14 Mei, 2014

Prajurit Korps Marinir TNI AL Mendarat di Pantai Banongan

Prajurit Korps Marinir TNI AL Mendarat di Pantai Banongan
Prajurit Korps Marinir TNI AL melakukan pendaratan amfibi di pantai Banongan, Asembagus, Situbondo, Selasa (13/05/2014).

Pendaratan amfibi prajurit Korps Marinir TNI AL yang disaksikan Kadis Komlek Kormar Kolonel Marinir Baedowi, Komandan Menkav-1 Mar Letkol Mar Herkulanus Herry Sintarto, Kabag Renhar Diskmlek Kormar Letkol Mar Edy Cahyo, Pabanren Sops Kormar Letkol Mar Mauriadi, Pasops Menkav-1 Mar Letkol Mar Kusyuwono, Taruna Akademi TNI Tingkat IV, Siswa IPDN dan sejumlah mahasiswa yang sedang mengikuti Latsitardanus tersebut merupakan latihan Parsial menjelang Latihan Gabungan TNI tahun 2014.


Dalam pendaratan amfibi yang dipimpin Komandan Pasrat Letkol Marinir Agus Gunawan Wibisono, PKBT Letkol Mar Aris Budiadi, Danyon Armed Letkol Mar Kurniawan B.C.P tersebut, selain melibatkan prajuritnya, Korps Marinir TNI AL juga menurunkan material tempurnya, diantaranya 10 unit BMP-3F, 3 unit PT-76 M, 24 unit BTR-50, 4 unit Kapa K-61, 2 unit Kapa PTS, 4 unit How-105 mm dan 1 unit RM-70 Grad serta 2 buah perahu karet beserta motor tempelnya.

Seluruh personel dan material tempur Korps Marinir TNI AL melaksanakan latihan Parsial dalam rangka persiapan Latihan Gabungan TNI tahun 2014 dengan menggunakan KRI Makassar-590, KRI Teluk Ende-517, KRI Teluk Banten-516, KRI Teluk Mandar-514 dan KRI Teluk Sampit-515, selain itu ada KRI Pulau Rupat, KRI Pulau Rengat dan KRI Rimau.

Latihan pendaratan amfibi diawali dengan taklimat dari Pangkogasgabfib “Daratkan Pasukan Pendarat” kemudian dilanjutkan dengan bantuan tembakan kapal, setelah itu meluncurlah Tank Amfibi PT-76 dan BMP-3F pada gelombang pertama pendaratan, kemudian diikuti gelombang dua dan tiga pendaratan yaitu BTR-50, dilajutkan Sekoci Pendarat Pasukan sebagai gelombang keempat, pada gelombang lima dan enam 4 unit Kapa-61 yang membawa senjata Howitzer 105 mm dan pada gelombang terakhir satu buah LCU dengan membawa roket multi laras RM 70 Grad.

Setelah semua personel dan material tempur sudah mendarat, dilanjutkan dengan penembakan Howitzer 105 mm dan roket RM 70 Grad dari pantai Banongan dengan sasaran berada di daerah latihan Puslatpur Korps Marinir Baluran yang berjarak 20 km. (Marinir)









 


Laga Rafale TNI AU vs Rafale TUDM

by:yayan@indocuisine / Kuala Lumpur, 13 May 2014

Mengintai Jendela Tetangga:
LAGA RAFALE TNI AU vs RAFALE TUDM


Sejatinya, hari ini adalah hari libur. Kesempatan emas saya untuk mencurahkan kebahagiaan, kehangatan dan kecintaan bersama keluarga. Tapi tidak untuk saat ini..! Kemarin pagi, sebuah amplop berwarna cokelat tergeletak di atas meja kerja. Boss besar saya telah menyampaikan pesan pentingnya melalui email. Kami tidak sempat bertemu sebelum beliau bertolak ke Jedah, sementara saya masih berada di Brunei.


Laga Rafale TNI AU vs Rafale TUDM

Hanya pesan biasa, tidak ada hal yang istimewa. Rincian menu Perancis untuk makan siang dan wine yang special. Hal yang sedikit mengerutkan kening adalah karena disitu ada bagian yang diwarnai sebagai tanda penekanan: “Keep it as a VIP order.” sambil merujuk pada nilai transaksi yang dalam bentuk dollar dan terbilang besar. Melihat pihak mana yang bertransaksi, saya hanya bisa mengangguk tanda maklum.


Namun tadi pagi sehabis joging, saya membaca artikel bung Narayana yang mengulas tentang rencana TNI AU yang akan mengakuisisi pesawat tempur Rafale F2 sebanyak 20 unit. Spontan lidah saya yang biasanya hanya bertutur bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, tadi pagi tiba-tiba saya terdorong untuk untuk bertutur dalam bahasa Perancis. Isteri saya yang melihat gelagat itu menjadi heran dan bertanya-tanya. Untunglah, isteri saya adalah wanita muslim Iran yang lahir dan besar di Bordeaux, Perancis. Jadi soal bahasa Perancis, mungkin dia jagonya. Hahaha..!

Sepanjang perjalanan ke kantor, pikiran saya terus menerawang. Meraba-raba siapa saja sosok yang akan saya temui nanti. Termasuk, pertanyaan apa yang mungkin bisa saya sampaikan dalam kesempatan tersebut.

Tidak terasa, kesibukan di dapur akhirnya sudah memasuki tahap finishing. Appetizer, soup, salad, cheese, maincourse, pasta, dessert, fruits, cake and pudding, coffee and tea, wine, cigar, hingga ke garnishing dan flowers, semua sudah stand by di atas serving table. Beberapa chef terbaik yang kami miliki, semua sudah siap membantu saya untuk membuat dan menyajikan hidangan terbaik dan menarik dari kami.

Tibalah saatnya, satu per satu tamu VIP yang kami nantikan mulai memasuki area dining room, yang sudah diset sedemikan rupa, sehingga terasa lebih indah dan elegan. Kami pun beraksi, menu demi menu kami keluarkan, hingga tinggallah mereka tersandar di atas kursi dengan perut yang kekenyangan, sembari mengobrol menikmati cerutu, minuman hangat dan cemilan kecil. Pada saat itulah, saya keluar untuk menyapa dan berbasa-basi. Satu per satu saya hampiri, bertanya kabar dan lain-lain.

Beberapa di antara mereka, ada yang sudah saya kenal, bahkan ada juga yang sudah sangat akrab. Di artikel saya yang sebelumnya mungkin saya pernah membahas salah satu sosok yang kebetulan pada kesempatan hari ini turut hadir juga bersama para petinggi militer Malaysia, yang apabila sedang berseragam akan terlihat deretan bintang di pundaknya. Saat yang paling mendebarkan adalah ketika saya harus menyapa salah satu pria bule jangkung dan ramah yang diapit oleh para pesohor di Malaysia. Dia adalah Daniel Fremont, CEO Dassault Aviation Malaysia. Ini adalah pertemuan kami yang kedua, setelah sebelumnya saya juga sempat bertemu dalam perhelatan DSA 2014 di PWTC. Senang sekali bisa bertemu lagi dengannya. Apalagi pada kesempatan ini, bisa dibilang dialah sosok sentralnya. Saya menyampaikan ucapan terima kasih dan salam dari Boss besar saya yang tidak bisa hadir. Saya juga tidak lupa mengucapkan selamat atas keberhasilannya menyelenggarakan event “UAV Siswa Challenge 2013-2014″ yang diikuti berbagai perguruan tinggi di Malaysia. Beberapa pertanyaan ringan pun sempat saya lontarkan.

Pada satu kesempatan, dia keceplosan berbahasa Perancis, sehingga langsung saya kejar juga dengan bahasa Perancis. Praktis, selama beberapa menit kami berkomunikasi dalam bahasa dia. Pertanyaan-pertanyan penting yang sedari rumah sudah disiapkan, berhasil disampaikan dengan baik dan mendapatkan jawaban yang cukup atau bahkan mungkin sangat menggembirakan. Berikut adalah kesimpulan yang saya peroleh:

A. Sebagaimana Indonesia, Malaysia juga akan mengakuisisi pesawat tempur Rafale, dan menyertakan industri lokalnya dalam program offset yang menyertainya.

B. Malaysia akan mengakuisi 18 unit/1 skuadron Rafale, dengan skema leasing yang telah ditawarkan oleh salah satu bank internasional yang bekerja sama dengan bank lokal.

C. Indonesia TERPAKSA/DITUNTUT untuk mengakuisi minimal 20 unit Rafale pada TAHAP AWAL, sebagai prasyarat untuk mendapatkan TOT pada salah satu teknologi penting tertentu, yang akan dikerjakan oleh PT DI.

D. Indonesia tidak mengeluarkan biaya sepeserpun untuk TOT, tetapi seluruh nilai offset akan dialihkan untuk mendapatkan teknologi penting tertentu yang telah disepakati.

E. Mengingat 20 unit Rafale yang dipesan ini adalah pesanan tahap awal, berarti akan ada kontrak wajib untuk pesanan lain pada tahap-tahap berikutnya.

F. Yang justru menjadi pertanyaan terpenting dan terbesarnya adalah, berapa unitkah jumlah total Rafale yang dipesan oleh TNI AU pada Dassault Aviation?
(Untuk membantu agar lebih mudah mendapatkan jawabannya, bagaimana kalau kita rame-rame karungin Bung Narayana?) Hehehe..! Maaf cuma gurau Bung..!

Tidak terbayang bagaimana gemuruhnya angkasa raya Indonesia, manakala pespur-pespur itu berkejaran membelah langit dan merajut setiap jengkal kedaulatan yang terbentang luas di atas bumi khatulistiwa. Kali ini kita akan lebih gagah, meskipun sang tetangga turut memilikinya, bahkan rumah baru untuk mereka pun telah tuntas dibina.

Untuk pengetahuan semuanya, Malaysia baru saja meresmikan terbentuknya Markas Pemerintahan Wilayah Timur, atau kalau dibahasa Indonesiakan, mungkin artinya kurang lebih sama dengan Markas Komando Gabungan Wilayah Pertahanan di bagian Malaysia Timur, yang berkedudukan di Muara Tuang, kota Samarahan, Sarawak, Malaysia. Pada awal pendiriannya, konon tempat ini diperuntukan sebagai reaksi sekaligus juga langkah antisipasi terhadap kemungkinan semakin maraknya pemberontakan yang dilakukan oleh kelompok pemberontak Sulu. Namun sahabat saya di Brunei mempertanyakannya, jika tujuannya untuk menghadapi pemberontak di Sabah, mengapa mereka mendirikannya di Sarawak, yang justru lebih dekat dengan Brunei dan Indonesia. Mau nangkis serangan dari Philipine, atau dari Brunei dan Indonesia?.

Yang jelas, menurut kabar burung yang nyangkut di pohon, Markas Pemerintahan Wilayah Timur, adalah sebuah soft reaction atas rencana strategis Indonesia yang akan segera membentuk beberapa Kogabwilhan, selain juga didorong oleh adanya aktifitas modernisasi fasilitas militer milik Brunei. Selamat bakar jagung, bung..! Hehehe..!
 

(by:yayan@indocuisine / Kuala Lumpur, 13 May 2014 | JKGR )


“TRUE STORY” Secuil Kisah-kisah Awak “Hiu Kencana” yang tidak terpublikasikan (Bagian 5)

Submarine type 214 Angkatan Laut Portugal
Submarine type 214 Angkatan Laut Portugal

Kisah ini sengaja saya tulis berdasarkan catatan-catatan tertulis yang saya punya dan juga cerita-cerita dari para “Silent Warrior” pinisepuh saat mereka dulu bertugas mengawaki “Hiu-hiu besi” kita dalam menjaga Kedaulatan NKRI yang mungkin selama ini belum pernah terpublikasikan. Dan tulisan ini saya dedikasikan juga kepada seluruh “Beliau-beliau” tadi berikut juga dengan para “Silent Warrior” muda yang kini masih bertugas mengawal NKRI.
Dan enggak lupa tulisan ini saya buat secara bersambung (soale dibuat disela-sela kesibukan saya alias kalo lagi mood dan ada waktu luang ya nulis, kalo enggak mood ya males nulis soale kerjaan saya bejibun banyaknya). So harap maklum kalo-kalo nanti artikel sambungannya lama banget keluarnya ya….

Hantu Laut Terbaru TNI AL

Tahun 2010, disaat Panglima Tertinggi kita (yang boleh kita sebut sebagai Jenderal Besar karena jasanya dalam memodernisasi Alutsista TNI, walaupun Beliau menolak) bertugas menjalankan roda pemerintahan dalam periode terakhirnya, dalam rangka pemenuhan kekuatan pertahanan yang telah dirintis selama masa pemerintahan pertamanya.


Beliau membuat suatu program yang bernama MEF, dimana pada tahap pertama ini sering dikenal dengan sebutan minimum esential force. Fokus dalam program ini adalah pemenuhan kekuatan pertahanan terutama alutsista baik itu buatan dalam negeri maupun pengadaan dari luar negeri.

Mengingat akan mendesaknya kebutuhan pertahanan kita, dimana kita membutuhkan sekali kuantitas alutsista secara cepat mengingat tinggi nya potensi ancaman yang kita hadapi selama beberapa tahun kedepan, Beliau menginstruksikan agar segera bertindak cepat, smart dan tidak lupa jangan sampai mengabaikan kualitas dari alutsista yang diadakan dalam arti disini adalah musti canggih dan modern.

Beliau juga menginstruksikan agar pemenuhan alutsista strategis tersebut diutamakan produk dalam negeri apabila kita sudah mampu membuatnya dan apabila kita belum mampu maka dilakukan pengadaan persenjataan strategis dari negara-negara sahabat dengan tidak lupa juga harus disertai dengan transfer of technology nya agar suatu saat kita mampu memproduksinya sendiri.

Singkat cerita tim kecil peninjau kita untuk pengadaan armada Kapal Selam segera bertolak menuju suatu kota bernama Kiehl, dimana dari proposal penawaran yang telah masuk terdapat sebuah KS tak bertuan yang konon dahulu kala KS itu adalah milik sebuah negara di benua Eropa yang terhantam krisis ekonomi paling pertama dan hingga saat ini negara itu masih tetap sekarat.

KS tak bertuan ini bukannya jelek dan bukan pula produk gagal, Galangan pembuatnya sejak KS ini pertama kali di launching sudah melakukan beberapa modifikasi sedemikian rupa sesuai permintaan negara sekarat tadi. tapi apa daya walaupun segala spek yang diminta telah dituruti oleh Galangan pembuatnya tetapi tetap aja negara sekarat ini ngeyel enggak mau menerima dengan berbagai macam alasan (padahal intinya mereka tidak mempunyai uang untuk membayar) hingga puncaknya sekitar bulan September 2009 terjadi pembatalan kontrak dan mereka berselisih hingga ke Badan Abitrase Internasional sana.

Tim kita yang meninjau KS telah berkesimpulan bahwa KS ini benar-benar cocok untuk mengawal wilayah NKRI kedepannya, selain canggih dan modern KS ini juga mempunyai kemampuan khusus, yaitu : spesialisasi sebagai pemburu KS lawan yang mumpuni.

Tim pun melaporkan hasil peninjauannya ini yang kemudian ditindak lanjuti oleh pemerintah dengan pembahasan secara intensif dengan pihak Galangan pembuat dan pemerintahan negaranya mengenai detail-detail mulai dari jumlah unit yang diinginkan hingga transfer of technologynya dimana nantinya kita juga mendapat bantuan dalam hal transfer of technology dari sebuah negara Eropa yang berpenduduk mayoritas beragama Islam, yang juga kebetulan memesan jenis KS yang sama dengan kita.

Singkat cerita pada sekitar awal tahun 2012 Kontrak ini ditandatangani dalam sebuah MoU berbarengan dengan pembelian alutsista-alutsista lainnya dari negara ini yang kemudian diperkuat oleh kesepakatan bersama alias MoU pada bulan Maret 2013 tentang perlindungan informasi guna keperluan pengembangan industri pertahanan agar keperluan informasi industri pertahanan dapat dikelola dan dijaga oleh kedua pihak, saat Kunjungan Resmi Panglima Tertinggi kita ke negara pembuat KS ini.

Setelah kontrak itu, tahun 2012 KS ini pun segera diupgrade sesuai dengan keinginan kita, sementara awak-awak Hiu Kencana yang akan mengawakinya juga serius berlatih disana, dan pada akhirnya menjelang akhir tahun 2013 semua persiapan telah beres dan KS kita ini berlayar selama hampir dua bulan menuju home base nya di Indonesia.

    Tidak menunggu lama KS ini pun langsung diuji kemampuannya di lautan kita dalam berbagai operasi patroli termasuk Operasi Gabungan di perairan Ambalat yang tengah berlangsung sekarang ini.

Data KS kita tersebut adalah sebagai berikut: panjang 64 meter, lebar badan tekan 7 meter, sarat kapal 6 meter. Dengan Bouyancy nya yang diatas 20% yang berarti bahwa walau kapal ini mengalami kebocoran, akan tetapi dengan reserve buoyancynya yang sebesar itu kemungkinan penyelamatan kapal masih amat tinggi.

KS kita ini sudah dilengkapi dengan AIP fuel cell system, yaitu sistem propulsi yang merupakan penggabungan sistem konvensional yang terdiri dari generator diesel dengan baterai asam timbal dengan dengan sel bahan bakar yang dilengkapi dengan oksigen dan penyimpanan hidrogen. Sistem ini terdiri dari sembilan PEM (membran polimer elektrolit) sel bahan bakar dan masing-masing memberikan tenaga antara 30kW sampai dengan 50kW

Berat pemindahan airnya (displacement) diatas air 1.690 ton, dibawah air (menyelam) 1.860 ton. Kapal kita ditenagai dengan dua buah mesin diesel type MTU 16V-396 bertenaga 2350 HP, dibawah air bergerak dengan menggunakan dua motor listrik pokok Piller Ntb56.40-10 0.97 MW, dengan sistem AIP dua buah HDW Siemens PEM fuel cell module BZM120 (120 kW x 2), serta motor ekonomi satu buah Siemens Permasyn (2.85 MW). Besarnya tenaga diesel dikapal ini memberikan gambaran akan usaha memperkecil probabilitas discretion, dengan kemampuan menyelam yang sangat lama yaitu sekitar tiga minggu sebelum KS mengisi baterai kembali.

Transfer of powernya menggunakan system electrical transfer power, seperti pada type U-209 dan 877 K4b (636 mutan export version) yang sudah terlebih dulu kita miliki. Kecepatan KS kita ini berkisar sekitar 12 knot saat berlayar diatas air, 20 knot saat menyelam, dan 8 knot saat berlayar dengan rezim RDP (rabotayet diesel potwodoy / DBA diesel bekerja dibawah air,) dan 4 Knot saat menggunakan rezim motor ekonomis.
Jarak jelajahnya mencapai 12.000 mil (19.300 km). Dengan kecepatan 8 knot pada rezim RDP KS kita mampu mencapai jarak jelajah sejauh 420 nmi (780 km) dan saat berlayar dengan rezim motor ekonomis dan dalam kondisi silent run, akan dapat mencapai jarak 1.248 nmi (2.310 km) dengan kecepatan 4 knot.

Kemampuan kedalaman selam normalnya mencapai 250 meter dan dengan kedalaman maksimalnya 400 meter. Sementara Awak kapalnya berjumlah kurang lebih 27 orang dengan lima orang diantaranya Perwira, yang berarti bahwa walau bobot KS kita ini besar, akan tetapi dengan jumlah awak yang sedikit menandakan kalau seluruh jeroan KS kita ini berbentuk digital dan telah terkomputerisasi.

Disamping desainnya yang memang sudah dirancang untuk seminimal mungkin terdeteksi oleh sonar musuh, KS kita ini juga sudah dikaji magnetic anomaly signaturenya, sehingga selain susah dideteksi oleh MAD (Magnetic Anomaly Detection ) juga KS kita ini hampir tidak bersuara alias noiseless karena dari buangan mesin propolsinya hampir tidak memancarkan radiasi panas selain itu badan KS kita ini sepenuhnya terbuat dari logam non magnetik dan khusus bagian Lambung atau hull nya menggunakan logam non magnetik yang dilengkapi dengan anechoic tiles atau pelapis penyerap gelombang akustik sehingga bisa disebut KS kita ini berkemampuan stealth.

KS kita ini juga mempunyai kemampuan mumpuni untuk menyelam di perairan dangkal hingga kedalaman hanya 20 sampai 15 meter, itu dikarenakan desain struktur sirip kemudi belakang yang berbetuk silang dengan low noise skew back propeller nya. Sehingga sangat efektif dipakai patroli terutama di kawasan Indonesia bagian mana hayo? Hehehe…


Submarine type 214 Angkatan Laut Yunani
Submarine type 214 Angkatan Laut Yunani

KS kita memiliki enam tabung peluncur torpedo caliber 53,3 cm yang terbagi dalam dua grup dengan masing-masing grup berisi tiga peluncur torpedo yang tertata pada bagian haluannya. Peluncur ini dapat menembakkan torpedo kelas berat DM2A4 Atlas Elektronik standar Angkatan Laut Jerman, Torpedo kelas berat WS (Whitehead Alenia Sistemi Subaquei) Black Shark serta Torpedo SUT yang sudah bisa kita produksi sendiri dan sebagai konfigurasi alternatif setiap torpedo dapat digantikan dengan ranjau. Torpedo cadangan yang dibawanya berjumlah empat belas torpedo.

Pengendalian torpedonya pada kapal sudah menggunakan Kongsberg MSI-90U Basic Command and Weapons Control System (BCWCS) yaitu sistem kontrol yang dapat memadukan interface sistem navigasi, sensor dan kontrol senjata secara bersamaan. Sistem ini didasarkan pada data kinerja tinggi dengan sistem komputerisasi yang terdistribusi atas perintah dasar dan sistem kendali senjata (berdasarkan CTC). Dengan Kemampuan ini kecuali dapat dipergunakan untuk mengendalikan tembakan dua jenis torpedo sekaligus yaitu standard straight run long heavy weight torpedo bagi sasaran kapal atas air dan short torpedo kendali anti kapal selam, juga telah memungkinkan KS kita melacak (searching) beberapa sasaran sekaligus serta membidik dan menembak (tracking and firing) dua diantara sekian banyak sasaran yang telah dilacak dengan suatu kepresisian yang sempurna.

Kalau untuk mengatasi gangguan helicopter anti kapalselam yang mencoba mengintai KS kita ini juga dilengkapi dengan Rudal IDAS (Interactive Defense and Attack System for Submarines) yang merupakan pengembangan dari Rudal IRIS-T buatan Diehl BGT Defence, HDW and Kongsberg Defence & Aerospace, yang dapat ditembakkan dari peluncur torpedonya.


Sonar yang dipergunakan pada KS kita merupakan suatu sonar pelacak dan penyerang (search and attack) aktif pasif berfrekwensi rendah dari type Atlas Elektronik DBQS-40 sonar suite yang memiliki array silindris untuk deteksi frekuensi menengah pasif berupa type TAS-3 low-frequency towed array sonar dan type FAS-3 flank array sonar for low / medium-frequency detection, passive ranging sonar dan hostile sonar intercept system.

Sementara untuk deteksi sonar aktif frekuensi tingginya adalah type Atlas Elektronik MOA 3070 mine detection sonar, yang mampu mengindera kapal musuh dari jarak yang amat jauh.


Sistem sensor bawah lautnya adalah type Atlas Isus 90, yang dapat mengintegrasikan seluruh sensor secara elektronik dan terpadu baik itu dalam bentuk perintah dan fungsi kontrol di kapal selam. Sementara untuk sistem peperangan elektroniknya di KS kita telah terpasang EADS Thales FL1800U.

Sementara untuk Radarnya menggunakan surface search radar Kelvin hughes type 1007 I-band navigation radar, yang bekerja pada frekwensi sekitar 8 s/d 10 GHz , sedangkan sarana komunikasinya dilengkapi dengan TX/RX HF dan VHF.


Periskopnya menggunakan dua Zeiss Optronic SERO 14 search dan SERO 15 attack, yang dipergunakan baik sebagai attack maupun search periscope dengan penggunaan Quasi Binocular Viewing untuk mengurangi stress pada mata penggunanya. Selain itu sistem pengukuran sensor elektronik dan sistem penentuan posisi kapal selam juga dipasang di tiang Optronicsnya.


Submarine type 214 Interior

Sebagaimana juga pada KS Jerman pada umumnya KS kita ini juga memiliki senjata pengelabuan berupa decoy atau jammers berupa efektor yang berbentuk kendaraan bawah air kecil menyerupai bentuk torpedo dengan hydrophones dan emitter akustik. Dimana untuk senjata pengelabuan ini dintergasikan dengan sistem elektronik type TAU 2000 buatan ATLAS dan ELAC, Decoy ini sendiri ditempatkan pada empat peluncur khusus yang masing-masing berisi sepuluh tabung peluncur.

Bersambung…..
“Wira Ananta Rudhiro”
“Jalesveva Jayamahe”




“NKRI harga mati!”
By. Pocong Syereem (JKGR)


13 Mei, 2014

Bom Rakitan Gagal Meledak di Pos Polisi Kartasura

Rangkaian bom pipa kembali meneror kota budaya, Solo, Jawa Tengah. Senin (12/5) pukul 11.15 WIB, ditemukan rangkaian bom di pos lantas 10 Tugu Kartasura, Kabupaten Sukoharjo, Solo, Jawa Tengah.


Kejadian penemuan bom di Pos Pol 10 Tugu Kartasura, diakui seorang warga setempat Waluyo. Siang itu, dirinya kaget ketika banyak polisi di pos polisi 10 yang tidak seperti biasanya.

"Saya waktu itu melintas di depannya. Saya cuma berhenti sebentar soalnya nggak boleh mendekat," ujarnya.

Kemudian dirinya bertanya kepada temannya, Kelik yang sehari-hari menjadi calo bus di sekitar tempat kejadian. "Saya baru tahu ada bom dari teman saya itu kalau ada benda kayak bom di bawah meja di dalam pos," ujarnya.


Kata Waluyo Keliks empat melihat petugas lari dari pos. "Kelik cerita petugas lari karena ada benda diduga bom di bawah meja," kata Waluyo.

Setelah itu baru mobil Gegana datang. "Pos polisi memang jarang dikunci. Ngga tahu setelah kejadian ini dikunci atau tidak kalau malam," ujarnya.

Informasi yang dihimpun Tribun Jateng, rangkaian itu berupa rangkaian tabung besi hitam dengan rangkaian kabel dan sebuah ponsel.

Kemudian, barang bukti yang diamankan yakni ponsel Nokia seri 3315 dan rangkaian kabel berbentuk tabung besi dibungkus plastik hitam.

Atas penemuan itu, polisi sudah memeriksa beberapa saksi, diantara dua anggota Polri yang bertugas di pos lantas tersebut.

Kejadian bermula saat, seorang anggota polri yang bertugas di pos tersebut mendengar suara seperti alarm ponsel. Lalu anggota mengecek asal suara.

Ternyata suara tersebut berasal dari bawah meja. Setelah dilihat ada rangkaian kabel kotak dibungkus plastik hitam dan ponsel. Atas temuan itu, anggota melapor ke penjagaan lalu lintas Kartasura dan melapor ke Polsek Kartasura.

Setelah penemuan, barang bukti rangkaian itu diamankan di Brimob Subden 1 Den C. Dan pukul 15.44 WIB di Lapangan tembak Subden 1 detasemen C, dilakukan disposal oleh tim Jibom subden 1 detasemen C.

Kekinian, seluruh barang bukti tersebut diamankan di Polres Sukoharjo. (Tribun)


TNI AL Lirik Teknologi Kapal Selam ITS

TNI AL memerpanjang kerjasamanya dengan ITS Surabaya. Penandatanganan kerjasama itu dilakukan Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Dr Marsetio MM dengan Rektor ITS Prof Dr Ir Tri Yogi Yuwono DEA, di gedung Rektorat ITS, Senin (12/5/2014).

Kapal Perang Crocodile-Hydrofoil Riset ITS
Kapal Perang Crocodile-Hydrofoil Riset ITS

Kerjasama yang dijalin kedua pihak, sebenarnya sudah berjalan lama. Peran TNI AL memang besar atas berdirinya ITSm sebab Institut Angkatan Laut menjadi cikal bakal berdirinya ITS. Piagam Kesepakatan Bersama dan Perjanjian kerjasama antara TNI AL dengan ITS yang ditandatangani oleh Rektor ITS dan KSAL, diperpanjang dalam bentuk kerjasama bidang pendidikan.


Laksamana TNI Marsetio mengatakan, TNI AL telah bekerjasama dengan 25 Perguruan Tinggi di Indonesia, termasuk ITS yang tertua sejak 1950-an. “Dahulu banyak pengajar dari AL dan namanya juga Institut AL. Pengajar-pengajar tersebut merupakan cikal bakal berdirinya ITS,” ujar Marsetio.

Ia juga mengungkapkan bahwa saat ini TNI AL sedang membangun industri pertahanan dalam negeri. Namun dalam upaya mengembangkan industri pertahanan dalam negeri itu, ternyata masih belum banyak melibatkan perguruan tinggi. Yang paling banyak dilibatkan adalah industri saja. “Ke depan, pengadaan kapal harus melibatkan perguruan tinggi dan kebetulan pertengahan September nanti kita kedatangan tiga buah kapal baru, jenis fregat dari Inggris,” ujar Marsetio.

Sementara Rektor ITS Tri Yogi Yuwono menjelaskan, ITS saat ini juga memiliki kapal selam yang merupakan riset ITS. “Kita juga sedang menggarap kapal selam dan masih belum jadi, baru sekitar 70 persen rampung. Yakni Kapal Perang Crocodile-Hydrofoil (KPC-H),” papar Tri Yogi.

Awalnya, kapal tersebut didanai Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek), namun terhenti. Saat ini ITS sedang mengupayakan agar bisa mendapatkan pendanaan dari Kemdikbud. “Ya semoga bisa untuk membantu riset tersebut,” ucapnya.

Mendengar sambutan Triyogi, Marsetio pun menanggapi bahwa beliau tertarik dengan tawaran ITS. “Mendengar ada kapal perang crocodile tersebut, saya tertarik untuk melihatnya terlebih dahulu,” ujarnya. ( Centroone )


KCR-40 Mulai Dipasangi CIWS AK-630 Buatan Rusia

Dua Kapal Cepat Rudal tipe KCR-40 tampil fotonya dalam forum militer Kaskus. Kali ini kedua KCR-40 tersebut masing-masing KRI Clurit 641 dan KRI Kujang 642 sudah dilengkapi dengan meriam putar/gatling AK-630 sebagai kanon utamanya menggeser kanon Denel Vektor 20 mm yang dipasang sementara di haluan. 

KCR-40 Mulai Dipasangi CIWS AK-630 Buatan Rusia
CIWS AK-630

AK-630 merupakan sistem senjata close-in weapon system (CIWS) buatan Rusia yang sepenuhnya otomatis. Sistem ini terdiri dari meriam putar 30mm enam laras yang dipasang pada sebuah turret otomatis tertutup, meriam ini diarahkan oleh radar dan sistem pelacak serta dilengkapi deteksi televisi untuk varian tertentu. Angka kode "630" artinya 6 barel kaliber 30 mm.

AK-630 digunakan untuk pertahanan terhadap rudal anti-kapal dan senjata presisi berpandu lainnya, namun juga dapat digunakan terhadap pesawat sayap tetap atau rotary wing, kapal besar dan kapal kecil lainnya, sasaran di pesisir, dan ranjau apung.


Kapal dengan sistem propulsi fixed propeller 5 daun ini persenjataan lengkapnya terdiri dari 1 unit meriam AK-630 6 barel kaliber 30 mm di haluan, 2 unit meriam Denel Vektor kaliber 20 mm di anjungan dan 2 unit peluru kendali SSM C-705 di buritan.


Dua set sistem peluncur rudal C-705 (photo : silep04)

Tampak juga bahwa 2 peluncur rudal C-705 di buritan telah terpasang, dengan menggeser kanon Denel Vektor 20 mm ke arah anjungan, maka selesailah sudah pemasangan keseluruhan sistem senjata KCR-40. Sistem senjata tersebut akan terintegrasi dengan Combat Management System SEWACO.

Kapal Cepat Rudal KCR-40 memiliki panjang 44 meter, lebar 8 meter, tinggi 3,4 meter dan berat 238 ton. Dengan sistem propulsi fixed propeller 5 daun, maka KCR 40 mampu berlayar dengan kecepatan 30 knot.

KCR - 40 terbuat dari baja khusus High Tensile Steel pada bagian lambung (hull) serta Aluminium Alloy untuk bagian atasnya. Baja High Tensile Steel ini merupakan produk PT. Krakatau Steel. Paduan dua bahan tersebut membuat kapal ini memiliki stabilitas dan kecepatan yang tinggi pada saat berlayar.

Sampai sekarang telah dibuat 4 KCR-40 untuk Satkat (satuan Kapal Cepat TNI AL) masing-masing adalah KRI Clurit-641, KRI Kujang-642, KRI Beladau-642, dan KRI Alamang-644.

Dalam pemenuhan Minimum Essential Force, TNI AL berencana memiliki 38 Kapal Cepat yang terdiri dari 26 Kapal Cepat Rudal dan 12 Kapal Cepat Torpedo.

Sebelum pengembangan KCR-40 dan KCR-60, TNI AL telah memiliki 14 Kapal Cepat Rudal (4 FPB-57 Kakap class, 6 FPB-57 Pandrong class dan 4 Tacoma Mandau class) serta 2 Kapal Cepat Torpedo (FPB-57 Singa class).

Dengan pengembangan KCR-40 dan KCR-60 maka TNI AL membutuhkan 22 kapal cepat rudal/torpedo lagi yang dicukupi dari kedua tipe tersebut. Dengan demikian maka secara keseluruhan kapal cepat rudal/torpedo TNI AL akan terdiri dari 4 platform kapal : KCR-40, Tacoma-Mandau class, FPB-57 dan KCR-60.
(Defense Studies)