata salah besar jika kita harus menunggu. Sang Putera Mahkota justru sudah berperan besar, jauh sebelum upacara penyerahan baret kehormatan..!
Seperti pada pagi itu, Jumat, 09 May 2014. Ini hari terakhir saya di Brunei Darussalam. Saya sengaja check out dari hotel lebih awal, meskipun jadwal penerbangan saya untuk pulang ke KL pada jam 16.20 petang. Sahabat saya ingin mengajak main tenis di sebuah tempat menarik yang pernah dia janjikan. Mobil kami meluncur ke arah jalan yang menuju ke airport, tapi setelah melewati airport, mobil kami tidak ada tanda-tanda akan berhenti.
Selanjutnya saya menduga bahwa kami akan main tenis di kawasan industri Muara, tapi ternyata tidak. Begitupun ketika saya coba menebak-nebak bakal lokasi kami untuk bermain tenis, mulai dari Royal Dutch Sell Petroleum Refinery Complex, pelabuhan peti kemas Muara Brunei, pelabuhan laut dalam yang dikelola PSA Holdings, dan mungkin salah satu hotel besar di sekitar pantai Muara.
Ternyata tidak ada satu pun terkaan saya yang tepat sasaran. Mobil saya memasuki jalan sepi yang pasangi oleh begitu banyak CCTV. Dan di sebuah pos penjagaan, sahabat saya membukakan jendela mobil sambil melambaikan tangan, yang disambut dengan sikap tegak penuh hormat dari sang penjaga pos. Disini banyak herder berseragam loreng berkeliaran. Mobil kami yang meluncur ke arah tepian dermaga tak luput dari perhatian dan pengawasan mereka. Inilah Muara Naval Base, markas besar angkatan laut Tentara Diraja Brunei Darussalam. Kawasan super luas yang tampak sedang berbenah melengkapi berbagai fasilitas yang dimilikinya.
Jika Naval Base TNI AL di Surabaya sudah terkenal sebagai Naval Base terbesar di Asia Tenggara, maka bisa jadi, Muara Naval Base adalah yang kedua terbesar. “Welcome to Surabaya..!” celetuk sahabat saya, membuat saya agak terperanjat, seakan dia bisa membaca pikiran saya. Ternyata pembangunan Muara Naval Base ini memang terinspirasi oleh kemegahan dan kelengkapan naval base TNI AL di Surabaya, pada saat Sultan Hasanal Bolkiah menerima penganugerahan anggota kehormatan Marinir di Surabaya pada 2008 dulu.
Di sisi kiri dan kanan kanal dermaga terlihat puluhan kapal perang berbendera asing. Di kanal lain, terlihat kapal kebesaran keluarga kerajaan yang megah, dengan bendera Brunei yang berkibar. Tidak jauh dari kapal itu, beberapa kapal lain turut bersandar. Yang membuat saya terkejut adalah adanya bendera merah putih yang berkibar..! Ya, itu KRI milik TNI AL. Sedangkan yang lainnya adalah kapal perang milik Uni Emirat Arab.
![]() |
| Royal Brunei Navy |
Mobil kami terus meluncur ke arah Timur dermaga. Di ujung pelabuhan yang sepi, kanalnya dibuat agak menjorok ke dalam. Tidak terlihat ada anjungan kapal di situ. Namun ketika mobil kami mulai mendekati batas zona terlarang, sekali lagi jantung saya berdegup kencang. Lutut saya terasa bagai tak bertulang.
Mata saya memelototi lima bendera merah putih yang berkibar di atas lima kapal selam..! 401, 401, 402, polos, polos..! Untuk meyakinkan rasa penasaran saya, saya share dengan sahabat saya, bahwa sebagian besar rakyat Indonesia hanya mengetahui bahwa TNI AL cuma memiliki 2 unit kapal selam.
Jika mereka melihat kelima kapal selam ini, maka mereka akan dibilang mimpi atau dicap pembohong. Tapi sahabat saya berujar, bahwa orang Brunei mengetahui TNI AL memiliki 20 unit kapal selam, jika Indonesia mengaku cuma punya kelima unit kapal selam ini, maka Indonesia adalah pembohong dan telah menganggap orang Brunei lagi mimpi. Hehehe..! Kadang dunia ini memang suka jungkir balik..!
Setelah melaksanakan shalat Jumat, kami meninggalkan kawasan Muara Naval Base. Jangan lewatkan untuk menikmati kesegaran ikan laut di daerah ini. Dan itu pulalah yang kami lakukan pada hari itu. Menyambangi sebuah restoran yang menyajikan ikan laut segar, menjadi acara yang tak kalah seru. Di dalam restoran itu, bukan saja ikan laut segar yang saya temui, tapi juga para prajurit TNI yang kekar..! Hahaha..! Senang sekali bisa bertemu dengan saudara sebangsa dan setanah air yang bertugas di luar negeri. Dia bilang ada ratusan personel TNI dari berbagai satuan yang setiap tahun di kirim ke Brunei untuk menjadi instruktur pelatih berbagai keahlian militer tentara Diraja Brunei. Wah, mendengar kabar ini, rasa bangga saya kian bertambah.
Waktu sudah menunjukan jam 14.00, ketika mobil kami memasuki pintu gerbang sebuah perkantoran megah. Sahabat saya meminta passport saya untuk discan di tempat pemeriksaan identitas yang ada di pos jaga. Setelah itu kami meluncur ke sebuah bangunan megah dengan tiang menjulang yang dihiasi lampu kristal yang menjuntai, lantai pualam dan karpet persia serta pernak pernik perak yang tampak berkilauan. Di ruangan terdepan, saya diminta mengisi buku tamu, yang telah lebih dulu mencantumkan nama beserta nomor ID Card saya. Setelah itu, pasport saya sekali lagi didekatkan pada sebuah layar komputer, yang diikuti oleh bunyi denting bell, pertanda bahwa pintu lift berwarna emas itu telah terbuka. Wow..! Menaiki sebuah lift, terasa menaiki sebuah kamar istana yang bergerak..! Jauh lebih megah dari istana negara di Jakarta atau istana Raja Agong Malaysia yang baru itu. Padahal ini bukanlah istana..!
Ya benar, itu bukanlah istana. Gedung itu adalah Bolkiah Garrison. Kantor Kementerian Pertahanan(MinDef) Brunei Darussalam. MinDef berada di bawah kendali langsung Sang Sultan. Alasannya ternyata tak lepas dari sejarah masa lalu. Ketika Inggris menawarkan Brunei untuk bersama-sama Sabah dan Sarawak, bergabung menjadi bagian dari Negara Persekutuan Tanah Melayu. Brunei dengan tegas menolak tawaran itu, dan lebih memilih untuk menunda kemerdekaan secara penuh dari Inggris.
Pada masa penantian penyerahan kedaulatan penuh ini, semua urusan luar negeri, pertahanan, dan moneter berada dibawah kekuasaan Inggris. Sedangkan sang Raja hanya berhak mengurusi masalah internal istana dengan segala tetek bengek adat istiadat yang mengaturnya, mengurusi masalah dalam negeri, termasuk didalamnya adalah masalah agama, seni budaya, transportasi, pendidikan dan kesehatan. Bagi Brunei, sektor Pertahanan bukan hal yang biasa. Pertahanan adalah simbol kedaulatan penuh kerajaan. Karena itu, sejak awal kemerdekaan, Kementerian Pertahanan akan selalu berada dibawah kendali sang Sultan, sebagai pemegang simbol kedaulatan penuh negara.
Nun berabad-abad lampau, kerajaan Brunei pernah dikuasai Sriwijaya dan Majapahit. Di masa kekuasaan Majapahit itulah, Brunei justru berhasil membebaskan diri bahkan juga berhasil memperbesar wilayah kekuasaannya hingga ke Manila. Kekuatan dan kebesaran masa lampau, menjadi kekuatan spiritual yang amat besar untuk menjadi sebuah bangsa yang mandiri dan berdaulat. Karena itu mereka pantang menjadi sebuah boneka bangsa manapun..!
Semangat dan rasa percaya diri yang besar itu, tergambar dari foto-foto pemimpin mereka yang banyak terdokumentasikan di dalam ruangan kantor sahabat saya yang luas dan besar. Termasuk kiriman foto teranyar dari Jakarta mengenai liputan perjalanan sang Putera Mahkota ke Indonesia. Pandangan mata saya tiba-tiba terpagut oleh sebuah foto besar yang terpajang di salah satu sisi dinding. Dua wajah itu, sudah sangat saya kenal, tapi yang satunya..?
“Those are our King with your former President Habibie and the other one is UAE’s King.” Sahabat saya seperti selalu mengetahui segala sesuatu yang sedang menjadi tanda tanya saya. Merekalah yang merancang dibentuknya poros kerjasama tiga negara antara Indonesia, Uni Emirat Arab dan Brunei Darussalam, yang kemudian dinamakan Poros Jakarta-Abu Dhabi-Bandar Seri Begawan (Poros JAB). Ini bukan semata-mata poros kekuatan, tapi lebih bersifat poros kepercayaan. Sama seperti halnya aliansi yang diajukan sahabat saya beberapa waktu lalu. Penunjukan saya, jelas bukan untuk mewakili negara dan pemerintah Indonesia, dan juga bukan untuk menjadi agen asing di Indonesia. Tapi sahabat saya meyakini dan percaya bahwa saya akan bisa bersikap bijaksana dalam menghadapi dua kepentingan yang berbeda. Pengalaman kami dulu sebagai kaum minoritas di tengah komunitas kami yang sangat Latino sewaktu tinggal kami tinggal di Maracaibo, Venezuela, telah berhasil membangun rasa dan sikap saling peduli dan melindungi, sehingga kemudian tumbuh rasa saling mempercayai.
Pola hubungan seperti inilah yang akan dianut Brunei untuk memenangkan kompetisi dalam bingkai Masyarakat Ekonomi Asean mendatang. Ketika banyak negara sibuk mengejar formalitas, ternyata Brunei menyodok ke bawah dengan jurus barunya yang terkadang sulit dibaca. Apapun jurusnya, fakta lebih bisa berbicara, hingga saat ini tidak ada satu negara pun yang berani menteror negara sekecil Brunei Darussalam. Bahkan China sekalipun terlihat lebih bersikap santun. Malaysia yang songong, tidak sekalipun berani melakukan unjuk kekuatan di sekitar pekarangan Brunei Darussalam. Pertanyaannya, jadi selama ini siapa yang jaguh..? Jawabannya yang pasti adalah, “Ya Indonesialah..!” Hehehe..! Selamat berakhir pekan, Bung..!.
by: yayan@indocuisine / Kuala Lumpur, 10 May 2014 (JKGR)
KRI Banjarmasin promosikan diri di Filipina
Diunggah Oleh:
filereid12345678
pada Minggu, Mei 11, 2014
Kapal Perang Republik Indonesia Banjarmasin mempromosikan keunggulannya di hadapan para pejabat Angkatan Laut Filipina, Sabtu waktu setempat.
Promosi kapal buatan PT PAL itu dilakukan serangkaian muhibah Kartika Jala Krida Taruna AAL Tingkat II Angkatan LXI ke Manila, setelah menyinggahi kota Qingdao (Tiongkok), Busan (Korea Selatan) dan Jepang, demikian laporan dari KRI Banjarmasin yang diterima Antara.
Promosi kapal perang Indonesia bernomor lambung 592 di Manila dilakukan dengan melakukan pelayaran bersama (joy sailing) awak dan kru KRI Banjarmasin bersama sejumlah personel Angkatan Laut Filipina yang dipimpin Komandan Pusat Pendidikan dan Latihan Angkatan Laut Filipina Laksamana Muda Jose Renan C Suarez AFP.
Pelayaran bersama menggunakan KRI Banjarmasin itu juga diikuti Direktur Utama PT PAL Firmansyah Arifin, Asisten Perencanaan Kepala Staf Angkatan Laut (Asrena Kasal) Laksda TNI Ade Supandi dan Koordinator Staf Ahli Kasal (Koorsahli Kasal) Laksda TNI Sudirman.
Selama pelayaran bersama berlangsung, dipertunjukkan latihan-latihan take off dan landing helikopter Bolcow dari geladak heli KRI Banjarmasin-592, peran docking dan undocking, dengan dikeluarkan LCU (Landing Craft Utility) dari badan kapal berjenis Landing Platform Dock (LPD) itu.
Sebelumnya Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Marsetio di Qingdao, Tiongkok mengatakan Filipina telah memesan dua kapal sejenis dari PT PAL.
"Pelayaran bersama KRI Banjarmasin dengan personel Angkatan Laut Filipina sekaligus mempromosikan kapal LPD yang akan dibeli oleh Filipina dan telah ditandatangani kontraknya," katanya.
Komandan KRI Banjarmasin-592 Letkol Laut (P) Jales Jamca Jayamahe mengemukakan pelayaran bersama tersebut untuk mempromosikan kapal perang jenis LPD PT PAL sekaligus lebih menjalin hubungan baik Angkatan Laut kedua negara.
Menanggapi aksi selama pelayaran bersama itu, Komandan Pusat Pendidikan dan Latihan Angkatan Laut Filipina Laksamana Muda Jose Renan C Suarez AFP mengatakan,"teknologinya cukup bagus, dan personelnya juga cekatan."
Sementara itu Direktur Utama PT PAL Firmansyah Arifin menjawab Antara mengatakan Filipina telah memesan dua kapal perang jenis LPD dengan nilai kontrak 90 juta dolar AS.
"Kapal pertama ditargetkan selesai pada pertengahan 2016 dan kapal kedua selesai delapan bulan kemudian. Baru Filipina yang memesan kapal perang jenis ini dengan nilai kontrak yang besar," katanya. (Antara)
![]() |
| Foto dokumentasi - KRI Banjarmasin - 592 saat melakukan proses penggenangan (platform) untuk mengeluarkan tank amfibi (arsip/ANTARA/Basrul Haq) |
Promosi kapal buatan PT PAL itu dilakukan serangkaian muhibah Kartika Jala Krida Taruna AAL Tingkat II Angkatan LXI ke Manila, setelah menyinggahi kota Qingdao (Tiongkok), Busan (Korea Selatan) dan Jepang, demikian laporan dari KRI Banjarmasin yang diterima Antara.
Promosi kapal perang Indonesia bernomor lambung 592 di Manila dilakukan dengan melakukan pelayaran bersama (joy sailing) awak dan kru KRI Banjarmasin bersama sejumlah personel Angkatan Laut Filipina yang dipimpin Komandan Pusat Pendidikan dan Latihan Angkatan Laut Filipina Laksamana Muda Jose Renan C Suarez AFP.
Pelayaran bersama menggunakan KRI Banjarmasin itu juga diikuti Direktur Utama PT PAL Firmansyah Arifin, Asisten Perencanaan Kepala Staf Angkatan Laut (Asrena Kasal) Laksda TNI Ade Supandi dan Koordinator Staf Ahli Kasal (Koorsahli Kasal) Laksda TNI Sudirman.
Selama pelayaran bersama berlangsung, dipertunjukkan latihan-latihan take off dan landing helikopter Bolcow dari geladak heli KRI Banjarmasin-592, peran docking dan undocking, dengan dikeluarkan LCU (Landing Craft Utility) dari badan kapal berjenis Landing Platform Dock (LPD) itu.
Sebelumnya Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Marsetio di Qingdao, Tiongkok mengatakan Filipina telah memesan dua kapal sejenis dari PT PAL.
"Pelayaran bersama KRI Banjarmasin dengan personel Angkatan Laut Filipina sekaligus mempromosikan kapal LPD yang akan dibeli oleh Filipina dan telah ditandatangani kontraknya," katanya.
Komandan KRI Banjarmasin-592 Letkol Laut (P) Jales Jamca Jayamahe mengemukakan pelayaran bersama tersebut untuk mempromosikan kapal perang jenis LPD PT PAL sekaligus lebih menjalin hubungan baik Angkatan Laut kedua negara.
Menanggapi aksi selama pelayaran bersama itu, Komandan Pusat Pendidikan dan Latihan Angkatan Laut Filipina Laksamana Muda Jose Renan C Suarez AFP mengatakan,"teknologinya cukup bagus, dan personelnya juga cekatan."
Sementara itu Direktur Utama PT PAL Firmansyah Arifin menjawab Antara mengatakan Filipina telah memesan dua kapal perang jenis LPD dengan nilai kontrak 90 juta dolar AS.
"Kapal pertama ditargetkan selesai pada pertengahan 2016 dan kapal kedua selesai delapan bulan kemudian. Baru Filipina yang memesan kapal perang jenis ini dengan nilai kontrak yang besar," katanya. (Antara)
09 Mei, 2014
Ini dia Lokasi Tempat Peluncuran Satelit Buatan Indonesia
Diunggah Oleh:
filereid12345678
pada Jumat, Mei 09, 2014
Selama ini peluncuran satelit milik Indonesia selalu dilakukan di stasiun luar angkasa negara lain. Kini selain membuat satelit sendiri, Indonesia ingin selangkah lebih maju: bermimpi memiliki stasiun luar angkasa sendiri. Di mana lokasinya?.
"Untuk bandara antariksa, posisi Indonesia di khatulistiwa, peluncuran roket nantinya di wilayah ekuator karena cenderung lebih murah. Daerah yang sedekat-dekatnya dengan ekuator yaitu Biak dan Morotai," demikian diungkapkan Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Thomas Djamaluddin, di Gedung BPPT, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (2/4/2014).
Dari survei yang dilakukan, Biak dipertimbangkan karena tanahnya cukup lapang. Sedangkan Morotai dipertimbangkan karena tanahnya milik pemda setempat. Pemilihan lokasi untuk stasiun luar angkasa itu, imbuhnya, selain mempertimbangkan aspek teknis juga mempertimbangkan aspek sosial, budaya dan lingkungan di sekitar, termasuk warganya.
"Ini yang harus dikaji, termasuk kesiapan-kesiapan lainnya," imbuhnya.
Namun, Thomas mengisyaratkan bahwa untuk mewujudkan bandara antariksa ini masih jauh. "Tapi entah kapan diwujudkan. Kita bercita-cita Indonesia punya bandar antariksa, rencana ke depan," tandas dia.
Satelit yang akan diluncurkan tahun 2015, yakni Lapan A2 dan Lapan A3, rencananya diluncurkan di Stasiun Luar Angkasa Sriharikota, India. (Detik)
"Untuk bandara antariksa, posisi Indonesia di khatulistiwa, peluncuran roket nantinya di wilayah ekuator karena cenderung lebih murah. Daerah yang sedekat-dekatnya dengan ekuator yaitu Biak dan Morotai," demikian diungkapkan Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Thomas Djamaluddin, di Gedung BPPT, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (2/4/2014).
Dari survei yang dilakukan, Biak dipertimbangkan karena tanahnya cukup lapang. Sedangkan Morotai dipertimbangkan karena tanahnya milik pemda setempat. Pemilihan lokasi untuk stasiun luar angkasa itu, imbuhnya, selain mempertimbangkan aspek teknis juga mempertimbangkan aspek sosial, budaya dan lingkungan di sekitar, termasuk warganya.
"Ini yang harus dikaji, termasuk kesiapan-kesiapan lainnya," imbuhnya.
Namun, Thomas mengisyaratkan bahwa untuk mewujudkan bandara antariksa ini masih jauh. "Tapi entah kapan diwujudkan. Kita bercita-cita Indonesia punya bandar antariksa, rencana ke depan," tandas dia.
Satelit yang akan diluncurkan tahun 2015, yakni Lapan A2 dan Lapan A3, rencananya diluncurkan di Stasiun Luar Angkasa Sriharikota, India. (Detik)
08 Mei, 2014
Putra Mahkota Brunei Uji Coba Rantis Dan Uji Tembak Senapan Ss 2 Tipe V 5 Buatan Pindad
Diunggah Oleh:
filereid12345678
pada Kamis, Mei 08, 2014
Usai menerima penghargaan menjadi warga kehormatan Korpaskhas, Putra Mahkota Brunei Darussalam, Pangeran Al Muhtadee Billah, Selasa (6/5) berkesempatan melakukan uji coba kendaraan Taktis (rantis) 4x4 Komodo tipe intai yang merupakan salah satu produk kendaraan khusus buatan PT.Pindad.
Selain itu dalam rangkaian kunjungannya ke fasilitas PT.Pindad, Pangeran Al-Muhtadee Billah juga berkesempatan untuk mencoba senapan SS 2 tipe V 5 Silencer yang juga merupakan produksi PT.Pindad
Setelah mencoba dan menguji rantis serta senapan tersebut pangeran merasa terkesan. Peninjauan nya ke PT.Pindad ini juga sebagai tindak lanjut ketertarikan pihak Brunei Darussalam akan Produk Alutsista yang diproduksi PT.Pindad setelah partisipasi PT.Pindad dalam Brunei Internasional Defence EXPO (BRIDEX) bulan Febuari lalu.
Disamping itu kunjungan ini juga merupakan langkah awal untuk menjalin persahabatan dan kerjasama antara dua negara, Indonesia dan Brunei Darusallam. (DMC)
Selain itu dalam rangkaian kunjungannya ke fasilitas PT.Pindad, Pangeran Al-Muhtadee Billah juga berkesempatan untuk mencoba senapan SS 2 tipe V 5 Silencer yang juga merupakan produksi PT.Pindad
Setelah mencoba dan menguji rantis serta senapan tersebut pangeran merasa terkesan. Peninjauan nya ke PT.Pindad ini juga sebagai tindak lanjut ketertarikan pihak Brunei Darussalam akan Produk Alutsista yang diproduksi PT.Pindad setelah partisipasi PT.Pindad dalam Brunei Internasional Defence EXPO (BRIDEX) bulan Febuari lalu.
Disamping itu kunjungan ini juga merupakan langkah awal untuk menjalin persahabatan dan kerjasama antara dua negara, Indonesia dan Brunei Darusallam. (DMC)
05 Mei, 2014
Wamenhan Sampaikan Update Modernisasi Alutsista TNI Kepada Pimpinan Media
Diunggah Oleh:
filereid12345678
pada Senin, Mei 05, 2014
Wakil Menteri Pertahanan, Sjafrie Sjamsoeddin menyampaikan “Update” modernisasi Alutsista TNI yang dilaksanakan dalam rangka membangun kekuatan TNI, kepada Pimpinan Redaksi Media, Selasa (29/4) di Kantor Kemhan, Jakarta.
Wamenhan yang juga selaku Ketua High Level Committee (HLC) mengatakan pembahasan update kali ini merupakan yang ketiga dari gelombang terakhir perkembangan modernisasi alutsista tahun 2010-2014 sebelum masuk kepada tahap terakhir menghadapi HUT TNI pada tanggal 5 Oktober yang akan datang.
Pada tahun 2014 ini juga merupakan tahun kedatangan dari pada Alutsista untuk menuju kepada tahap akhir dari modernisasi Alutsista tahun 2010-2014 yang dilaksanakan oleh Kabinet Indonesia Bersatu ke 2 sabagai bagian dari Renstra jangka panjang sampai tahun 2029.
“Yang ingin saya sampaikan disini kepada bapak-bapak sekalian adalah untuk mengetahui alutsista yang kita pesan ini sudah sampai dimana, dan bagaimana perkembangannya hingga saat-saat terkahir ini,” kata Sjafrie sjamsoeddin.
Pada kesempatan itu Wamenhan menyampaikan sejumlah Alutsista yang didatangkan dari luar negeri. Beberapa alutsista untuk TNI AD antara lain seperti kendaraan taktis (Rantis) 4x4, 2,5 ton yang akan masuk seluruhnya pada tahun 2014. Kemudian alutsista jenis Meriam Artilery Medan (Armed) 155 mm atau Howitzer (caesar) sebanyak 37 unit yang sudah bisa dioperasionalkan oleh 2 orang Kowan TNI, sehingga efisien bagi penggunaannya. Selain itu Howitzer ini merupakan meriam teknologi digital, dengan transmisi otomatis, serta power steering.
Pada bulan Juni tahun ini Alutsista Roket Sistem Multi Laras buatan Brazil sebanyak 38 unit dengan harganya 404 Juta US Dollar sudah bisa dikirim. Meriam dengan jarak ratusan Kilometer tersebut sudah di ui coba di Brazil. Disamping itu nantinya akan masuk dan bisa hadir pada 5 Oktober 2014 berupa peluru kendali rudal untuk Artileri Pertahanan Udara (Arhanud) sebanyak 111 Unit. Untuk Alutsista TNI AD lainnya yakni berupa Main Battle Tank (MBT) Leopard siap dikirim beserta tank pendukung.
Khusus modernisasi alutsista TNI AL, Wamenhan mengatakan masih memerlukan waktu untuk penyelesaian beberapa masalah administrasi. Salah satunya yang ada pada alutsista Heli Anti Kapal Selam (AKS), heli ini belum bisa didatangkan ditahun ini karena masih memerlukan klarifikasi tekhnis yang perlu diclear-kan dari penggunanya untuk diajukan kepada Kementerian Pertahanan. Sedangkan Tank Amphibi sebanyak 37 unit sudah hadir dan bisa dilihat sebelumnya di Surabaya.
Untuk TNI AU, terdapat beberapa perlatan militer yang didatangkan dari Luar negeri seperti Pesawat tempur T-50i yang sudah datang semuanya sebanyak 16 unit yang kemudian dilengkapi oleh pesawat tempur Sukhoi yang juga sudah lengkap sebelumnya. Untuk Pesawat Combat SAR EC -75 sebanyak 6 Unit dan CN-295 sebanyak 9 Unit akan masuk tahun ini. Berhubung pesawat ini merupakan Joint Production antara PT. DI dan Airbus Military maka akan memberikan kontribusi pada industri pertahanan dalam negeri. Apabila 9 unit itu sudah selesai dikirim maka nanti sepenuhnya PT. DI bertugas membangun 7 unit lagi dalam mengisi satu skadron 16 unit yang akan dikerjakan pada renstra mendatang.
Sementara itu rangkaian kesiapan alutsista yang diproduksi industri pertahanan dalam negeri, Wamenhan memaparkan terdapat jumlah tambahan dari Panser Anoa sebanyak 24 unit sebagai bagian dari 250 unit yang sudah dibuat PT Pindad dari tahun 2007. Selain itu terdapat pelaksanaan Retrofit Tank Ringan AMX-13 sebanyak 13 unit. Terkait Retrofit Tank AMX 13 ini Wamenhan mengatakan TNI sudah punya Tank ringan AMX -13 sebanyak kurang lebih 400 unit tetapi sudah tidak layak lagi sehingga harus diretrofit. Jika industry pertahanan dalam negeri bisa meretrofit Tank AMX 13 sejumlah 400 unit maka bisa menjadi potensi untuk memasarkannya ke negara-negara yang memerlukan.
Untuk TNI AL, Kapal Angkut Tank ada 3 unit yang bisa mengangkut tank ringan dan tank berat. Untuk 1 kapal ini kira-kira bisa mengangkut 10 tank ke pulau-pulau yang memerlukan Deploy dari tank itu sendiri. Sedangkan alutsista untuk mendukung TNI AU, PT DI sudah menambah lagi Helikopter NAS dan pesawat CN 235 Patroli Maritime Aircraft (PMA) yang digunakan untuk kebutuhan-kebutuhan Patroli Maritim.
Mengenai alutsista yang lainnya Wamenhan mengungkapkan telah dipesan Heli Apache 8 unit dari Amerika Serikat, diharapkan akan didatangkan 2 unit pertama pada saat 5 Oktober dan sekaligus latihan bersama AD Amerika Serikat.
Selain itu TNI AU mendatangkan pesawat F-16 sebanyak 24 unit hasil hibah dari Amerika Serikat, yang telah diupgrade menjadi setara dengan block 52. Pesawat ini akan datang secara bertahap mulai pada bulan Juni 2014.
Pemerintah juga membeli pesawat Hercules C-130 dari Australia sebanyak 5 unit dengan harga 906 Milyar rupiah. Direncanakan pada bulan Mei 2014 sudah melaksanakan kontrak pengadaannya. Pesawat Hercules ini dibeli dalam keadaan Serviceable, dan sudah mulai berdatangan satu persatu. Disamping itu terdapat program Hibah dari pemerintah Australia sebanyak 4 unit. Dengan adanya tambahan pesawat 9 unit hasil dari penagdaan dan hibah dari Australia, maka TNI AU sudah memiliki 32 pesawat Hercules untuk memperkuat skadron angkut. (DMC)
![]() |
| Modernisasi TNI AD, AL, AU |
Wamenhan yang juga selaku Ketua High Level Committee (HLC) mengatakan pembahasan update kali ini merupakan yang ketiga dari gelombang terakhir perkembangan modernisasi alutsista tahun 2010-2014 sebelum masuk kepada tahap terakhir menghadapi HUT TNI pada tanggal 5 Oktober yang akan datang.
Pada tahun 2014 ini juga merupakan tahun kedatangan dari pada Alutsista untuk menuju kepada tahap akhir dari modernisasi Alutsista tahun 2010-2014 yang dilaksanakan oleh Kabinet Indonesia Bersatu ke 2 sabagai bagian dari Renstra jangka panjang sampai tahun 2029.
“Yang ingin saya sampaikan disini kepada bapak-bapak sekalian adalah untuk mengetahui alutsista yang kita pesan ini sudah sampai dimana, dan bagaimana perkembangannya hingga saat-saat terkahir ini,” kata Sjafrie sjamsoeddin.
Pada kesempatan itu Wamenhan menyampaikan sejumlah Alutsista yang didatangkan dari luar negeri. Beberapa alutsista untuk TNI AD antara lain seperti kendaraan taktis (Rantis) 4x4, 2,5 ton yang akan masuk seluruhnya pada tahun 2014. Kemudian alutsista jenis Meriam Artilery Medan (Armed) 155 mm atau Howitzer (caesar) sebanyak 37 unit yang sudah bisa dioperasionalkan oleh 2 orang Kowan TNI, sehingga efisien bagi penggunaannya. Selain itu Howitzer ini merupakan meriam teknologi digital, dengan transmisi otomatis, serta power steering.
Pada bulan Juni tahun ini Alutsista Roket Sistem Multi Laras buatan Brazil sebanyak 38 unit dengan harganya 404 Juta US Dollar sudah bisa dikirim. Meriam dengan jarak ratusan Kilometer tersebut sudah di ui coba di Brazil. Disamping itu nantinya akan masuk dan bisa hadir pada 5 Oktober 2014 berupa peluru kendali rudal untuk Artileri Pertahanan Udara (Arhanud) sebanyak 111 Unit. Untuk Alutsista TNI AD lainnya yakni berupa Main Battle Tank (MBT) Leopard siap dikirim beserta tank pendukung.
Khusus modernisasi alutsista TNI AL, Wamenhan mengatakan masih memerlukan waktu untuk penyelesaian beberapa masalah administrasi. Salah satunya yang ada pada alutsista Heli Anti Kapal Selam (AKS), heli ini belum bisa didatangkan ditahun ini karena masih memerlukan klarifikasi tekhnis yang perlu diclear-kan dari penggunanya untuk diajukan kepada Kementerian Pertahanan. Sedangkan Tank Amphibi sebanyak 37 unit sudah hadir dan bisa dilihat sebelumnya di Surabaya.
Untuk TNI AU, terdapat beberapa perlatan militer yang didatangkan dari Luar negeri seperti Pesawat tempur T-50i yang sudah datang semuanya sebanyak 16 unit yang kemudian dilengkapi oleh pesawat tempur Sukhoi yang juga sudah lengkap sebelumnya. Untuk Pesawat Combat SAR EC -75 sebanyak 6 Unit dan CN-295 sebanyak 9 Unit akan masuk tahun ini. Berhubung pesawat ini merupakan Joint Production antara PT. DI dan Airbus Military maka akan memberikan kontribusi pada industri pertahanan dalam negeri. Apabila 9 unit itu sudah selesai dikirim maka nanti sepenuhnya PT. DI bertugas membangun 7 unit lagi dalam mengisi satu skadron 16 unit yang akan dikerjakan pada renstra mendatang.
Sementara itu rangkaian kesiapan alutsista yang diproduksi industri pertahanan dalam negeri, Wamenhan memaparkan terdapat jumlah tambahan dari Panser Anoa sebanyak 24 unit sebagai bagian dari 250 unit yang sudah dibuat PT Pindad dari tahun 2007. Selain itu terdapat pelaksanaan Retrofit Tank Ringan AMX-13 sebanyak 13 unit. Terkait Retrofit Tank AMX 13 ini Wamenhan mengatakan TNI sudah punya Tank ringan AMX -13 sebanyak kurang lebih 400 unit tetapi sudah tidak layak lagi sehingga harus diretrofit. Jika industry pertahanan dalam negeri bisa meretrofit Tank AMX 13 sejumlah 400 unit maka bisa menjadi potensi untuk memasarkannya ke negara-negara yang memerlukan.
Untuk TNI AL, Kapal Angkut Tank ada 3 unit yang bisa mengangkut tank ringan dan tank berat. Untuk 1 kapal ini kira-kira bisa mengangkut 10 tank ke pulau-pulau yang memerlukan Deploy dari tank itu sendiri. Sedangkan alutsista untuk mendukung TNI AU, PT DI sudah menambah lagi Helikopter NAS dan pesawat CN 235 Patroli Maritime Aircraft (PMA) yang digunakan untuk kebutuhan-kebutuhan Patroli Maritim.
Mengenai alutsista yang lainnya Wamenhan mengungkapkan telah dipesan Heli Apache 8 unit dari Amerika Serikat, diharapkan akan didatangkan 2 unit pertama pada saat 5 Oktober dan sekaligus latihan bersama AD Amerika Serikat.
Selain itu TNI AU mendatangkan pesawat F-16 sebanyak 24 unit hasil hibah dari Amerika Serikat, yang telah diupgrade menjadi setara dengan block 52. Pesawat ini akan datang secara bertahap mulai pada bulan Juni 2014.
Pemerintah juga membeli pesawat Hercules C-130 dari Australia sebanyak 5 unit dengan harga 906 Milyar rupiah. Direncanakan pada bulan Mei 2014 sudah melaksanakan kontrak pengadaannya. Pesawat Hercules ini dibeli dalam keadaan Serviceable, dan sudah mulai berdatangan satu persatu. Disamping itu terdapat program Hibah dari pemerintah Australia sebanyak 4 unit. Dengan adanya tambahan pesawat 9 unit hasil dari penagdaan dan hibah dari Australia, maka TNI AU sudah memiliki 32 pesawat Hercules untuk memperkuat skadron angkut. (DMC)
Langganan:
Postingan (Atom)



-60+M+Ke-1+KRI+Sampari-628.jpg)
















+untuk+mengeluarkan+tank+amfibi.jpg)




