Tampilkan postingan dengan label Pahlawan Nasional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pahlawan Nasional. Tampilkan semua postingan

27 April, 2014

“TRUE STORY” Secuil Kisah Awak Hiu Kencana (Bagian 1)

Kapal Selam Whiskey Class Project 613 Rusia di ST Petersburg (photo: Soulim Mikhail)

“TRUE STORY”
Secuil Kisah-kisah Awak “Hiu Kencana” yang tidak terpublikasikan


Kisah ini sengaja saya tulis berdasarkan catatan-catatan tertulis yang saya punya dan juga cerita-cerita dari para “Silent Warrior” pinisepuh saat mereka dulu bertugas mengawaki “Hiu-hiu besi” kita dalam menjaga Kedaulatan NKRI yang mungkin selama ini belum pernah terpublikasikan. Dan tulisan ini saya dedikasikan juga kepada seluruh “Beliau-beliau” itu, berikut juga para “Silent Warrior” muda yang kini masih bertugas mengawal NKRI. Dan tulisan ini saya buat secara bersambung (soale dibuat di sela-sela kesibukan saya).


Gili Genteng dan “Torpedo” yang hilang.

Gili Genteng merupakan sederet pulau-pulau yang terletak di sebelah timur Pulau Madura. Dideretan pulau pulau ini juga terdapat pulau lain, antara lain Gili Iyang, dan masih banyak lainnya, Laut luas, kedalaman lebih dari cukup, dan yang pasti bukan merupakan jalur lalu lintas kapal niaga, kesemuanya merupakan faktor ideal yang menunjang pemilihannya sebagai Daerah Latihan KS kita. Penduduk pulau pulau ini penghasilannya dari bercocok tanam rata-rata jagung. Di samping itu mereka juga memelihara ternak yang kebanyakan kambing. Hal ini membuat awak KS kita akan dengan mudah memperoleh seekor kambing muda, untuk menu santap malam setelah selesai latihan seharian. 


Kredit Foto : Bilik Hitung Penembakan Torpedo TAS L2 KS Whiskey Class

Biasanya dalam memperoleh kambing itu selain dengan pembelian juga ditambah barter, tukar dengan bahan perlengkapan kita, seperti makanan dalam kaleng, roti kabin atau lain lainnya, yang jarang bisa diperoleh dipasaran bebas. Awak KS kita biasanya menerima kambing tersebut sudah dalam bentuk dipotong potong, bersih dan tinggal memasaknya doang. Semua masih lengkap, kepala, sampil, jeroan, kaki, dan, terutama yang harus dicek: “torpedo”nya! Karena ini yang pasti jadi rebutan nantinya. Dan begitu Komandan tahu anak buahnya membeli kambing, betul juga, beliau yang nomor satu pesan : “torpedone kanggo aku lho ya!” udah deh kalo Komandan udah bersabda kayak begitu itu yo anak buah musti patuh!.

Waktu terus berlalu dan tibalah saatnya makan malam. Juru masak yang mau memasak masakan pesanan khusus Komandan, mencari bahan pesanannya Komandan tadi, tetapi entah kenapa tidak berhasil menemukannya. Tentu saja, alamat yang ditujunya pertama kali untuk melaporkan kehilangan tersebut adalah Sersan Mulyono, Jabatan utamanya Pak Mulyono ini adalah Juru TAS-L dua, alias Torpedo Elektrik, sedangkan jabatan rangkapnya menjadi Bintara Polisi. Otomatis kalau ada sesuatu yang berkaitan dengan pelanggaran hukum, seperti ada sesuatu yang hilang, maka ia yang paling dahulu mengurusnya. Sersan Mulyono tentu saja kalang kabut mendengar kehilangan ini. Dia mencarinya bersama dengan sang Juru Masak, mulai dari Ruang Satu sampai Ruang Tujuh, tidak lupa trium Ruang Diesel pun dilongok kalau-kalau ada yang nekad menyembunyikannya di sana. Dia juga bertanya kesetiap orang yang dicurigai, tetapi hasilnya tetap nihil. (ya iyalah, mana ada maling mau ngaku!) Akhirnya, karena putus asa sang Bintara Polisi ini menghadap Perwira Jaga, minta ijin mengumumkan pengumuman penting.

Setelah mendapat clereance, “OK, silahkan”. Dan mulailah pengumuman penting tersebut terdengar lewat MKTU, ia mengumumkan : ”….perhatian ruangan ruangan, siapa tadi yang makan (maaf) Biji P*l*r Komandan….” Dengan nada tinggi. (kesal mungkin dia).
Tentu saja seluruh Awak KS tertawa mendengar pengumuman yang konyol macam itu!.

Yang pertama kali kaget sudah pasti sang Perwira Jaga yang sudah mengizinkan Sersan Mulyono tadi, bisa diganyang Komandan dia ada pengumuman kayak itu. Untungnya Komandan saat itu Pak Antonius Soebiyarto (terakhir Laksamana Muda, alm) melihat wajah Sersan Muljono yang memelas, udah enggak sampai hati lagi akan marah. Beliau yang saat itu ada dianjungan cuma komentar: ”sembrono betul bocah iki...”.



Kalah taktik dengan Komandan di Pasir Putih.
 

Daerah Latihan KS di Pasir Putih suasananya agak lain dari di Gili Genteng. Walaupun sama sama selesai latihan KS lego jangkar, tetapi KS lego tepat di depan Pantai Wisata Pasir Putih, pada jarak yang tercapai oleh perahu karet. Tentu saja, acara pengisian baterai setiap pulang dari latihan tetap merupakan acara rutin, tetapi kan bisa saja diatur, Perwira Pendorong Satu jaga baterai dan Perwira Pendorong Dua pesiar ke pantai. Besoknya gantian.

Dan begitulah, walaupun telah ditetapkan bahwa pesiar paling lambat pulang jam 22.00 atau jam sepuluh malam, maksudnya untuk menjaga kondisi badan para awak selama latihan, akan tetapi toh dalam kenyataannya ada saja awak KS kita yang bandel yang justru berangkat pesiar pada jam 23.00 alias jam sebelas malam!.

Tentu saja, caranya bukan dengan menstart mesin Johnson (motor tempel untuk menenagai perahu karet) dari tepi lambung kapal. Tetapi perahu karet didayung dulu sampai agak jauh sehingga suara start mesin Johnson tidak akan kedengaran oleh Komandan. Kayak-kayaknya taktik SEAL pun kalah dengan taktik pengelabuan musuh yang dilakukan oleh para awak KS kita ini.

Pulang pesiar mereka melakukan hal yang sama. Mesin Johnson dimatikan jauh-jauh sebelum mendekat ke lambung kapal, lalu perahu karet didayung perlahan lahan dan naik bergantian, yang satu menolong yang lain. Suatu saat dalam “silent operation” semacam ini saat pulang, ada anggota jaga yang kebetulan berada di atas geladak. Dan Holdman Satu Sersan Supardi, sambil melempar tali buangan dengan ramahnya menegur: “hey, Komandan sudah tidur ya…?” Yang ditanya diam saja tetapi menerima lemparan tali buangan dari perahu karet dan membantunya mengikatkannya pada tupai tupai.

Yakin atas kebaikan hati sang anggota jaga yang membantunya mengikat perahu karet, tetapi masih merasa belum memperoleh jawaban yang pas sang Holdman Satu mengulangi pertanyaannya, “Hey, ditanya kok diam aja, Komandan sudah tidur ya…” Kali ini ada jawaban, suatu suara yang khas sekali dan berat: “ Belum, Dik…” . Betapa terkejutnya sang Holdman Satu dan keseluruhan penumpang gelap yang pesiar melebihi batas waktu yang ditentukan, soalnya yang menjawab itu justru Komandan sendiri! Infiltrasi SEAL awak KS kita ketangkap basah langsung oleh Komandan Pak Antonius Soebiyarto Alm, yang justru menggunakan jurus taktik Speznatse.

Kebayangkan habis itu hukumannya kayak apa?


 

Technical Assistance Rusia. 
Sadaca alias latihan terintegrasi, khas Rusia bukan hanya dilakukan kalau ada pergantian pejabat, dalam hal ini, Komandan atau KKM. Bila kapal baru selesai perbaikan besar, dan lama berada dalam dock, misalnya, maka team secara keseluruhan harus melaksanakan sadaca. Begitu juga dengan KRI Bramastra 412 setelah selesai perbaikan besar, kapal juga diharuskan menjalani sadaca, untuk mengingatkan awak kapal akan tugasnya, setelah sekian lama nongkrong di atas dock! Perbaikan besar KRI Bramastra ini tadinya ditangani oleh “Projek 613” yang lengkap dengan Technical Assistance dari Rusia, tetapi dalam rangka peristiwa G30S/PKI mereka lalu ditarik pulang kembali semua. Perbaikan jadi agak terkatung katung, dan lama baru selesai. Setelah diyakini, bahwa kapal memang telah siap, diadakanlah sadaca, berturut turut mulai sadaca satu dan dua. Tiba giliran sadaca tiga, di laut, kita mengundang para Technical Assistance Rusia, yang dulu ikut memperbaiki kapal ini, untuk kita minta pertanggungan jawaban atas perbaikan dan modifikasi (kalau ada) yang dilakukannya. Mereka memang berjanji akan datang. Dan, sebagai biasa, orang Timur, untuk menyambut kedatangan mereka, yang kita anggap sebagai tamu terhormat, kapal dilengkapi dengan bumbu serta makanan khas Rusia, antara lain adalah acar bawang putihnya.

Singkat cerita KS telah ada di daerah Latihan Gili genteng. Untuk kesekian kalinya, kapal dipersiapkan untuk berlayar dan bertempur, serta dilanjutkan dengan persiapan kapal untuk menyelam. Semua katub katub yang harus ditutup telah ditutup, dan yang memang harus terbuka telah diberi kedudukan terbuka. Ruangan ruangan laporan kesiapan menyelam. Sekarang, giliran KKM dan orang Rusianya melakukan pemeriksaan kebenaran kedudukan katub. Pemeriksaan berjalan lancar, semua katub berada dalam kedudukan yang benar. Tetapi, begitu selesai memeriksa ruangan belakang, yang lalu dilanjutkan kepemeriksaan ruangan depan, mereka kembali ke Sentral, Ruang Tiga, dengan wajah yang tegang. Ketika salah satu awak KS kita ada yang bertanya dengan bahasa Rusia yang sepotong sepotong, “dawarits, pachimu eto, karazow?”, enggak disangka-sangka, tanpa basa basi, mereka menjawab ”nyet, nyet karazow…” lalu naik keanjungan, dan dari sana mereka berdua langsung terjun ke laut dan berenang ke kapal TCB Rante Kombala yang bertugas mengawasi KS KRI Bramastra menyelam.

Awak KS kita tadi enggak mau bertanya lagi kepada mereka, apakah mereka mau ikut meyelam dengan kita atau tidak. Habis jawabannya udah pasti sih: “nyet! nyet!”

Terus bagaimana dong? apa mau kembali ke pangkalan dan tidak menjalankan pengujian kelayak lautan kapal hanya karena mereka para Technical Assistance Rusia tidak mau ikut menyelam? Komandan Squadron Kapal Selam saat itu Letnan Kolonel Rahadi, setelah berunding dengan Komandan kapal dan KKM lalu memutuskan dengan atau tanpa orang Rusia kita akan tetap melaksanakan pengujian kelayak lautan kapal selam KRI. Bramastra. Yang penting harus hati hati dan sesuai prosedure serta segala sesuatunya dilaksanakan dengan bertingkat, step by step. Jadilah kita melaksanakan pengujian kapal tanpa Technical assistance dan nyatanya kita juga berhasil menguji kapal dengan baik. Kapal dinyatakan lulus serta mendapat sertifikat layak berlayar, menyelam dan bertempur!

Catatan kecil :
Sadaca : Latihan terintegrasi, khas Rusia
Karazow : Baik, bagus, prima.
Nyet karazow : Tidak bagus
Pachimu eto : Bagaimana itu
Dawarits : Sapaan kepada teman atau saudara
Nyet : Tidak.


Kredit Foto : Mantan KSAL (Pak Rudolf Kasenda Alm) saat itu masih berpangkat Kolonel saat ikut menyelam bersama salah satu KS. Whiskey Class.


Tarempa dan Kandang Babi.

Dalam suatu waktu KS KRI Nagarangsang 404 mendapat penugasan untuk beroperasi ke Tarempa dan patroli di Gugusan Spratley di Laut China Selatan. Karena cukup jauh, perjalanan tidak dilaksanakan langsung dari Surabaya ke Tarempa, tetapi dilakukan dengan stop over di Jakarta. Kalau sudah seperti ini KS seperti biasa dipersiapkan betul-betul sebelum melaksanakan perjalanan jarak jauh ini.

Kredit Foto : kursi di Ruang II. KS Whiskey Class. meja makan, yang kalau dalam keadaan darurat, menjadi meja operasi kalau malam juga berubah fungsi menjadi tempat tidur. Sandaran kursi bisa dilipat keatas, menjadi tempat tidur gantung. Yang tidur dibawah, akan serasa tidur dalam peti mati

Perjalanan Surabaya ke Jakarta yang ditempuh dalam dua hari relatif biasa saja, tapi pelayaran berikutnya Jakarta ke Tarempa, baru ini yang namanya berlayar dengan kapal selam. Bayangkan perjalanan yang ditempuh dalam waktu yang hampir dua minggu, dengan jumlah awak kapal sebanyak 67 orang, dan air tawar yang dimiliki dikapal hanya sebelas ton, diulangi lagi, sebelas ton!. Bagi awak KS, dengan keterbatasan air yang dapat dibawa di tangki kapal, dapat setengah liter air tawar sehari pun sudah harus bersyukur sekali.

Setiap pagi awak KS kita biasa bangun pagi dengan selalu diiringi musik “merdu” tiupan bootsman fluit dari schipper, diiringi kemudian dengan kata kata Perwira Jaga lewat MKTU : “…perhatian ruangan ruangan, waktu bangun pagi, waktu bangun pagi…” Belum betul betul sadar dari tidur yang tidak nyenyak, yang diputus begitu drastic oleh bunyi bootsman fluit yang melengking nyaring, Awak KS diserbu lagi oleh bunyi bel krrriiiiiing tiga kali panjang, disusul banyak bel pendek, kriing kriiing kring kring tanda latihan kedaruratan. kembali dengan komentar sang Perwira Jaga: “…perhatian ruangan ruangan,…….latihan kedaruratan, kebakaran di ruang sekian di motor pesawat bantu so and so….atau kebocoran di ruang sekian, Kingston peralatan so und so bocor…..”, ini berlangsung setiap pagi dan di setiap hari lho!.

Setelah genap dua minggu akhirnya sampai juga KRI Nagarangsang 404 ketempat tujuan, Tarempa. Peran muka belakang, lalu kapal sandar dan akhirnya setelah dua minggu berturut turut mencium bau laut, awak KS kita mencium lagi bau daratan. Setelah selesai apel, (sekedar untuk untuk meyakinkan bahwa selama pelayaran tidak ada awak kapal yang jatuh di laut mungkin, hehehe…) semua bebas untuk pesiar.
Pesiar?
Ya Pesiar!
Pesiar di sini itu mencari tempat untuk mandi. Hehehe… (bayangkan dua minggu enggak mandi-mandi) dan kondisi Lanal Tarempa saat itu jangan dibayangkan kayak sekarang wong WC nya saja saat itu terbatas sekali jumlahnya dan biasanya itu sudah jatahnya Komandan!.

Gugus Aju (hehehe… pinjam istilah Marinir biar keren) dari beberapa orang awak KS yang telah lebih dahulu keluar memberikan informasi bahwa di Utara dermaga ada sungai yang cukup besar, bisa menampung seluruh anggota untuk mandi sekaligus. Wah, ini dia. Grup Pendarat berikutnya, dengan membawa segebok pakaian kotor segera mengikuti petunjuk regu aju tadi, menuju ke sungai.

Betul juga ada sungai yang cukup luas, jernih lagi. Tanpa perlu ada komando lagi semua awak KS kita langsung turun, tanpa membuka pakaian dan langsung mandi sepuas puasnya. Terus terang daki yang menempel dikulit selama tidak mandi dua minggu dalam pelayaran kemarin walau udah digosok dengan sabun cap Jangkar khusus Angkatan Laut, tetap aja butuh waktu setengah jam lebih untuk itu daki-daki lepas dari kulit. Selesai mandi langsung mencuci pakaian. Bayangkan aja, setelah dua minggu tidak berjumpa air dalam jumlah yang cukup dan sekarang air berlimpah, banar-benar rasa segar yang luar biasa.

Selesai mandi, seperti biasa selalu ada saja Reconnaisance Team dari beberapa awak KS kita yang kini telah ganti pakaian bersih, yang dengan sukarela berpatroli mencari informasi intelijen tentang daerah sekitar kita. Mereka berjalan menyusur ke arah hulu sungai, tetapi pulangnya beberapa anggota tadi kelihatan memberengut dan beberapa tampak komat-kamit mulutnya kayak lagi baca doa. Setelah dekat, baru deh ketahuan kalau mereka semua bukan membaca doa, tapi mengumpat: “… sialan, di hulu sungai di atas sana ternyata ada peternakan babi dan mereka membuang kotoran babi itu langsung ke sungai tempat kita mandi ini…”.
Beeuh…


Membuat Heboh Pesawat Tempur USAF
 

Suatu waktu pada saat Angkatan Laut kita mengikuti kegiatan Latihan Bersama dengan Philipina dengan sandi Philindo (Philipine Indonesia Joint Exercise) KS Pasopati 410 kita diikutsertakan dalam latihan tersebut yang saat itu memang berlangsung di Philipina sebagai tuan rumahnya.
Kredit Foto : sistem tangki pemberat pokok dan sistem penghembusan KS Whiskey Class

Kita mulai meninggalkan wilayah Indonesa, dengan memasuki wilayah Philipina lewat Laut Zulu. Pada saat mengarungi Laut Zulu ini dengan posisi berlayar di permukaan laut, KS kita sempat dibayang bayangi beberapa pesawat jet F-4 Phantom dari USAF. Mereka melintasi kapal kita dalam formasi siap menyerang, dari arah lambung memotong haluan kapal secara tegak lurus!1) Peluru kendali yang bergantungan dirak bawah sayapnya kelihatannya siap diluncurkan, kalau-kalau saja kita membuat tindakan yang provokatif seperti misalnya menyiapkan senjata.

Dapat dimaklumi, mengapa mereka membayang bayangi kita. Alasan pertama, karena kita kan menggunakan KS Whiskey class ex Soviet, sedangkan pada saat itu mereka masih sedang gigih bertikai dengan Vietnam Utara yang notabene merupakan negara satelitnya Soviet. Alasan kedua aatu mungkin yang lebih utama adalah mereka kan memiliki suatu pangkalan Angkatan Laut serta Angkatan Udara yang luar biasa besarnya di daerah Philipina saat itu, yaitu Subic Point dan Clark Field. Jadi wajar wajar saja kalau mereka memiliki ketakutan, jangan jangan ini serangan mendadak Armada KS Soviet ke Subic Point! Hehehe…

Tetapi setelah beberapa kali mengitari kita dan melihat bendera Merah Putih yang berkibar di tiang di depan samaleot 2), mereka lalu terbang satu kali lagi, kali ini sejajar dengan haluan kapal, di arah lambung kanan, sambil membuat gerakan menggoyangkan sayapnya 3) dalam seperempat roll, sebagai isyarat,”kami tahu kalau kamu kawan, selamat bertempur”! Di samping itu ternyata di bawah Komandan memang telah memerintahkan agar panggilan radio mereka yang mengkonfirmasikan identitas kita, dengan isyarat “what ship, what ship”,4) dijawab dengan jelas, “we are Indonesian Man Of War 5), submarine ship Pasopati” . Atas kewaspadaan mereka yang dianggap ada unsur keangkuhannya kayak pamer kekuatan, Komandan KS kita saat itu Pak Soeprajitno, (saat itu Lekol, terakhir beliau berpangkat Laksamana Pertama) cuma komentar: “Mister mister, mbok yaa do not worry worry too much toh mister, wong we just come to Philipine like a tourist that want to make a journey round round Manila City kok, only like that kok yaa bussy-bussy amat sih”, maksudnya, heboh bener sih mereka!

Catatan Kecil :

  1. formasi serang: pesawat terbang yang menyerang kapal atas air akan lebih suka mengambil arah memotong tegak lurus haluan kapal yang diserang, sedemikian rupa sehingga mereka dapat melihat sasarannya dengan bidang tembak yang seluas mungkin. 
  2. samaleot: suatu sistem pipa gas bekas diesel pada saat diesel bekerja dibawah air. Dibuat demikian agar gas bekas telah menjadi dingin ketika keluar dari permuka an air, supaya tidak mudah terdeteksi oleh sensor infra merah
  3. menggoyangkan sayap: code antara penerbang, terutama penerbang pesawat tempur. Bisa berarti “follow me”, ikuti saya, kalau diberikan kepada wingman nya (teman terbangnya dalam formasi terkecil), atau, kalau diberikan kepada orang lain, bisa juga berarti ”kami tahu kalau kamu kawan, selamat bertempur”.
  4. What ship: suatu etika bertanya dari satu kapal (biasanya kapal pemilik hegemoni didaerah tersebut), kepada kapal lain yang melewat daerahnya. KRI Cakra 401 ketika melewati Selat Gibraltar juga medapat signal seperti itu.
  5. “man of war”, suatu istilah untuk membahasakan kapal perang.

Bersambung…..





“Wira Ananta Rudhiro”
“Jalesveva Jayamahe”
“NKRI harga mati!”

(by Pocong Syereem | JKGR )


24 Maret, 2014

"Usman-Hamid" di JIDD Bukan untuk Olok-olok Singapura

Hubungan Singapura dan Indonesia kembali tegang gara-gara "Usman-Harun" muncul di ajang Jakarta International Defence Dialogue (JIDD) ke-4 di JCC Senayan, Jakarta pada 19-20 Maret lalu. Pengamat hukum internasional Hikmahanto Juwana menilai, Singapura tidak perlu marah karena visualisasi "Usman-Hamid" di JIDD itu bukan untuk mengolok-olok Negeri Singa tersebut.

Dua prajurit TNI AL mengenakan seragam khas Korps Komando Angkatan Laut (KKO AL) dengan badge nama Usman dan Harun di gelaran JIDD di Jakarta
"Kedua prajurit TNI AL itu mengenakan seragam bernama "Usman-Harun" kan ditujukan untuk generasi muda Indonesia. Ini hanya miskomunikasi saja," kata Hikmahanto dalam perbincangan dengan VIVAnews, Minggu malam 23 Maret 2014.

Melalui kedua orang itu, Hikmahanto yakin, panitia stan TNI AL ingin improvisasi bagaimana membangkitkan nasionalisme kaum muda yang mengunjungi acara tersebut. Salah satunya, dengan memvisualisasikan dua orang yang dianggap pahlawan oleh TNI AL, yakni Sersan Dua Usman dan Kopral Harun Said.


Singapura, kata dia, harus bisa menghormati keputusan TNI AL dan Indonesia secara umum yang menganggap Usman dan Harun sebagai pahlawan. "Meskipun Singapura menganggap keduanya tak lebih dari orang-orang yang membom kota mereka," kata dia.

Seperti diketahui, Usman dan Harun adalah anggota Korps Komando Angkatan Laut (KKO AL) yang mendapat tugas dari negara untuk meledakkan bom di jantung Singapura tahun 1965. Saat itu, Indonesia tengah berkonfrontasi dengan Malaysia dan Singapura masih menjadi bagian dari Malaysia. Dalam ledakan bom itu, 3 orang tewas dan 33 lainnya luka-luka.

Singapura yang geram kemudian menghukum mati Usman dan Harun pada 1968.

Menurut Hikmahanto, masalah Usman-Harun dan bom Singapura itu seharusnya sudah selesai ketika keduanya dihukum mati melalui proses pengadilan sana. "Seharusnya Singapura tidak perlu lagi mengatur Indonesia bagaimana cara mengenang kedua orang itu," tegasnya.

Selama Singapura tidak bisa menerima cara Indonesia dalam mengenang Usman-Harun, masalah ini akan terus ada di antara kedua negara. "Masalah Usman-Harun ini akan terus membayangi hubungan kedua negara," kata dia.

Lihat juga foto-foto aksi "Usman-Harun" di JIDD di tautan ini. (VivaNews)


Ini Alasan Kenapa TNI AL Tampilkan Usman-Harun Palsu

Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Laut Laksamana Pertama Untung Suropati mengakui berinisiatif menampilkan sosok Sersan Dua Usman dan Kopral Harun Said dalam Jakarta International Defence Dialogue 2014 di Jakarta Convention Centre, Rabu lalu. "Sepenuhnya inisiatif dan tanggung jawab saya," kata Untung kepada Tempo, Sabtu, 22 Maret 2014. 

Ini Alasan Kenapa TNI AL Tampilkan Usman-Harun Palsu
Sersan Pertama Hari dan Sersan Pertama Ahmad saat memerankan Usman dan Harun (anggota KKO, kini Korps Marinir) dalam pameran pertahanan di Jakarta Convention Center Jakarta, (19/3) | TEMPO/Amri Mahbub

Untung berinisiatif menampilkan dua sosok ini lantaran mereka pahlawan nasional yang dikenal heroik. Apalagi nama mereka baru dikukuhkan untuk kapal perang Indonesia. Sebab itulah Untung ingin menunjukkan kebanggaan tersebut di depan forum JIDD, perkumpulan besar bertaraf internasional. "Di sana berkumpul para pemimpin, baik militer dan sipil."


Untung menambahkan, dengan memunculkan tiruan sosok Usman-Harun, TNI ingin agar generasi muda yang datang ke pameran itu dapat mencontoh sifat kepahlawanan yang ditunjukkan Usman-Harun.
Rabu lalu, dua anggota Korps Komando (sekarang Korps Marinir) TNI Angkatan Laut berperan sebagai Sersan Dua Usman dan Kopral Harun Said dalam JIDD 2014. Dua anggota Korps Marinir yang wajahnya mirip dengan Usman-Harun tampil di stan TNI Angkatan Laut.

Dalam sebuah pernyataan, Kementerian Luar Negeri Singapura mengaku kecewa dengan "insiden" itu dan menarik delegasi militer mereka dari acara tersebut. Sebelumnya Singapura menganggap Sersan Dua Usman dan Kopral Harun Said tak lebih dari teroris yang mengebom negaranya pada 1965.

Usman-Harun adalah prajurit Korps Marinir yang mengebom gedung MacDonald House di Orchard Road, Singapura. Ketika itu pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Sukarno melancarkan operasi Dwikora untuk menggagalkan pembentukan negara boneka Singapura oleh Malaysia. (Tempo)


13 Februari, 2014

Ini terowongan rute kabur Usman-Harun usai pengeboman Singapura

PT Pertamina (Persero) merevitalisasi Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) tertua di Indonesia, tepatnya di Pulau Sambu, Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau. Tak dinyana, pulau kecil itu menyimpan cerita terpendam yang berkaitan dengan ketegangan diplomatik antara Indonesia-Singapura soal penamaan Kapal Perang Usman-Harun.

Ini terowongan rute kabur Usman-Harun usai pengeboman Singapura
Terowongan Usman Harun

Rupanya, di Pulau Sambu itu, Harun Said dan Usman Haji Mohamed Ali menyiapkan perbekalan sebelum melakukan tugas negara di Singapura. Dua prajurit Korps Komando Operasi (KKO) TNI Angkatan Laut itu selain merancang penyusupan ke perairan negeri Singa dari pusat penyimpanan minyak itu, menyiapkan rute kabur lewat terowongan.

Rencananya, jika pengeboman Orchad Road terlaksana, maka keduanya kembali ke pulau itu lantas menyusup melalui goa buatan tersebut. Apa daya, selepas melaksanakan tugas pada 10 Maret 1965, Usman dan Harun tertangkap dan tak berhasil kembali ke Pulau Sambu.


Cerita soal terowongan ini dituturkan oleh Operation Head Terminal BBM Sambu Sabarudin Abadi Baros. Pria 44 tahun tersebut mengatakan lokasi terowongan terletak di sisi timur pulau. Persisnya di bawah pos pengamatan Pertamina di atas bukit kecil yang langsung berbatasan dengan perbatasan laut Indonesia-Singapura.

Baros, demikian dia disapa, mendapatkan kisah Usman-Harun dari personel TNI tua yang berjaga di pulau kecil itu. Terowongan ini kabarnya digali pemerintah Kolonial Belanda buat menghadapi serbuan tentara Jepang di Perang Dunia II.

"Sekarang terowongan itu sudah kita timbun, tapi kabarnya panjangnya sampai tiga kilometer," ujarnya kepada wartawan, Kamis (13/2).

Sambu pertama kali dikembangkan jadi pangkalan minyak oleh otoritas kolonial bersama perusahaan migas Shell padan 1897. Lokasinya strategis, hanya berjarak 30 menit naik kapal dari perairan Singapura.

Selain itu, karena posisinya persis di lintasan Selat Malaka, perdagangan hasil minyak mudah dilakukan. Selepas Indonesia merdeka, Sambu diserahkan pemerintah buat dikelola Pertamina.

"Pulau ini seperti benteng, dan banyak jalur kecil, makanya dipilih oleh Usman dan Harun buat melakukan persiapan penyerangan," kata Baros.

Kini terowongan yang jadi saksi bisu konfrontasi Indonesia dan Federasi Malaya itu sudah dipenuhi semak belukar. Mulut goa buatan tersebut hampir tak terlihat, jadi seperti karang biasa.

Petugas Pertamina pernah menemukan sisa-sisa terowongan itu, tapi tak utuh sampai tiga kilometer seperti cerita yang beredar. Jika data panjangnya valid, maka terowongan itu menghubungkan tepi pantai hingga kawasan operasional bunker minyak.

Baros mengatakan, karena Sambu sehari-hari dipenuhi aktivitas penyimpanan dan distribusi migas Pertamina, wajar bila fakta sejarah di sana kurang diperhatikan warga sekitar.

"Saya juga kurang tahu apakah pemanfaatan Sambu sebagai basis serangan itu inisiatif (Usman dan Harun) atau perintah TNI," akunya.

Aksi dua prajurit marinir itu menewaskan tiga orang dan melukai 33 orang. Ketika itu, Usman dan Harun menjalani tugas dalam Operasi Dwikora saat konfrontasi pemerintah Indonesia dengan Malaysia, sebelum Singapura memisahkan diri.

Penamaan kapal perang terbaru TNI AL menggunakan nama keduanya menimbulkan ketegangan diplomatik. Pejabat bidang pertahanan Singapura menilai langkah pemerintah Indonesia tak pantas, lantaran memberi penghargaan pada teroris.

Sebaliknya, TNI dan pejabat di Tanah Air cuek dengan kritikan pedas negeri singa itu. Usman dan Harun saat itu bukan murni melakukan terorisme, tapi menjalankan tugas negara. Apalagi, ada 1973, Perdana Menteri (PM) Singapura Lee Kuan Yew telah menaburkan bunga ke makam Usman dan Harun di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta. Sehingga masalah itu seharusnya sudah selesai. (Merdeka)


12 Februari, 2014

Cerita Dibalik Tabur Bunga Lee Kuan Yew di Pusara Usman-Harun

Singapura meradang. Negeri jiran ini tidak terima Indonesia menyematkan salah satu kapal fregatnya dengan nama Usman-Harun. Dua pahlawan Dwikora ini dianggap teroris di negeri itu paska peledakan bom di MacDonald House, Orchad Road, Singapura pada 10 Maret 1965 silam.

Tabur bunga PM Lee Kuan Yew di atas pusara Usman dan Harun di TMP Kalibata. (Foto diambil dari buku Soeharto The Untold Stories) | (Koleksi Museum Purna Bakti Pertiwi)

Masalah Usman-Harun yang dihukum mati di Penjara Changi, 17 Oktober 1968, seperti dituturkan Juru Bicara Khusus Presiden RI Teuku Faizasyah, sebetulnya sudah selesai dan menjadi bagian sejarah masa lalu. Apalagi, mantan Perdana Menteri Singapura Lee Kuan Yew pernah melakukan tabur bunga ke pusara Usman dan Harun di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.


Soal tabur bunga ini, Abdul Rahman Ramly punya cerita sendiri. Dalam buku "Soeharto, The Untold Stories", Ramly yang saat itu berpangkat Letnan Kolonel Angkatan Darat menceritakan, ia ditunjuk oleh Presiden Soeharto sebagai liasion officer yang mewakili pemerintah Indonesia. Saat itu RI belum punya hubungan diplomatik dengan Singapura.

Saat itu Soeharto merinci apa saja yang harus dilakukannya. Sebagai panglima tertinggi, Soeharto berusaha semaksimal mungkin membela kehormatan anak buahnya. Segala upaya dilakukan meski kedua anggota Korps Komando Operasi  (KKO) itu akhirnya tetap dihukum gantung.

Pembelaan dan penghormatan kepada anak buah yang gugur sebagai bunga bangsa itu, kata Ramly, ditunjukkan Soeharto ketika PM Lee Kuan Yew ingin berkunjung ke Indonesia dua tahun setelah hukuman mati dilaksanakan.

"Pak Harto  mempersilakan PM Lee datang dengan syarat harus meletakkan karangan bunga langsung di makam Usman dan Harun di Taman Makam Pahlawan Kalibata, bukan di tempat yang biasanya tamu negara meletakkan karangan bunga, di kaki tugu makam pahlawan," Ramly menuturkan.

Syarat itu, ujar dia, sungguh tidak lazim, namun entah dengan pertimbangan apa, PM Lee setuju meletakkan karangan bunga di makam Usman dan Harun. Baru setelah itu hubungan Jakarta-Singapura membaik.

Namun hubungan dua negara ini kembali memanas setelah Indonesia bersikukuh tidak akan mengganti nama KRI-nya yang akan tiba di tanah air Juni 2014 nanti. Pemberian nama Usman dan Harun sudah sesuai prosedur dan proses yang panjang. Dan, sudah lazim pula KRI diberi nama pahlawan nasional.


Seperti Indonesia, Singapura Juga Harus Hormati KRI Usman Harun


Anggota Komisi I DPR RI, Hayono Isman, meminta Singapura untuk menghormati pemerintah Indonesia terkait pemberian nama kapal fregat yang diberi nama Usman - Harun yang baru dibeli dari Inggris.

"Harusnya Singapura tidak mempermasalahkan pemberian nama KRI Usman - Harun. Indonesia memiliki aturan undang-undang sendiri," kata Hayono Isman dalam rilis yang diterima VIVAnews, Rabu 12 Febuari 2014.

Menurut Hayono, Singapura harus menerima sikap pemerintah Indonesia yang menganggap Usman dan Harun sebagai pahlawan nasional. Sejak 17 Oktober 1968 -- saat Usman dan Harun dihukum gantung -- Pemerintah Indonesia juga menerima keputusan Singapura yang menvonis keduanya bersalah. Meski sebelum eksekusi dilakukan, Indonesia telah mengirimkan surat permohonan penundaan eksekusi terhadap keduanya.

Anggota Dewan Penasihat Partai Demokrat itu mengungkapkan Singapura dan Indonesia memiliki sejarah panjang dalam menjalin hubungan kerja sama mendirikan Perhimpunan Bangsa Bangsa Asia Tenggara (ASEAN).

Dia melanjutkan, Indonesia dan Singapura adalah dua di antara enam negara pendiri ASEAN yang banyak mendapatkan manfaatnya. Hayono kembali menegaskan, pemerintah tidak perlu mengganti KRI Usman-Harun dengan nama lain, sesuai aturan internal dan kedudukan di mata dunia internasional.

Dia juga menyayangkan keputusan pemerintah Singapura yang membatalkan undangan pertemuan dengan Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin. Diharapkan Singapura dengan Indonesia menghentikan persoalan KRI Usman-Harun yang hanya sebatas perbedaan persepsi.  (VivaNews)


Mengapa Kapal Perang TNI Usman Harun Bikin Singapura Meradang?

Sebagai dua negara bertetangga dekat, Indonesia dan Singapura terkadang berselisih paham. Setelah sekian lama adem-ayem, perselisihan itu kembali muncul, namun dengan dimensi yang baru.

Mengapa Kapal Perang TNI Usman Harun Bikin Singapura Meradang?
Pahlawan Nasional Usman - Harun

Kali ini perselisihan terkait dengan penamaan sebuah kapal perang Indonesia, yang dibenturkan dengan sentimen historis di Singapura. Gara-gara itu, hubungan militer dan diplomatik kedua negara kini terlihat canggung dan bisa berlanjut kepada ketegangan di sektor-sektor lain bila tidak segera ditangani secara memuaskan.

Di Indonesia, Usman bin H Ali Hasan dan Harun bin Said Harum adalah pahlawan semasa konfrontasi dengan Malaysia/Singapura dekade 1960an. Sebagai bentuk penghormatan, nama depan masing-masing tentara itu diabadikan jadi nama sebuah kapal perang milik TNI Angkatan Laut, yang baru dibeli dari Inggris.


Tapi langkah TNI itu membuat gusar Singapura. Pemerintahnya terang-terangan menyatakan keberatan atas nama kapal baru TNI AL itu, karena membuat mereka kembali teringat kepada peristiwa pahit.

Bagi Singapura, Usman dan Harun adalah dua nama yang bertanggungjawab meledakkan sebuah bangunan di kawasan sipil semasa mereka konflik dengan militer Indonesia hampir 50 tahun yang lalu.  

Usman dan Harun merupakan pelaku tindak pengeboman yang terjadi tahun 1965 di Macdonald House di Orchard Road. Mereka ditangkap dan dieksekusi mati. Bagi Singapura, kedua orang itu tak lebih dari teroris.

Itulah sebabnya, pemerintah Singapura menyampaikan keberatan resmi dan meminta TNI mengganti nama kapal baru jenis fregat itu. Keberatan Singapura langsung disampaikan Kementerian Luar Negeri Singapura kepada Menteri Luar Negeri Indonesia Marty Natalegawa.

Pemerintah Singapura menganggap rencana tersebut akan berpengaruh terhadap warga mereka, khususnya keluarga korban. "Dua tentara marinir Indonesia saat itu dinyatakan bersalah karena telah melakukan aksi pengeboman dan menewaskan tiga orang serta melukai 33 orang lainnya," ungkap jubir Kemlu Singapura.

Pemerintah Singapura mengeksekusi Usman dan Harun tahun 1968 dan membuat hubungan kedua negara tegang. Sebanyak 400 pelajar Indonesia berusaha memaksa masuk ke dalam Kedutaan Besar Singapura di Jakarta. Kediaman Konsulat Jenderal Singapura di Indonesia pun turut diserang massa. Para demonstran ikut membakar bendera nasional Singapura.

Tapi Indonesia bergeming. Pemilihan nama itu sudah melewati diskusi yang panjang dan disahkan pada 12 Desember 2012. Bagi Indonesia, Usman-Harun adalah pejuang yang mengharumkan nama bangsa.

"Saya tidak terima kalau Usman-Harun dinyatakan sebagai teroris. Dia adalah aktor negara, bukan aktor nonstate, mereka adalah marinir," tegas Panglima TNI Jenderal Moeldoko.

Moeldoko juga menjelaskan, kerjasama militer Indonesia-Singapura belum berubah paska protes penamaan KRI itu. TNI juga tetap melakukan pengamanan di Selat Malaka.

"Prinsipnya Panglima TNI akan bekerja sama dengan siapapun dengan baik, tetapi kalau sudah berkaitan dgn kedaulatan negara no way. Kita punya sikap yang jelas dan tegas," kata dia.

Mantan koresponden pertahanan media Singapura, Straits Times, bernama David Boey menyarankan agar kapal fregat milik Indonesia, KRI Usman Harun tidak diizinkan melintas di perairan Singapura.

Menanggapi dorongan itu, Moeldoko tak ambil pusing karena itu urusan dalam negeri Singapura. Namun, kata dia, Singapura tak bisa melarang KRI Usman Harun melintasi perairan internasional, termasuk Selat Malaka.

Sejauh ini, reaksi keras Singapura adalah batal mengundang sejumlah petinggi militer RI ke acara pameran dirgantara terbesar di Asia, Air Force Show 2014. Meski, tim akrobatik udara yang diberi sandi 'Jupiter' diizinkan untuk berlaga di arena itu pada 11 Februari mendatang. 

Menteri Pertahanan RI Purnomo Yusgiantoro mengatakan, Pemerintah Indonesia tidak sakit hati atas sikap Singapura itu. "Mereka membatalkan undangan, ya kita tidak pergi sama sekali. Sesederhana itu," tegas Purnomo. Menhan mengaku tak tahu alasan pasti Singapura membatalkan undangan mereka.

Beberapa petinggi militer RI yang semula dijadwalkan hadir antara lain Wakil Menteri Pertahanan, Letnan Jenderal (Purn) Sjafri Sjamsoedin, Panglima TNI, Jenderal Moeldoko, Kepala Staf TNI Angkatan Darat, Jenderal Budiman dan Kepala Staf TNI Angkatan Laut, Ida Bagus Putu Dunia. Selain itu, juga ada 100 undangan untuk delegasi militer asal RI.

Diberitakan sebelumnya, Indonesia membeli tiga kapal tempur jenis Multi Role Light Frigate dari Inggris. Kepala Badan Perencanaan Pertahanan Mayor Jenderal Ediwan Prabowo mengungkapkan, kementerian menganggarkan dana sebesar US$385 juta untuk pembelian kapal tersebut.

Misi Rahasia Usman dan Harun tahun 1965

Usman bin H Ali Hasan dan Harun bin Said bukan orang sembarangan. Keduanya adalah anggota Korps Komando Operasi (kini disebut Marinir) berpangkat sersan dua dan kopral. Di tahun 1965, mereka mendapat misi rahasia:  menyusup ke Singapura dan meledakkan bom di jantung negeri itu. Saat itu, Indonesia tengah terlibat konfrontasi dengan Malaysia, dan Singapura masih menjadi bagian negeri jiran.

Usman, kelahiran Dukuh Tawangsari, Desa Jatisaba, Kecamatan Purbalingga, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, masih berumur 22 tahun, saat aksi heroiknya meledakkan bom di kandang musuh terjadi. Bahkan Harun yang lahir di Pulau Bawean, Gresik, Jawa Timur baru menginjak usia 18 tahun ketika itu.

Harun baru tiga bulan menjadi anggota KKO ketika Presiden RI pertama Soekarno menggelorakan Dwi Komando Rakyat (Dwikora) pada 3 Mei 1964. Dwikora digaungkan menyusul pemutusan hubungan diplomatik antara Indonesia dan Malaysia pada 17 September 1963 setelah sehari sebelumnya Inggris membentuk negara federasi Malaysia yang terdiri dari Persekutuan Tanah Melayu, Singapura, Serawak, Brunei, dan Sabah. Soekarno menganggap ini sebagai bentuk neokolonialisme dan dikhawatirkan mengganggu jalannya revolusi Indonesia.

Bersama Usman dan Gani bin Arup, 10 Maret 1965, Harun menyusup ke jantung Singapura yang hanya terpisah Selat Malaka. Mereka berhasil menembus pertahanan negeri itu. Target mereka adalah MacDonald House di Jalan Orchad Road. Gedung berlantai 10 ini merupakan kantor Hongkong and Shanghai Bank. Saat itu, hujan turun sangat deras dengan petir yang sambar menyambar. Mereka lalu meletakkan bom di dekat lift.

Tujuh menit setelah layanan bank tutup, tepatnya pukul 15.07 waktu setempat, bom meledak. Ledakan bom merobek pintu lift dan menghancurkan salah satu dinding di gedung itu. Reruntuhan tembok menimpa 150 karyawan bank yang sedang menyelesaikan tugasnya. Meja, kursi dan mesin ketik terpental hingga ke jalan.

Harian Singapura, The Strait Times melaporkan, tiga orang meninggal dunia dan 33 lainnya terluka. Puluhan mobil rusak berat. Kaca-kaca jendela gedung sepanjang Orchad Road dengan radius 100 meter hancur. Sebagian karyawan yang selamat awalnya menduga suara ledakan dan kilatan yang menyilaukan mata itu berasal dari petir yang menghujam gedung.

Usman dan Harun berhasil melarikan diri. Negeri Singa pun gempar.  Pasukan khusus kemudian disebar untuk mencari otak peledakan. Pasukan khusus Australia ikut membantu.

Usman dan Harun akhirnya tertangkap saat boat yang mereka tumpangi kehabisan bahan bakar. Pengadilan Singapura yang menyidangkan kasus ini kemudian menjatuhkan hukuman mati untuk keduanya. Hukuman itu dilaksanakan tiga tahun setelah peristiwa peledakan bom di  penjara Changi pada 17 Oktober 1968.

Harun baru berusia 21 tahun saat tali yang menjulur dari tiang gantungan melingkar di lehernya, dan Usman berumur 25 tahun. Sebelum eksekusi dilaksanakan, permintaan mereka: dimandikan di tanah air dengan air Indonesia. Untuk menghormati jasa-jasa mereka, Harun dan Usman dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.


Jangan kembali ke masa lalu
Hubungan diplomatik Indonesia dan Singapura menjadi tegang karena RI bersikukuh menamai salah satu kapal barunya dengan nama Usman dan Harun (KRI Usman-Harun). Kedua pahlawan nasional RI itu adalah pengebom MacDonald House di Orchard Road, Singapura, tahun 1965, pada periode konfrontasi Indonesia-Malaysia.

Staf Khusus Presiden RI, Teuku Faizasyah menegaskan, masalah Usman-Harun cukup menjadi sejarah masa lalu sehingga tidak perlu mengganggu hubungan bilateral antara Indonesia dan Singapura. Apalagi, mantan Perdana Menteri Singapura Lee Kuan Yew pernah melakukan tabur bunga ke pusara Usman dan Harun di Taman Pemakaman Pahlawan Kalibata, Jakarta.

“Kalau kita rujuk dengan apa yang terjadi selama ini, yakni tabur bunga oleh PM Lee Kuan Yew, sudah ada penyelesaian atas masalah yang terjadi di masa lalu,” kata Faizasyah. Dia menilai, langkah Singapura yang melancarkan protes keras itu bentuk perluasan masalah.

Presiden SBY, kata dia, telah menugaskan Menkopolhukam untuk ‘mengelola’ isu ini. "Yang jelas tidak ada niat Indonesia mengubah nama KRI Usman-Harun,” ujar Faizasyah.

Faizasyah berpandangan, Singapura perlu menimbang prospek ke depan dari kondisi yang tidak menguntungkan ini terkait hubungan bilateral maupun kerjasama ASEAN. “Janganlah hal-hal seperti ini seperti melihat kembali ke masa lalu – yang persoalannya sebenarnya sudah selesai,” kata dia. (VivaNews)