10 Maret, 2014

Lanud Halim Gelar Latihan 'Rajawali Perkasa' 2014

Latihan tingkat Lanud Halim Perdanakusuma yang dinamakan Rajawali Perkasa tahun 2014, digelar mulai hari ini, Senin (10/3/2014) hingga 13 Maret 2014 mendatang.

Lanud Halim Gelar Latihan 'Rajawali Perkasa' 2014
Anggota Lanud Halim Perdanakusuma

Menandai awal latihan dilaksanakan upacara pembukaan di dalam Hanggar Skadron Udara 17 dengan inspektur upacara Komandan Lanud Halim Perdanakusuma Marsma TNI Sri Pulung.

Peserta upacara meliputi Perwira, Bintara, Tamtama dan PNS dengan dihadiri pejabat Lanud Halim Perdanakusuma serta Penilai dari KoopsauI dan Sekkau.

Dalam sambutannya Komandan Lanud Halim Perdanakusuma Marsma TNI Sri Pulung, menyampaikan untuk memelihara profesionalisme pelaksanaan tugas-tugas dukungan operasi udara.


Seluruh jajaran dan Prajurit yang bertugas di Lanud Halim Perdanakusuma akan terlibat event tahunan Latihan Rajawali Perkasa, sebagai latihan puncak tingkat Lanud Halim Perdanakusuma.

Sasaran latihan adalah memberikan pengalaman, melatih serta meningkatkan kemampuan personel dalam memahami Doktrin, Petunjuk dan Prosedur yang berlaku dalam Operasi TNI AU maupun Operasi TNI.

"Selain itu sasaran latihan adalah terwujudnya kerjasama satuan yang sinergis secara nyata sesuai peran dan fungsinya dalam mendukung Satgas Dukungan Tempur," ujarnya.

Danlanud juga menyinggung empat macam operasi udara yang akan dilakukan para pelaku, yang meliputi Operasi Pengintaian Udara, Angkutan Udara, Pengungsian Medik Udara dan Pengamanan Alutsista.

"Jadikanlah latihan ini sebagai wahana meningkatkan kualitas tugas,menguji kemampuan masing-masing unsur dan instansi yang terlibat dalam suatu latihan bersama guna melaksanakan operasi udara sebagai core business TNI AU," tegas Marsma TNI Sri Pulung. (POL)


Kantongi 150 Pesanan N219, PTDI Mampu Produksi 15 Unit/Tahun

Bagi PT Dirgantara Indonesia (PTDI) proyek pengembangan pesawat N219 sangat menggairahkan. Mereka sudah mengantongi pemesanan sebanyak 150 unit pesawat namun saat ini kapasitasnya masih 15 unit/tahun.
Kantongi 150 Pesanan N219, PTDI Mampu Produksi 15 Unit/Tahun
"Harapannya ya bisa bagus," kata Asisten Direktur PTDI Irzal Rinaldi Zailani pada wartawan saat ditemui di PT DI, Jalan Pajajaran, Bandung, Jawa Barat, Jumat (7/3/2014).

Irzal mengatakan PTDI punya kapasitas produksi 10-15 unit pertahun. Namun kapasitas tersebut bisa ditambah jika ada peningkatan peralatan produksi.


Selain memenuhi kebutuhan dalam negeri, Irzal pun menyatakan akan melakukan ekspansi ke pasar internasional. "Setelah ini, tentu kita akan tawarkan ke luar. Karena kompetitor di kelas ini hanya twin otter yang masa umur sayapnya sudah pada habis," ungkapnya.

Seperti diketahui PTDI bersama Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN) mendapatkan proyek untuk mengembangkan pesawat N219 berkapasitas 19 orang. Untuk pembuatan desain hingga prototipe, pemerintah melalui Bappenas akan mengucurkan dana sekitar US$ 30 juta atau sekitar Rp 300 miliar.

"Untuk riset dan pengembangan sampai dengan prototipe itu di-cover full oleh pemerintah via LAPAN. Jumlahnya sekitar US$ 30 juta," uar Irzal.

Rencananya LAPAN akan melaksanakan uji terbang dan uji struktur, sedangkan PTDI akan membuat prototipenya. (Detik)


Pangdam ajak masyarakat ciptakan Papua kondusif

Panglima Komando Daerah Militer XVII/Cenderawasih Mayor Jenderal TNI Christian Zebua mengajak masyarakat untuk menciptakan Papua yang aman dan kondusif.

Pangdam XVII Cenderawasih Mayjen TNI Christian Zebua memeriksa perlengkapan prajurit TNI

"Diharapkan partisipasi dan kekompakan serta pemikiran untuk bersatu, juga berkomitmen secara bersama-sama guna membangun Papua dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Papua," katanya melalui siaran pers yang dikirim kepada Antara di Jayapura, Senin.

Menurut dia, elemen masyarakat Papua yang diwakili oleh tokoh masyarakat, adat, dan agama diajak pula untuk menciptakan kondisi aman menjelang pelaksanaan Pemilihan Umum 2014.


"Tokoh-tokoh ini sangat besar partisipasinya dalam menyukseskan pemilu, karena itu merupakan suatu hak dan kewajiban seluruh anak bangsa untuk menyukseskan," ujarnya.

Untuk menciptakan situasi yang aman dan kondusif, pihaknya sering melaksanakan tatap muka dengan para tokoh masyarakat, adat, dan agama, sehingga tali silahturahim yang telah terjalin selalu terjaga.

"Jadi kami sama sekali tidak berbicara masalah politik, tetapi silaturahim secara periodik, ke depan kami juga melaksanakan acara seperti ini secara periodik untuk menjalin silaturahim," katanya.

Selama ini, katanya, hubungan Kodam XVII/Cenderawasih dengan tokoh masyarakat, adat, dan agama relatif sangat baik.

Ia mengatakan para tokoh berbagai elemen masyarakat itu, juga banyak berpartisipasi dalam kegiatan positif yang dilaksanakan kodam setempat.

"Dan kegiatan silaturahim ini akan terus kami bangun karena yang menciptakan aman itu lebih pada kontribusi dari masyarakat," katanya. (Antara)


Stemme S15: Pesawat Riset Lapan Terbaru

Selasa  4 Februari 2014 menjadi hari penting yang lain bagi Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan). Setelah berhasil menguasai iptek di bidang satelit mikro dan peroketan, lembaga litbang di bawah Kementerian Ristek ini mulai menapak ke iptek penerbangan tingkat advanced. Hal itu ditandai dengan uji terbang perdana glider performa tinggi Stemme S15 sebagai langkah awal menuju perancangan sistem air-surveilance yang baru bagi Indonesia.

Stemme S15: Pesawat Riset Lapan Terbaru
Pesawat terbang Hi-Altitude Long Endurance ini akan dimanfaatkan untuk memantau wilayah perairan dan pemetaan wilayah. Selanjutnya akan dipasangi kendali jarak jauh pada kontrol penerbangannya agar bisa diterbangkan tanpa awak.

Hari itu, glider ramping bermesin tunggal dengan rentang sayap 18 meter tersebut diterbangkan oleh Capt. Irwan dari Balai Kalibrasi Kementerian Perhubungan mengitari Curug, Banten, disaksikan pimpinan Lapan. Dengan wahana dua awak yang bisa terbang hingga 20  jam ini, Lapan berharap dapat menyusun sistem pemantau khusus untuk misi pertahanan dan pemetaan yang mobile, efektif dan efisien bagi wilayah  luas.


Merujuk evolusi sistem pengamatan udara taktis di berbagai negara maju, penggunaan pesawat terbang Hi-Altitude Long Endurance memang telah semakin populer. Jika dengan satelit misi pemantauan diketahui rentan halangan awan, hal ini bisa direduksi dengan bermanuver di bawah awan. Setelah menguasai performa S15, Pusat Teknologi Penerbangan Lapan rencananya akan mencangkokan perangkat flight control dengan kendali jarak jauh agar bisa pula diterbangkan tanpa awak.

Pilihan atas Stemme S15 dijatuhkan setelah tim teknis mempertimbangkan kelebihan dan kekurangan kandidat lain seperti Diamond DA42 MPP, Diamond DA40 NG, Diamond HK 36 MPP dan Cessna 172R. S15 adalah varian pesawat glider bermotor rancangan khusus Stemme dirancang untuk misi surveillance atau pemantauan udara. Sayapnya telah diperkuat untuk menenteng perangkat seperti FLIR dan kamera video untuk patroli udara dan monitoring lingkungan.


Mendukung kapal perang

Untuk tahap pertama, sistem pemantauan udara berbasis  S15 ini akan dikerahkan untuk mendukung kapal perang TNI AL dalam operasi pengamanan wilayah perairan. Dengan kecepatan jelajah hanya 220 km/jam, salah satu produk andalan Stemme UMS, Strausberg, Jerman ini, bisa  memantau wilayah sejauh 3.000 km dari ketinggian 400-2.000 meter dengan stabilitas aerodinamik yang amat tinggi.

“Kami sudah berdiskusi dengan pihak TNI AL. Pesawat seperti ini bisa menggantikan fungsi kapal ukuran medium. Dengan demikian mereka cukup fokus ke kapal perang besar sebagai kapal komando dan kapal-kapal kecil sebagai kapal kombatan. Untuk memantau wilayah perairan Indonesia, kami pikir cukup dikerahkan empat pesawat seperti ini. Data pantauan bisa dikirim riil-time ke kapal komando,” ungkap Kepala Pustekbang Dr. Gunawan S. Prabowo kepada Angkasa di Jakarta.

Ditambahkan, pihaknya tengah berusaha menyiapkan sistem air-surveillance dengan mobilitas yang amat tinggi. Untuk keperluan ini, baik sistem kendali jarak jauh maupun wahana telah dirancang bisa dimasukkan ke dalam kontainer khusus sehingga bisa dikirim ke berbagai tempat.

Dari operational requirement yang pernah dipaparkan, Pustekbang juga akan mengaplikasikannya sebagai pesawat riset pemula, wahana untuk  verifikasi dan validasi data citra satelit, pemotretan foto udara, monitoring dan pemetaan daerah banjir, pemantauan titik panas kebakaran hujan, serta  misi riset Lapan lainnya.

Angkasa mencatat, perancangan sistem air-surveillance berbasis S15 ini merupakan proyek ketiga Pustekbang terkait program penguasaan  iptek penerbangan. Sementara sebagian enjinirnya dikerahkan untuk menguasai reverse-engineering S15, tahun ini juga sebagian enjinir lainnya diterjunkan untuk merampungkan rancang bangun pesawat komuter N219. Komuter 19 penumpang yang digarap bersama PT Dirgantara Indonesia ini ditargetkan rampung pada 2015.

Sebelum ini mereka telah merampungkan sejumlah pesawat tanpa awak (UAV) ukuran kecil untuk mengasah kemampuan perancangan sistem kendali jarak jauh untuk kontrol penerbangan. ( Adrianus Darmawan | Angkasa )


09 Maret, 2014

TNI AL Miliki Kapal Selam kelas Kilo buatan Jerman..??

Ya…judul di atas agak janggal, kita ambil dari press realese Dispenarmatim dalam berita berkaitan Komando Armada RI Kawasan Timur yang akan menggelar kekuatan Alat Utama Sistem Senjata (Alutsista) TNI AL dalam waktu dekat di dermaga Koarmatim Ujung Surabaya. Berikut petikan beritanya:

”Kemudian kapal perang jenis korvet,frigate,destroyer vanspeilk kapal patroli cepat (Fast Patrol Boat) buatan PT PAL Indonesia, Kapal Cepat Rudal dan Kapal Cepat Torpedo (KCT),kapal Penyapu Ranjau,dan Buru Ranjau (BR),kapal bantu,Kapal Selam Kelas Kilo buatan Jerman dan berbagai macam kapal perang lainnya  “


Kapal Selam U-212A
Kapal Selam U-212A
 
Semua formiler tahu Kapal selam jenis Kilo adalah buatan Rusia dan menimbulkan pertanyaan kapal selam yang mana yang dimaksud oleh Dispenarmatim, yang jelas-jelas tahu akan seluk beluk alutsista yang dipakai, karena mereka adalah usernya.


Kapal Selam Kilo Indonesia
Dalam release resmi terakhir pengadaan kapal selam jenis killo masih dalam tahap peninjauan team TNI AL ke pangkalan  Northen Fleet Rusia pada february lalu dan belum diputuskan akan mengambil berapa buah kapal selam killo dari yang dihibahkan. Sehingga bila menganut statemen resmi dari pemerintah maka KS Kilo belum berenang di wilayah kedaulatan kita dan belum menjadi alutsista TNI AL.

Sedangkan bila  menurut analisa dan rumor yang berkembang di forum militer bahwa KS kilo sudah beroperasi dan sudah lama menjadi Arsenal TNI AL. Ada yang menyimpulkan TNI AL sudah mempunyai 2 unit KS Killo bekas dan 2 unit KS Improve Killo 936 yang terakhir datang pada tahun 2013 tetapi Informasinya dirahasiakan. Bila memang Informasinya dirahasiakan keberadaannya, kenapa KS Killo akan ditampilkan dalam gelar alutsista TNI AL?.

Kapal selam kelas Kilo buatan Jerman (disingkat menjadi KSK2BJ)
Yang menarik adalah mengulas kapal selam jenis ini. Bila informasi ini merupakan jenis informasi background dari pemerintah maka kita hanya bisa menganalisanya. Analisanya adalah yang dimaksud oleh Dispenarmatim itu, KS setara Killo buatan Jerman. Jenis KS buatan Jerman yang setara dengan KS Kilo adalah KS type U 212/U 214.

Kapal selam U212 adalah pengembangan dari kapal selam U209 yang ber AIP. Kapal selam baru buatan Jerman U-212 A ini hampir tidak bersuara. Juga hampir tidak memancarkan radiasi panas dan sepenuhnya terbuat dari logam non magnetik. U-212 A merupakan kapal selam tercanggih di dunia karena menggunakan sel bahan bakar hidrogen yang dikembangkan oleh galangan kapal angkatan laut Jerman Howaldtswerke Deutsche Werft, yang mengklaim itu menjadi “puncak teknologi kapal selam Jerman.”

Kapal super-stealth ini adalah yang pertama dari jenis yang akan diaktifkan oleh sel bahan bakar hidrogen revolusioner yang memungkinkan itu pelayaran tanpa kebisingan atau knalpot panas. Desain struktur sirip kemudi belakang yang berbentuk silang atau huruf “X”, mampu menyelam di perairan dangkal, bahkan hingga kedalaman hanya 15 m! Cocok sekali buat peran “sea denial” ALKI dengan kedalaman laut dangkal. Lambung atau hull menggunakan non magnetic steel, dilengkapi dengan anechoic tiles atau pelapis penyerap gelombang akustik.

Menurut Bernd Arjes, seorang kapten di Angkatan Laut Jerman. ”Kami beroperasi di perairan pesisir sekitar Eropa dan kapal selam ini dirancang khusus untuk menemukan kapal selam. Jika Anda ingin menemukan kapal selam lain tentu saja anda harus tak bersuara,” katanya. Dengan teknologi terbaru, ia menambahkan, “Kapal selam ini hampir tidak terdeteksi”. U-212 A tidak seperti kapal selam konvensional, yang perlu udara untuk membakar solar, fuel cell tidak memerlukan oksigen untuk beroperasi. Ini berarti dapat tetap terendam selama berminggu-minggu – menahan napas berkali-kali lebih lama dari sepupu kapal selam yang menenggak solar.Sebagai kapal selam pemukul kapal selam dipersenjatai 12 torpedo kelas berat yang dipandu, masing-masing mampu menghancurkan sebuah kapal perang atau menonaktifkan sebuah kapal induk.



Setelah Angkatan Laut Italia memesan 2 unit KS U 212 A versi ekspor selanjutnya diberi nama type U 214 yang diekspor ke beberapa negara diantaranya Yunani, Korea selatan,Turki dan Portugal.

KS U214 Yunani
Kontrak pertama ketika HDW memenangkan tender pembuatan tiga kapal selam diesel kelas U214 dan satu option di bawah program Archimedes pada Februari 2000. Kontrak ini merupakan kontrak pertama untuk kelas U214. Kapal selam dilengkapi dengan sistem AIP (Air-Independent Propulsion) membuat sebuah kapal selam diesel mampu beroperasi dibawah permukaan air lebih lama. ThyssenKrupp Marine Systems (TKMS) sebagai induk perusahaan HDW membeli HSY pada Januari 2005, menanamkan investasi yang besar untuk memodernisasi galangan kapal tersebut agar mampu membangun kapal selam modern. Saat ini, HSY menjadi galangan kapal selam konvensional terbesar dan termaju di kawasan Mediterania. Kapal selam pertama dibangun di HDW sedangkan sisanya dibangun di HSY. Konstruksi kapal selam pertama dimulai Februari 2001 dan diluncurkan di Kiel April 2004. Kapal selam pertama diberi nama HS Papanikolis S120, sedangkan kapal ketiga dan selanjutnya diberi nama HS Pipinos S121, HS Matrozos S122, dan HS Katsonis S123.

Pemerintah Yunani menolak menerima kapal selam pertama HS Papanikolis S120 dari HDW pada 2006, dengan alasan ditemukan masalah teknis dan rancangan yang cacat. AL Yunani menemukan kinerja sistem AIP yang buruk, sistem pertempuran ISUS bermasalah, isu sistem hidraulik serta buruknya kemampuan muncul dipermukaan pada high sea. AL Yunani meminta HDW untuk memperbaiki kelemahan tersebut. HDW telah melakukan perbaikan pada HS Papanikos, tetapi kapal selam masih berada di dok di Kiel sejak 2006, menunggu pemerintah Yunani menerimanya. Akan tetapi Yunani tetap tidak menerima meskipun kapal selam telah memenuhi persyaratan bahkan dalam beberapa kasus ada yang melebihi. Sebagai tambahan HS Papanikos telah mendapatkan sertifikasi dari Bundesamt für Wehrtechnik und Beschaffung (BWB). HDW meminta pembayaran HS Papanikos Juli 2007 tetapi Yunani menolak membayarnya.

HDW dan HSY mengadakan beberapa kali pertemuan dengan pemerintah Yunani lebih dari dua tahun tetapi tidak diperoleh penyelesaian. Kedua perusahaan bermaksud mencatatkan masalah ini ke arbitrase internasional.Sementara itu, tiga kapal lainnya dilaporkan telah berada pada tahap akhir penyelesaian. HS Pipinos diluncurkan April 2007, HS Matrozos 2008 dan terakhir HS Katsonis 2008. HS Okeanos S118 merupakan kapal selam pertama yang yang diluncurkan di HSY setelah dimodernisasi di bawah program Neptune II pada 26 Februari 2009.

Sebuah situs pertahanan Yunani memberitakan pada 28 Mei 2009, KASAL Yunani Laksamana George Karamalikis mengatakan AL Yunani akan menerima tiga kapal selam yang dibuat di HSY sedangkan Papanikos tidak akan diterima, sebagai gantinya akan dipesan satu kapal selam baru untuk memenuhi kebutuhan empat unit. HDW diijinkan untuk MENJUAL Papanikos kepada negara lain. Karena alasan sesungguhnya Yunani lagi dilanda resesi ekonomi berat sehingga tidak sanggup membayar pembelian Kapal selam tersebut.


HS Papanikos di HDW, Kiel, Jerman (Foto: evworld.com)
HS Papanikos di HDW, Kiel, Jerman (Foto: evworld.com)

Andai KS kelas Kilo buatan Jerman itu HS Papanikolis S120
Indonesia sebagai negara pengguna KS U209 dan mempunyai hubungan baik dengan pemerintahan Jerman pastinya ditawari Kapal selam U214 yang tidak terbayar milik Yunani tersebut. Kedatangan Presiden SBY ke Jerman pada tahun 2013 menghasilkan beberapa kesepakatan pembelian alutsista.yang diungkap ke publik diantaranya pembelian 103 MBT Tank Leopard dan 50 unit Marder,18 unit Pesawat Latih Grob,pembelian material khusus untuk pasukan khusus dan pemeliharaan baterai kapal selam dan menghasilkan sebuah Memorandum of Understanding (MoU) kegiatan dalam bidang pertahanan. Sedangkan pembelian alutsista strategis lainnya bisa saja tidak diungkap ke publik karena Inodnesia dan Jerman mempunyai MOU perlindungan Informasia.

“Telah ditandatangani MoU tentang perlindungan informasi guna keperluan pengembangan industri pertahanan agar keperluan informasi industri pertahanan dapat dikelola dan dijaga oleh kedua pihak,” ujar Wamenhan Sjafrie Sjamsoeddin dalam keterangannya di Berlin, Jerman, pada hari Selasa tgl 5/3/2013"

Bila kontrak pembelian KS U214 eks Yunani tersebut dibuat pada tahun 2013 maka pada tahun ini 2014 adalah saat kedatangan KS setara Kilo buatan Jerman dan ikut gelar alutsista TNI AL. Sebelum dikirim pastinya pihak TNI AL menginginkan perubahan perubahan speck sesuai yang diinginkan, misal penginstalan missile IDAS. IDAS (Interactive Defense and Attack System for Submarines) adalah misil anti pesawat pertama di dunia yang bisa ditembakkan dari bawah permukaan laut. IDAS menjadi salah satu ancaman P8 Poseidon karena jangkauannya cukup jauh, 20 km.

Gelar kekuatan Alutsista TNI AL pada minggu depan adalah ajang pergelaran Alutsista yang sudah dimiliki TNI AL pada periode 2004-2014. Gelar tersebut sebagai bentuk Inspeksi kesiapan Alutsista TNI AL dalam menjaga keutuhan NKRI dan Kita akan menunggu manuver KS kelas Kilo buatan Jerman atau dengan cal sign KSK2BJ

Sebagai rakyat yang cinta akan TNI yang kuat menuju Indonesia jaya tidak akan menolak bila Pemerintah mengambil kebijakan membeli KS U214 eks Yunani mengekor sukses  pembelian Usman Harun Class. – (By Satrio | JKGR)


Bantu Cari Pesawat Malaysia, TNI AL Turunkan Lima KRI

Indonesia turut dalam jajaran pencari pesawat maskapai Malaysia Airlines yang hilang. Keterlibatan Indonesia ini sesuai dengan permintaan pihak Malaysia pada Sabtu malam kemarin.

KRI MANDAU 621 & KRI LAYANG 805

Hal ini disampaikan oleh Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Laut, Laksama Pertama Untung Suropati, yang mengatakan bahwa mereka telah mengerahkan lima kapal milik TNI. "Iya, kami mengirimkan lima KRI yang terdiri dari KRI corvette dan patroli cepat, serta satu pesawat udara intai maritim," kata Untung kepada VIVAnews, Minggu 9 Maret 2014.

Dia menambahkan kelima KRI dan satu pesawat intai itu sudah berangkat hari Minggu pagi ini dan diperkirakan telah tiba di lokasi titik terakhir pesawat melakukan kontak terakhir.


"Tadi, sekitar jam 10:00 hingga 11:00, saya dikabari kapal-kapal kita sudah melintasi garis batas utara Selata Malaka," kata dia.

TNI AL, ujar Untung, akan memfokuskan pencarian pesawat di Selat Malaka, Penang. Hal itu lantaran adanya informasi yang diperoleh dari Angkatan Udara Malaysia mengenai objek yang tidak dikenal ke arah barat laut.

"Namun, ini semua baru dugaan ya. Karena sebelumnya sempat disampaikan bahwa pesawat Malaysia Airlines diketahui memutar balik ke arah kiri menuju bandara tempat lepas landas," ujar Untung.

Ditanya soal kemungkinan pesawat ditemukan dalam keadaan selamat, Untung mengaku kemungkinan itu sangat kecil. Pasalnya, pesawat telah hilang dari pantauan radar selama lebih dari 24 jam. Kendati demikian, dia tidak ingin berspekulasi karena bangkai pesawat belum ditemukan.

Namun anehnya, ujar Untung, untuk pesawat secanggih Boeing 777-200 ER, di saat mengalami keadaan darurat malah tidak memancarkan sinyal darurat.

"Keanehan itu didukung dengan pernyataan tidak ada satu pun kapal laut, pesawat udara, atau stasiun pengawas yang berhasil menangkap sinyal darurat itu. Padahal, untuk kategori pesawat paling canggih di dunia, seharusnya saat mengalami crash landing dengan kekuatan tertentu, akan memancarkan sinyal darurat yang bisa ditangkap oleh bandara, kapal laut, dan pesawat udara," papar dia.

Indonesia bergabung dengan lima negara lainnya yakni China, Vietnam, Singapura, Filipina dan Amerika Serikat, yang sudah lebih dulu diterjukan ke lokasi untuk mencari pesawat yang memuat 227 penumpang dan 12 kru.

AS sendiri seperti menurunkan kapal perang penghancur kelas Arleigh Burke mereka ke perairan Vietnam untuk membantu pencarian . Misi pencarian itu juga melibatkan pesawat tempur, kapal fregat dan kapal selam.  (VivaNews)