Satu lompatan dilakukan PT Pindad, setelah Direktur Utama PT Pindad, Sudirman Said, menyatakan kesanggupan perusahaan itu membuat dan membangun amunisi tank utama 2A4 Leopard.
"Dari hasil Latihan Gabungan TNI 2014, banyak yang harus kami jawab, salah satunya melengkapi amunisi bagi beberapa perenjataan terkini TNI, termasuk peluru meriam 120mm smoothbore untuk tank Leopard," kata Said, di Bandung, Jumat.
Menurut dia, untuk peluru meriam 120mm smoothbore Leopard, ditargetkan pengembanganya sudah bisa dilakukan mulai akhir 2015.
"Sehingga kita bisa memenuhi kebutuhan kesenjataan tank itu," katanya.
Leopard memakai dua varian meriam utama, yaitu Rheinmetall 120 mm L44 atau L55 smoothbore alias tanpa ulir sepanjang 5,28 meter dan berbobot 3,37 ton.
Laras meriam tanpa ulir merupakan "jawaban" pada dasawarsa '70-an atas kejayaan seri tank T-72/80 dari Uni Soviet yang bisa membantai secara mudah tank-tank Barat.
Laras meriam tanpa ulir juga memiliki energi kinetik lebih besar ketimbang yang berulir sehingga meninggikan efek mematikan amunisi yang dilontarkan.
Selain amunisi konvensional, meriam ini bisa menerima berbagai tipe amunisi, sebutlah Armour Piercing Discarding Sabot DM23, ataupun Armour Piercing Fin Stabilized Discarding Sabot M829 dengan kepala ledak berisikan uranium.
Masih ada amunisi Multi Purpose Anti Tank Projectile yang berbasis teknologi High Explosive Anti Tank, buatan Jerman, berdesignasi NATO sebagai DM12. (Antara)
Tampilkan postingan dengan label RISET. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RISET. Tampilkan semua postingan
09 Juni, 2014
PT Pindad siap produksi amunisi tank 2A4 Leopard
Diunggah Oleh:
filereid12345678
pada Senin, Juni 09, 2014
ITB Ciptakan Teknologi Kamuplase Untuk Panser Anoa dan Tank Pindad
Diunggah Oleh:
filereid12345678
pada Senin, Juni 09, 2014
Penyusupan kendaraan militer ke pihak musuh harus lolos dari sensor termal atau panas. Untuk itu, mahasiswa dan dosen Teknik Elektro ITB merintis teknologi penyamaran untuk tank atau pengangkut infanteri. Kelak kendaraan itu seakan menghilang dari pantauan, atau berubah wujud seperti hewan atau kendaraan sipil.
Kamuflase termal untuk kendaraan militer itu digarap Adrian Yopi Gazali, Claudius Andri, dan Gregorius Famalt, mahasiswa Teknik Elektro ITB 2010. Bentuknya semacam sisik berupa pelat tembaga berukuran 12,5 sentimeter sama sisi, setebal 0,4 milimeter. "Ukuran itu menyesuaikan satu pixel pada kamera pengintai termal," kata Adrian kepada Tempo di acara Electrical Engineering Days di Aula Barat ITB yang berlangsung dari 3-6 Juni 2014.
Sisik-sisik kamuflase itu menjadi pelapis luar kendaraan militer. Untuk pengangkut infanteri seperti Anoa buatan PT Pindad, kata Adrian, kurang-lebih diperlukan 1.200 sisik kamuflase. Pemasangannya perlu memakai kerangka tambahan pada kendaraan jadi.
Di belakang tiap sisik itu, pelat tembaga disambungkan ke sejumlah komponen utama, seperti heatsink yang membuang panas, peltier sebagai pendingin atau pemanas, relay untuk mengubah pelat menjadi panas atau dingin, serta sensor termal untuk mendapatkan suhu di lingkungan sekitarnya.
Tiap sisik harus dipasang sepasang pada posisi berseberangan agar sanggup membaca temperatur lingkungan dengan optimal. "Jika berada di hutan atau semak, tank akan lenyap dari pantauan karena suhunya mengikuti kondisi sekitar," ujarnya.
Sisik kamuflase juga bisa diatur agar panasnya membentuk hewan atau kendaraan sipil untuk mengelabui musuh. Kamuflase itu untuk operasi malam hari yang pemantauan umumnya memakai kamera termal.
Menurut Andri, studi tugas akhir ini melanjutkan riset tahun lalu yang menjajal pelat dari bahan aluminium. Dari hasil uji coba mereka, pelat aluminium lebih lambat panas daripada tembaga sehingga lebih boros tenaga listriknya.
Namun mereka juga belum puas, karena tembaga yang sanggup panas dalam 38 detik, masih terhitung lambat dibanding komponen peltier yang bisa menghasilkan panas kurang dari lima detik. Konduktivitas termal peltier juga lebih baik, yakni berkisar -10 hingga 70 derajat celsius, adapun tembaga berkisar 15-30 derajat. "Bahan itu perlu dipelajari lagi jenis materialnya," kata dia.
Masalah terbesar teknologi mereka yaitu daya listrik untuk pemakaian sisik kamuflase. Tiap sisik tembaga misalnya, butuh listrik hingga 60 watt. Mereka belum menemukan jalan keluarnya. (Tempo)
Kamuflase termal untuk kendaraan militer itu digarap Adrian Yopi Gazali, Claudius Andri, dan Gregorius Famalt, mahasiswa Teknik Elektro ITB 2010. Bentuknya semacam sisik berupa pelat tembaga berukuran 12,5 sentimeter sama sisi, setebal 0,4 milimeter. "Ukuran itu menyesuaikan satu pixel pada kamera pengintai termal," kata Adrian kepada Tempo di acara Electrical Engineering Days di Aula Barat ITB yang berlangsung dari 3-6 Juni 2014.
Sisik-sisik kamuflase itu menjadi pelapis luar kendaraan militer. Untuk pengangkut infanteri seperti Anoa buatan PT Pindad, kata Adrian, kurang-lebih diperlukan 1.200 sisik kamuflase. Pemasangannya perlu memakai kerangka tambahan pada kendaraan jadi.
Di belakang tiap sisik itu, pelat tembaga disambungkan ke sejumlah komponen utama, seperti heatsink yang membuang panas, peltier sebagai pendingin atau pemanas, relay untuk mengubah pelat menjadi panas atau dingin, serta sensor termal untuk mendapatkan suhu di lingkungan sekitarnya.
Tiap sisik harus dipasang sepasang pada posisi berseberangan agar sanggup membaca temperatur lingkungan dengan optimal. "Jika berada di hutan atau semak, tank akan lenyap dari pantauan karena suhunya mengikuti kondisi sekitar," ujarnya.
Sisik kamuflase juga bisa diatur agar panasnya membentuk hewan atau kendaraan sipil untuk mengelabui musuh. Kamuflase itu untuk operasi malam hari yang pemantauan umumnya memakai kamera termal.
Menurut Andri, studi tugas akhir ini melanjutkan riset tahun lalu yang menjajal pelat dari bahan aluminium. Dari hasil uji coba mereka, pelat aluminium lebih lambat panas daripada tembaga sehingga lebih boros tenaga listriknya.
Namun mereka juga belum puas, karena tembaga yang sanggup panas dalam 38 detik, masih terhitung lambat dibanding komponen peltier yang bisa menghasilkan panas kurang dari lima detik. Konduktivitas termal peltier juga lebih baik, yakni berkisar -10 hingga 70 derajat celsius, adapun tembaga berkisar 15-30 derajat. "Bahan itu perlu dipelajari lagi jenis materialnya," kata dia.
Masalah terbesar teknologi mereka yaitu daya listrik untuk pemakaian sisik kamuflase. Tiap sisik tembaga misalnya, butuh listrik hingga 60 watt. Mereka belum menemukan jalan keluarnya. (Tempo)
26 Mei, 2014
TNI AD Kembangkan Pemindai Jarak Jauh untuk Awasi Perbatasan
Diunggah Oleh:
filereid12345678
pada Senin, Mei 26, 2014
Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat mengembangkan sejumlah peralatan berteknologi untuk mengawasi kawasan perbatasan dengan negara tetangga.
Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal TNI Budiman mengatakan dari hasil riset, pihaknya bisa mengembangkan stasiun transmiter atau "Open Base Transmitter Statiton" (BTS) dan multirotor (alat pemindai jarak jauh) yang bisa digunakan untuk pengawasan dari jarak jauh.
"Kami sudah melakukan riset pengembangan sehingga yang semula pengamanan perbatasan dengan manual dan prajurit, ke depan mudah-mudahan menggunakan peralatan dari hasil riset," kata dia di Gianyar, Bali, Sabtu (24/5).
Pihaknya akan memprioritaskan pengembangan teknologi itu tahun 2014 dan ditargetkan bisa digunakan secara lengkap tahun 2015.
Peralatan seperti Multirotor itu akan diprioritaskan pada tiga negara yang berbatasan langsung dengan daratan Indonesia di antaranya Papua Nugini, Timor Leste, dan Malaysia.
"Kami mulai membeli sebagian hasil riset yang mulai kami produksi terutama yang murah tetapi bermanfaat untuk digunakan terlebih dulu," ucapnya. Sementara itu pada pulau terluar, pihaknya telah menempatkan personel dengan kegiatan patroli terbatas.
Indonesia setidaknya berbatasan langsung dengan 10 negara baik kawasan darat dan laut yakni Malaysia, Singapura, Timor Leste, Vietnam, Papua Nugini, Australia, Thailand, India, dan Filipina. (ROL)
Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal TNI Budiman mengatakan dari hasil riset, pihaknya bisa mengembangkan stasiun transmiter atau "Open Base Transmitter Statiton" (BTS) dan multirotor (alat pemindai jarak jauh) yang bisa digunakan untuk pengawasan dari jarak jauh.
"Kami sudah melakukan riset pengembangan sehingga yang semula pengamanan perbatasan dengan manual dan prajurit, ke depan mudah-mudahan menggunakan peralatan dari hasil riset," kata dia di Gianyar, Bali, Sabtu (24/5).
Pihaknya akan memprioritaskan pengembangan teknologi itu tahun 2014 dan ditargetkan bisa digunakan secara lengkap tahun 2015.
Peralatan seperti Multirotor itu akan diprioritaskan pada tiga negara yang berbatasan langsung dengan daratan Indonesia di antaranya Papua Nugini, Timor Leste, dan Malaysia.
"Kami mulai membeli sebagian hasil riset yang mulai kami produksi terutama yang murah tetapi bermanfaat untuk digunakan terlebih dulu," ucapnya. Sementara itu pada pulau terluar, pihaknya telah menempatkan personel dengan kegiatan patroli terbatas.
Indonesia setidaknya berbatasan langsung dengan 10 negara baik kawasan darat dan laut yakni Malaysia, Singapura, Timor Leste, Vietnam, Papua Nugini, Australia, Thailand, India, dan Filipina. (ROL)
22 Mei, 2014
BJ Habibie Sempat Rancang Program Satelit Buatan Indonesia
Diunggah Oleh:
filereid12345678
pada Kamis, Mei 22, 2014
Baru-baru ini, salah satu bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Indonesia membeli satelit dari luar negeri. Proses pengembangan dan produksi tersebut dilakukan di luar negeri tanpa campur tangan tenaga ahli dan perusahaan Indonesia.
Padahal pada era 1980-an, pemerintah melalui PT Dirgantara Indonesia (PTDI) telah memiliki divisi khusus untuk merancang dan mengembangkan satelit buatan Indonesia. Pada masa itu, PTDI dipimpin oleh Menristek BJ Habibie. Ia membangun fasilitas pengembangan satelit hingga menyekolahkan puluhan putra-putri terbaik Indonesia ke luar negeri untuk belajar teknologi satelit.
“Itu kebanyakan angkatan saya. Itu yang pernah training di Los Angeles. Kita belajar bikin badannya. Ada 30 orang. Dia sekolah ambil degree (gelar), ada yang nggak. Saya pernah ikutan,” kata Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia (Persero) Budi Santoso kepada detikFinance saat ditemui di Gedung DPR RI, Jakarta Selasa (20/5/2014).
Program pengembangan satelit dilakukan dengan konsep transfer teknologi. Ketika proses produksi awal dilakukan di luar negeri proses selanjutnya dilakukan di Indonesia dengan memanfaatkan kemampuan insinyur dan komponen lokal. Sayangnya program tersebut berhenti di tengah jalan.
“Itu baru diajarin bagaimana cara bikin. Waktu mau bikin programnya berhenti. Saat mau produksi berhenti,” katanya.
Akibat berhentinya program pengembangan satelit di Indonesia, hingga saat ini tak satupun ada keterlibatan industri strategis nasional dalam mengembangkan satelit.
Kini, para tenaga ahli asal Indonesia yang pernah disekolahkan BJ Habibie, bekerja ke perusahaan-perusahaan pembuat satelit dunia.
“Mereka sudah bekerja di perusahaan satelit dunia. Kalau disuruh balik ke sini, saya nggak kuat bayar,” katanya.
Budi menjelaskan pengembangan industri satelit di Indonesia tidak terlepas dari dukungan pemerintah. Pemerintah harus konsisten dalam mendukung dan menjalankan program pengembangan teknologi satelit nasional.
“Katakanlah ada program 6 satelit ke depan. Itu pemerintah katakan harus beli dari situ. Ya memang harus konsisten. Kalau itu harus ditender ya susah. Kalau satelit biarpun namanya sama tapi setiap orang punya cara sendiri. Besok ambil teknologi Amerika, Prancis terus Rusia. Ya nggak jadi-jadi,” paparnya. (Detik)
Padahal pada era 1980-an, pemerintah melalui PT Dirgantara Indonesia (PTDI) telah memiliki divisi khusus untuk merancang dan mengembangkan satelit buatan Indonesia. Pada masa itu, PTDI dipimpin oleh Menristek BJ Habibie. Ia membangun fasilitas pengembangan satelit hingga menyekolahkan puluhan putra-putri terbaik Indonesia ke luar negeri untuk belajar teknologi satelit.
“Itu kebanyakan angkatan saya. Itu yang pernah training di Los Angeles. Kita belajar bikin badannya. Ada 30 orang. Dia sekolah ambil degree (gelar), ada yang nggak. Saya pernah ikutan,” kata Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia (Persero) Budi Santoso kepada detikFinance saat ditemui di Gedung DPR RI, Jakarta Selasa (20/5/2014).
Program pengembangan satelit dilakukan dengan konsep transfer teknologi. Ketika proses produksi awal dilakukan di luar negeri proses selanjutnya dilakukan di Indonesia dengan memanfaatkan kemampuan insinyur dan komponen lokal. Sayangnya program tersebut berhenti di tengah jalan.
“Itu baru diajarin bagaimana cara bikin. Waktu mau bikin programnya berhenti. Saat mau produksi berhenti,” katanya.
Akibat berhentinya program pengembangan satelit di Indonesia, hingga saat ini tak satupun ada keterlibatan industri strategis nasional dalam mengembangkan satelit.
Kini, para tenaga ahli asal Indonesia yang pernah disekolahkan BJ Habibie, bekerja ke perusahaan-perusahaan pembuat satelit dunia.
“Mereka sudah bekerja di perusahaan satelit dunia. Kalau disuruh balik ke sini, saya nggak kuat bayar,” katanya.
Budi menjelaskan pengembangan industri satelit di Indonesia tidak terlepas dari dukungan pemerintah. Pemerintah harus konsisten dalam mendukung dan menjalankan program pengembangan teknologi satelit nasional.
“Katakanlah ada program 6 satelit ke depan. Itu pemerintah katakan harus beli dari situ. Ya memang harus konsisten. Kalau itu harus ditender ya susah. Kalau satelit biarpun namanya sama tapi setiap orang punya cara sendiri. Besok ambil teknologi Amerika, Prancis terus Rusia. Ya nggak jadi-jadi,” paparnya. (Detik)
15 Mei, 2014
LIPI siapkan kapal riset laut dalam
Diunggah Oleh:
filereid12345678
pada Kamis, Mei 15, 2014
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mulai mempersiapkan kapal penelitian dan riset laut dalam dengan teknologi utama sistem "echo-sounding multi-beam" yang mampu menjangkau kedalaman hingga 20.000 kaki atau 6.000 meter.
"Kalau teknologi yang utama itu multi-beam untuk pemetaan dasar laut sedalam kira-kira 6.000 meter," kata Kepala UPT Balai Konservasi Biota Laut (BKBL) LIPI Ambon Augy Syahalaitua kepada Antara di Ambon, Rabu.
Teknologi lain yang, menurut dia, akan melengkapi kapal penelitian tersebut antara lain peralatan oseanografi untuk pengukuran suhu, salinitas dan parameter kimia sampai minimal kedalaman 5.000 meter di bawah laut.
Ia menyebut angka Rp250 miliar untuk mendapatkan satu kapal riset dan penelitian lengkap dengan semua peralatan canggih tersebut.
Kapal dengan kemampuan jelajah jauh pun, menurut dia, sangat dibutuhkan mengingat sumber daya kelautan juga banyak di wilayah Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE), dan di lokasi itu belum banyak sumber daya yang diteliti.
"Kita juga sekalian menyiapkan sumber daya manusia untuk penelitian di ZEE pada 10 hingga 20 tahun dari sekarang," ujar dia.
Sebelumnya Kepala LIPI Lukman Hakim mengatakan lembaganya memang membutuhkan kapal untuk riset dan penelitian yang lebih mumpuni, terutama setelah ada peningkatan status Unit Pelaksana Teknis (UPT) Balai Konservasi Biota Laut Ambon menjadi Pusat Penelitian Laut Dalam LIPI.
"Kita butuh kapal, dengan peningkatan status eselonisasi UPT Balai Konservasi Biota Laut BKBL Ambon menjadi Pusat Penelitian Laut Dalam LIPI di Indonesia maka jadi tanggung jawab kita untuk membangun kapal penelitian kelautan dengan standar internasional," ujar dia.
Sementara itu, Kepala Pusat Penelitian Oceanografi LIPI Zainal Arifin mengatakan dalam lima tahun ke depan kapal untuk riset dan penelitian laut dalam ini harus sudah ada.
"Membuat kapal untuk riset dan penelitian laut dalam ini tentu tidak seperti membeli (mobil) kijang, tinggal beli saja. Kami sih berharap lima tahun ke depan (kapal) sudah ada," ujar dia.
Lebih lanjut ia mengatakan LIPI setelah memiliki Pusat Penelitian Laut Dalam ingin bisa membuat kapal riset dan penelitian dengan standar internasional. Tentu kapal tersebut tidak seperti kapal barang kebanyakan, karena jelas memiliki spesifikasi tertentu.
Saat ini LIPI memiliki dua kapal yakni Kapal Riset Baruna Jaya VII buatan PT PAL dan Kapal Riset Baruna Jaya VIII buatan Norwegia yang memiliki fasilitas penelitian yang relatif modern. (Antaranews)
"Kalau teknologi yang utama itu multi-beam untuk pemetaan dasar laut sedalam kira-kira 6.000 meter," kata Kepala UPT Balai Konservasi Biota Laut (BKBL) LIPI Ambon Augy Syahalaitua kepada Antara di Ambon, Rabu.
Teknologi lain yang, menurut dia, akan melengkapi kapal penelitian tersebut antara lain peralatan oseanografi untuk pengukuran suhu, salinitas dan parameter kimia sampai minimal kedalaman 5.000 meter di bawah laut.
Ia menyebut angka Rp250 miliar untuk mendapatkan satu kapal riset dan penelitian lengkap dengan semua peralatan canggih tersebut.
Kapal dengan kemampuan jelajah jauh pun, menurut dia, sangat dibutuhkan mengingat sumber daya kelautan juga banyak di wilayah Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE), dan di lokasi itu belum banyak sumber daya yang diteliti.
"Kita juga sekalian menyiapkan sumber daya manusia untuk penelitian di ZEE pada 10 hingga 20 tahun dari sekarang," ujar dia.
Sebelumnya Kepala LIPI Lukman Hakim mengatakan lembaganya memang membutuhkan kapal untuk riset dan penelitian yang lebih mumpuni, terutama setelah ada peningkatan status Unit Pelaksana Teknis (UPT) Balai Konservasi Biota Laut Ambon menjadi Pusat Penelitian Laut Dalam LIPI.
"Kita butuh kapal, dengan peningkatan status eselonisasi UPT Balai Konservasi Biota Laut BKBL Ambon menjadi Pusat Penelitian Laut Dalam LIPI di Indonesia maka jadi tanggung jawab kita untuk membangun kapal penelitian kelautan dengan standar internasional," ujar dia.
Sementara itu, Kepala Pusat Penelitian Oceanografi LIPI Zainal Arifin mengatakan dalam lima tahun ke depan kapal untuk riset dan penelitian laut dalam ini harus sudah ada.
"Membuat kapal untuk riset dan penelitian laut dalam ini tentu tidak seperti membeli (mobil) kijang, tinggal beli saja. Kami sih berharap lima tahun ke depan (kapal) sudah ada," ujar dia.
Lebih lanjut ia mengatakan LIPI setelah memiliki Pusat Penelitian Laut Dalam ingin bisa membuat kapal riset dan penelitian dengan standar internasional. Tentu kapal tersebut tidak seperti kapal barang kebanyakan, karena jelas memiliki spesifikasi tertentu.
Saat ini LIPI memiliki dua kapal yakni Kapal Riset Baruna Jaya VII buatan PT PAL dan Kapal Riset Baruna Jaya VIII buatan Norwegia yang memiliki fasilitas penelitian yang relatif modern. (Antaranews)
13 Mei, 2014
TNI AL Lirik Teknologi Kapal Selam ITS
Diunggah Oleh:
filereid12345678
pada Selasa, Mei 13, 2014
TNI AL memerpanjang kerjasamanya dengan ITS Surabaya. Penandatanganan kerjasama itu dilakukan Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Dr Marsetio MM dengan Rektor ITS Prof Dr Ir Tri Yogi Yuwono DEA, di gedung Rektorat ITS, Senin (12/5/2014).
Kerjasama yang dijalin kedua pihak, sebenarnya sudah berjalan lama. Peran TNI AL memang besar atas berdirinya ITSm sebab Institut Angkatan Laut menjadi cikal bakal berdirinya ITS. Piagam Kesepakatan Bersama dan Perjanjian kerjasama antara TNI AL dengan ITS yang ditandatangani oleh Rektor ITS dan KSAL, diperpanjang dalam bentuk kerjasama bidang pendidikan.
Laksamana TNI Marsetio mengatakan, TNI AL telah bekerjasama dengan 25 Perguruan Tinggi di Indonesia, termasuk ITS yang tertua sejak 1950-an. “Dahulu banyak pengajar dari AL dan namanya juga Institut AL. Pengajar-pengajar tersebut merupakan cikal bakal berdirinya ITS,” ujar Marsetio.
Ia juga mengungkapkan bahwa saat ini TNI AL sedang membangun industri pertahanan dalam negeri. Namun dalam upaya mengembangkan industri pertahanan dalam negeri itu, ternyata masih belum banyak melibatkan perguruan tinggi. Yang paling banyak dilibatkan adalah industri saja. “Ke depan, pengadaan kapal harus melibatkan perguruan tinggi dan kebetulan pertengahan September nanti kita kedatangan tiga buah kapal baru, jenis fregat dari Inggris,” ujar Marsetio.
Sementara Rektor ITS Tri Yogi Yuwono menjelaskan, ITS saat ini juga memiliki kapal selam yang merupakan riset ITS. “Kita juga sedang menggarap kapal selam dan masih belum jadi, baru sekitar 70 persen rampung. Yakni Kapal Perang Crocodile-Hydrofoil (KPC-H),” papar Tri Yogi.
Awalnya, kapal tersebut didanai Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek), namun terhenti. Saat ini ITS sedang mengupayakan agar bisa mendapatkan pendanaan dari Kemdikbud. “Ya semoga bisa untuk membantu riset tersebut,” ucapnya.
Mendengar sambutan Triyogi, Marsetio pun menanggapi bahwa beliau tertarik dengan tawaran ITS. “Mendengar ada kapal perang crocodile tersebut, saya tertarik untuk melihatnya terlebih dahulu,” ujarnya. ( Centroone )
![]() |
| Kapal Perang Crocodile-Hydrofoil Riset ITS |
Kerjasama yang dijalin kedua pihak, sebenarnya sudah berjalan lama. Peran TNI AL memang besar atas berdirinya ITSm sebab Institut Angkatan Laut menjadi cikal bakal berdirinya ITS. Piagam Kesepakatan Bersama dan Perjanjian kerjasama antara TNI AL dengan ITS yang ditandatangani oleh Rektor ITS dan KSAL, diperpanjang dalam bentuk kerjasama bidang pendidikan.
Laksamana TNI Marsetio mengatakan, TNI AL telah bekerjasama dengan 25 Perguruan Tinggi di Indonesia, termasuk ITS yang tertua sejak 1950-an. “Dahulu banyak pengajar dari AL dan namanya juga Institut AL. Pengajar-pengajar tersebut merupakan cikal bakal berdirinya ITS,” ujar Marsetio.
Ia juga mengungkapkan bahwa saat ini TNI AL sedang membangun industri pertahanan dalam negeri. Namun dalam upaya mengembangkan industri pertahanan dalam negeri itu, ternyata masih belum banyak melibatkan perguruan tinggi. Yang paling banyak dilibatkan adalah industri saja. “Ke depan, pengadaan kapal harus melibatkan perguruan tinggi dan kebetulan pertengahan September nanti kita kedatangan tiga buah kapal baru, jenis fregat dari Inggris,” ujar Marsetio.
Sementara Rektor ITS Tri Yogi Yuwono menjelaskan, ITS saat ini juga memiliki kapal selam yang merupakan riset ITS. “Kita juga sedang menggarap kapal selam dan masih belum jadi, baru sekitar 70 persen rampung. Yakni Kapal Perang Crocodile-Hydrofoil (KPC-H),” papar Tri Yogi.
Awalnya, kapal tersebut didanai Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek), namun terhenti. Saat ini ITS sedang mengupayakan agar bisa mendapatkan pendanaan dari Kemdikbud. “Ya semoga bisa untuk membantu riset tersebut,” ucapnya.
Mendengar sambutan Triyogi, Marsetio pun menanggapi bahwa beliau tertarik dengan tawaran ITS. “Mendengar ada kapal perang crocodile tersebut, saya tertarik untuk melihatnya terlebih dahulu,” ujarnya. ( Centroone )
09 Mei, 2014
Lapan Gandeng 7 Universitas Kembangkan Teknologi Satelit dan Roket
Diunggah Oleh:
filereid12345678
pada Jumat, Mei 09, 2014
Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) menggandeng 7 universitas negeri dan swasta untuk mengembangkan riset tentang satelit dan roket. Hal ini demi mewujudkan mimpi teknologi satelit dan roket nantinya tidak perlu lagi bergantung pada negara lain.
"Satelit umurnya tidak lama, hanya 5-10 tahun. Maka kita tidak boleh tergantung dengan negara lain. Industri satelit adalah industri yang terus menerus, dan perlu dikembangkan terus. Saya yakin kita bisa membangun sendiri," tutur Kepala Lapan Thomas Djamaluddin.
Hal itu disampaikannya dalam sambutan saat acara penekenan kerjasama riset dengan 7 universitas di Balai Pertemuan Dirgantara Lapan, Jl Pemuda Persil No 1, Rawamangun, Jakarta Timur, Kamis (7/5/2014).
"Saat ini kita masih merancang pesawat N219, direncanakan 60 persen merupakan komponen lokal. Dan harapannya semoga bisa terwujud," imbuh profesor riset astronomi-astrofisika ini.
UU keantariksaan yang disahkan 6 Agustus 2013, lanjut dia, menjadi kerangka pengembangan keantariksaan yang kuat. Thomas melanjutkan mimpinya, dalam 25 tahun ke depan adalah memiliki satelit penginderaan jauh sendiri, satelit komunikasi yang diluncurkan dengan roket sendiri dan dari bandar antariksa sendiri.
"Ada beberapa tempat yang telah disurvei untuk menjadi tempat bandar antariksa sendiri. Seperti di Biak dan Morotai," jelas dia.
Untuk teknologi satelit, Lapan sebenarnya sudah menyiapkan 2 satelit, yakni Lapan A2 dan Lapan A3. Kedua satelit itu, Lapan A2 dan Lapan A3, akan diluncurkan dari Pusat Stasiun Luar Angkasa Sriharikota, India di tahun 2015. Komponen kedua satelit yang dibuat di Indonesia oleh orang Indonesia ini, separuhnya masih impor.
"Sebagian dari dalam negeri, dan sebagian impor, perbandingan 50:50. Industri kita masih beluim mampu membuat komponen satelit, yang tahan dengan kondisi ekstrem," tuturnya.
Kerjasama dengan 7 universitas ini, adalah dalam pengembangan 4 bidang, yakni sains antariksa dan atmosfer, pemanfaatan keantariksaan, teknologi kedirgantaraan, dan kajian kebijakan kedirgantaraan. Dalam membangun 4 kompetensi tersebut, dia ingin Lapan dan 7 universitas itu menjadi center of excellence, dengan 4 aspek besar yang dipinggirkan yakni Pengembangan kompeten, pengembangan layanan publik, memperkuat kerjasama nasional-internasional, pengembangan SDM.
Anggaran riset berasal dari swadaya universitas dan Lapan. Lapan sendiri memiliki anggaran Rp 800 miliar, yang diperuntukkan operasional Rp 500 miliar dan sisanya untuk riset pembuatan pesawat N219 yang bekerja sama dengan PT Dirgantara Indonesia (DI).
Kerja sama riset ini nantinya hanya akan menciptakan dan mengembangkan prototipe teknologi. Kemudian untuk produksi prototipe itu, barulah bekerja sama dengan pihak industri.
"Seperti contoh untuk bahan bakar roket, ketika digunakan dalam jumlah banyak, karena Kementerian Pertahanan perlu roket untuk pertahanan, tentu Lapan tidak bisa menanganinya sendiri. Maka, kerjasama Lapan dengan PT Bahana untuk pengembangan pembuatan roket tersebut. Di mana kita akan membuat prototipe dan nantinya industri yang akan mengembangkan," tuturnya.
Selain Kepala Lapan, berikut perwakilan 7 universitas yang meneken kerjasama itu: Rektor Telkom University Mochamad Azhari, Rektor Surya University Yohanes Surya, Direktur PENS Zainal Arief, Wakil Rektor Unpad Med Setiawan, Dekan Fakultas Tekni Universitas Nusa Cendana ML Gaol, Dekan Fakultas Sains dan Matematika Undip Muhammad Nur dan Kepala Bidang Hubungan Internasional UGM Rahmat Sriwijaya. (Detik)
![]() |
| Satelit Lapan A2 yang akan diluncurkan |
"Satelit umurnya tidak lama, hanya 5-10 tahun. Maka kita tidak boleh tergantung dengan negara lain. Industri satelit adalah industri yang terus menerus, dan perlu dikembangkan terus. Saya yakin kita bisa membangun sendiri," tutur Kepala Lapan Thomas Djamaluddin.
Hal itu disampaikannya dalam sambutan saat acara penekenan kerjasama riset dengan 7 universitas di Balai Pertemuan Dirgantara Lapan, Jl Pemuda Persil No 1, Rawamangun, Jakarta Timur, Kamis (7/5/2014).
"Saat ini kita masih merancang pesawat N219, direncanakan 60 persen merupakan komponen lokal. Dan harapannya semoga bisa terwujud," imbuh profesor riset astronomi-astrofisika ini.
UU keantariksaan yang disahkan 6 Agustus 2013, lanjut dia, menjadi kerangka pengembangan keantariksaan yang kuat. Thomas melanjutkan mimpinya, dalam 25 tahun ke depan adalah memiliki satelit penginderaan jauh sendiri, satelit komunikasi yang diluncurkan dengan roket sendiri dan dari bandar antariksa sendiri.
"Ada beberapa tempat yang telah disurvei untuk menjadi tempat bandar antariksa sendiri. Seperti di Biak dan Morotai," jelas dia.
Untuk teknologi satelit, Lapan sebenarnya sudah menyiapkan 2 satelit, yakni Lapan A2 dan Lapan A3. Kedua satelit itu, Lapan A2 dan Lapan A3, akan diluncurkan dari Pusat Stasiun Luar Angkasa Sriharikota, India di tahun 2015. Komponen kedua satelit yang dibuat di Indonesia oleh orang Indonesia ini, separuhnya masih impor.
"Sebagian dari dalam negeri, dan sebagian impor, perbandingan 50:50. Industri kita masih beluim mampu membuat komponen satelit, yang tahan dengan kondisi ekstrem," tuturnya.
Kerjasama dengan 7 universitas ini, adalah dalam pengembangan 4 bidang, yakni sains antariksa dan atmosfer, pemanfaatan keantariksaan, teknologi kedirgantaraan, dan kajian kebijakan kedirgantaraan. Dalam membangun 4 kompetensi tersebut, dia ingin Lapan dan 7 universitas itu menjadi center of excellence, dengan 4 aspek besar yang dipinggirkan yakni Pengembangan kompeten, pengembangan layanan publik, memperkuat kerjasama nasional-internasional, pengembangan SDM.
Anggaran riset berasal dari swadaya universitas dan Lapan. Lapan sendiri memiliki anggaran Rp 800 miliar, yang diperuntukkan operasional Rp 500 miliar dan sisanya untuk riset pembuatan pesawat N219 yang bekerja sama dengan PT Dirgantara Indonesia (DI).
Kerja sama riset ini nantinya hanya akan menciptakan dan mengembangkan prototipe teknologi. Kemudian untuk produksi prototipe itu, barulah bekerja sama dengan pihak industri.
"Seperti contoh untuk bahan bakar roket, ketika digunakan dalam jumlah banyak, karena Kementerian Pertahanan perlu roket untuk pertahanan, tentu Lapan tidak bisa menanganinya sendiri. Maka, kerjasama Lapan dengan PT Bahana untuk pengembangan pembuatan roket tersebut. Di mana kita akan membuat prototipe dan nantinya industri yang akan mengembangkan," tuturnya.
Selain Kepala Lapan, berikut perwakilan 7 universitas yang meneken kerjasama itu: Rektor Telkom University Mochamad Azhari, Rektor Surya University Yohanes Surya, Direktur PENS Zainal Arief, Wakil Rektor Unpad Med Setiawan, Dekan Fakultas Tekni Universitas Nusa Cendana ML Gaol, Dekan Fakultas Sains dan Matematika Undip Muhammad Nur dan Kepala Bidang Hubungan Internasional UGM Rahmat Sriwijaya. (Detik)
08 Mei, 2014
Dua Prajurit TNI AD Penemu Anti-Jammer
Diunggah Oleh:
filereid12345678
pada Kamis, Mei 08, 2014
Dua prajurit bintara TNI AD, Serka Widodo dan Sertu Anggit Rudiyanto, dari satuan Pusat Pendidikan Zeni (Pusdikzi) TNI AD, mendapatkan kenaikan pangkat luar biasa karena menciptakan alat Anti-Jammer (pengacau sinyal). Tak hanya itu, mereka juga mendapatkan kesempatan untuk mengenyam pendidikan di sekolah calon perwira (secapa) TNI AD.
Kepala Staf TNI AD Jenderal Budiman mengatakan, anti-jammer ciptaan keduanya merupakan alat canggih yang dapat membantu kinerja TNI untuk melacak nomor telepon tertentu yang menjadi target operasi. Adapun sistem pengoperasiannya, yakni dengan cara mengacaukan sinyal nomor lain yang tidak menjadi target sasaran.
“Kalau jammer bisa mengacaukan nomor, nah ini kita bisa mencari nomor-nomor tertentu,” kata Budiman disela-sela pemberian penghargaan kepada 48 prajurit berprestasi di Lapangan Mabes AD Jakarta, Selasa (6/5/2014).
Ia menambahkan, alat anti-jammer merupakan alat yang mahal. Jika dibeli dari luar negeri harganya mencapai miliaran rupiah. Namun, dengan adanya pengembangan ini, alat tersebut dapat diciptakan dengan harga kurang dari Rp 100 juta per unitnya.
Selain menciptakan anti-jammer, kedua orang tersebut juga menciptakan sejumlah alat lain seperti alat pengendali senjata jarak jauh, alat pemicu ledakan sistem ganda dan pemicu ledakan sistem remot.
“Mereka dibimbing oleh Danpusdik-nya, lalu disponsori dana pengembangannya apa saja yang mereka inginkan dikasih,” katanya.
Budiman menambahkan, pemberian penghargaan serupa diberikan kepada Serka Farid Hendro W anggota Pusdikzi lainnya, karena berhasil meraih juara harapan ketiga pada lomba karya cipta teknologi 2013 lalu. Serka Farid dinilai mampu menciptakan alat pengendali senjata jarak jauh (remote control weapon system).
Budiman mengatakan, beberapa waktu terakhir, TNI AD sebetulnya tengah mengembangkan sejumlah teknologi guna mencapai kemandirian teknologi. Program jangka panjang hingga 2029 itu menargetkan pengembangan terhadap nano teknologi, teknologi informasi, propelan (kimia), elektronik dan satelit. (Kompas).
Kepala Staf TNI AD Jenderal Budiman mengatakan, anti-jammer ciptaan keduanya merupakan alat canggih yang dapat membantu kinerja TNI untuk melacak nomor telepon tertentu yang menjadi target operasi. Adapun sistem pengoperasiannya, yakni dengan cara mengacaukan sinyal nomor lain yang tidak menjadi target sasaran.
“Kalau jammer bisa mengacaukan nomor, nah ini kita bisa mencari nomor-nomor tertentu,” kata Budiman disela-sela pemberian penghargaan kepada 48 prajurit berprestasi di Lapangan Mabes AD Jakarta, Selasa (6/5/2014).
Ia menambahkan, alat anti-jammer merupakan alat yang mahal. Jika dibeli dari luar negeri harganya mencapai miliaran rupiah. Namun, dengan adanya pengembangan ini, alat tersebut dapat diciptakan dengan harga kurang dari Rp 100 juta per unitnya.
Selain menciptakan anti-jammer, kedua orang tersebut juga menciptakan sejumlah alat lain seperti alat pengendali senjata jarak jauh, alat pemicu ledakan sistem ganda dan pemicu ledakan sistem remot.
“Mereka dibimbing oleh Danpusdik-nya, lalu disponsori dana pengembangannya apa saja yang mereka inginkan dikasih,” katanya.
Budiman menambahkan, pemberian penghargaan serupa diberikan kepada Serka Farid Hendro W anggota Pusdikzi lainnya, karena berhasil meraih juara harapan ketiga pada lomba karya cipta teknologi 2013 lalu. Serka Farid dinilai mampu menciptakan alat pengendali senjata jarak jauh (remote control weapon system).
Budiman mengatakan, beberapa waktu terakhir, TNI AD sebetulnya tengah mengembangkan sejumlah teknologi guna mencapai kemandirian teknologi. Program jangka panjang hingga 2029 itu menargetkan pengembangan terhadap nano teknologi, teknologi informasi, propelan (kimia), elektronik dan satelit. (Kompas).
06 Mei, 2014
Mengejar Penguasaan Teknologi Roket
Diunggah Oleh:
filereid12345678
pada Selasa, Mei 06, 2014
Indonesia dalam upaya mengejar penguasaan teknologi roket :
1. Tahun 1964 program penguasaan teknologi roket pengorbit satelit (RPS) melalui reverse engineering roket Lambda (Jepang) dengan Prof. Hideo itokawa. Diawali dengan roket Ionosfer Kappa-8 (Sub-orbital 200 km). Upaya tersebut terhenti karena gejolak politik 1965.
2. Tahun 1976, program kemandirian dalam sistem antariksa termasuk RPS kerjasama dengan Werher Von Braun (Fairchild) AS. Terhenti karena keterbatasan dana.
3. Tahun 1977, program reverse engineering reaktivasi roket Kappa-8 belajar tentang upaya statik dan operasi peluncuran roket Kappa-8 dengan misi pengukuran karateristik atmosfir atas dan lingkungan antariksa (x-ray, gamma ray). Ini bekal untuk membangun roket2 RX. Namun tahun 1978 terhenti karena dana.
4. Tahun 1977 program roket sonda kerjasama dengan Aerojet Liquid Rocket Company, AS. Program ini terhenti juga karena masalah dana.
5. Tahun 1988, program Wahana Peluncur Satelit Orbit Rendah (WPSOR), tersendat karena dana. dan masih banyak program2 lainnya yg gagal karena dana dan politik lainnya.
Peneliti kita di lapan ada tidak sampai 300 orang, untuk perekayasa di bawah 30 orang, teknisi litkayasa di bawah 200 orang, perancang UU itu dibawah 5 orang.
ini foto anggaran Lapan tahun 2012 (kolom ke tiga APBN, APBN Perubahan dan Perubahan). Di tahun 2013 dan 2014 anggaran malah turun.
(by Jalo | JKGR )
30 April, 2014
Radio VHF Produk PT CMI Diminati Negara ASEAN
Diunggah Oleh:
filereid12345678
pada Rabu, April 30, 2014
Kepala Staf Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI-AD) Jenderal Budiman mengatakan, telah banyak negara yang memesan teknologi alat utama sistem persenjataan (alutsista) buatan dalam negeri yang tengah dikembangkan.
Salah satu teknologi yang dilirik negara lain adalah radio VHF produk PT CMI. Alat komunikasi ini merupakan hasil kerja sama pengembangan antara Direktorat Perhubungan TNI Angkatan Darat (Dithubad) dengan Universitas Surya.
"Radio VHF ini sudah banyak yang berminat. Yakni negara-negara di kawasan ASEAN, mereka ingin membeli produk kita," ujar Budiman ketika peluncuran Kapal Motor Cepat (KMC) Komando di perairan ABC Ancol, Jakarta, Selasa 29 April 2014.
Budiman menjelaskan, sekarang ini pihaknya telah memproduksi sebanyak 3.000 unit radio VHF. Radio ini digunakan untuk operasi satuan-satuan TNI-AD di sejumlah wilayah.
"Harganya setengah dari harga radio setipe kalau dibeli di luar. Radio yang kita kembangkan ini kualitasnya jauh lebih bagus dari radio buatan luar negeri," terangnya.
Namun, lanjut Budiman, teknologi yang tengah dikembangkan TNI AD ini belum bisa diperdagangkan, sebab masih dalam tahap pengembangan. Ke depan, produk itu akan dipasarkan.
"Sementara, ada kebijakan produk pertama ini belum boleh dijual. Kemampuan radio ini perlu ditingkatkan. Nanti saja kalau sudah selesai proses pengembangannya," kata Budiman.
Budiman menambahkan, sebetulnya produk kedirgantaraan yang diproduksi dalam negeri tidak kalah saing dengan produk pabrikan luar negeri. Selain radio, ada panser Anoa. Kendaraan tempur ini juga diminati oleh negara lain, khususnya kawasan ASEAN.
"Panser Anoa sudah dibeli oleh Malaysia dan ada peralatan lain juga," jelasnya.
TNI-AD telah menggandeng Universitas Surya untuk mengembangkan 15 teknologi untuk mendukung operasi personel di lapangan. Teknologi tersebut diciptakan untuk memperkuat sistem alutsista Indonesia, sekaligus meminimalisasi pengeluaran negara untuk membeli produk luar negeri. Di antaranya adalah:
1. Superdrone, yakni pesawat tanpa awak untuk pemantauan suatu daerah. Di beberapa negara digunakan sebagai pesawat pembom.
2. Alat konvensi BBM ke BBG, dengan ini sepeda motor TNI AD akan menggunakan bahan bakar hibrid; bensin dan gas. Subsidi gas lebih murah dibandingkan subsidi bensin. Motor menggunakan gas 3 kg bisa menempuh jarak 240-300 km. Jika alat ini dijual ke publik, akan sangat membantu tukang ojek dan pengendara motor lain.
3. Bioetanol dari sorgum, dilengkapi dengan genset yang sudah dimodifikasi sehingga cocok dengan bioetanol ini. Harganya lebih murah dan memungkinkan masyarakat bisa membuat sendiri bahan bakar untuk rumahan.
4. Laser gun, senjata untuk latihan menembak. Hanya saja pelurunya diganti dengan berkas sinar laser. Komputer membuat tembakannya seperti tembakan peluru. Hal ini untuk menghemat penggunaan peluru.
5. Open BTS. Dengan BTS ini, TNI AD bisa membuat jaringan seluler sendiri. Alat ini cocok untuk daerah-daerah pedalaman.
6. VOIP Based MESH network, sistem jaringan yang tidak tergantung pada salah satu point (self healing).
7. APRS and MESH Network, sistem untuk mengatur alutsista dan tentara ketika berada di lapangan. Dilengkapi dengan sistem tracking GPS.
8. Nanosatelit, satelit yang beratnya hanya 1 kg. Untuk tahap ini baru bisa dipakai untuk komunikasi saja.
9. Integrated Optronic Defense System, sistem pertahanan dengan memanfaatkan sistem optik dan elektronika.
10. Simulasi komputer 1, software yang dikembangkan untuk menganalisis tank atau alat perang lainnya dan mempelajari kekurangan serta kelemahan alat ini ketika dipakai di Indonesia.
11. Simulasi komputer 2, software untuk menganalisis berbagai senapan.
12. Gyrocopter, prototipe motor terbang, diharapkan dapat membantu transportasi antar pulau-pulau kecil di Indonesia.
13. IPv6, tiap komputer punya alamat yang disebut IP.
14. Multirotor, dipakai untuk pengintaian dan pemantauan daerah.
15. Frapping bird, Dipakai untuk pengintaian dan pemantauan daerah.
Sumber : VivaNews
![]() |
KASAD Jenderal TNI Budiman |
"Radio VHF ini sudah banyak yang berminat. Yakni negara-negara di kawasan ASEAN, mereka ingin membeli produk kita," ujar Budiman ketika peluncuran Kapal Motor Cepat (KMC) Komando di perairan ABC Ancol, Jakarta, Selasa 29 April 2014.
Budiman menjelaskan, sekarang ini pihaknya telah memproduksi sebanyak 3.000 unit radio VHF. Radio ini digunakan untuk operasi satuan-satuan TNI-AD di sejumlah wilayah.
"Harganya setengah dari harga radio setipe kalau dibeli di luar. Radio yang kita kembangkan ini kualitasnya jauh lebih bagus dari radio buatan luar negeri," terangnya.
Namun, lanjut Budiman, teknologi yang tengah dikembangkan TNI AD ini belum bisa diperdagangkan, sebab masih dalam tahap pengembangan. Ke depan, produk itu akan dipasarkan.
"Sementara, ada kebijakan produk pertama ini belum boleh dijual. Kemampuan radio ini perlu ditingkatkan. Nanti saja kalau sudah selesai proses pengembangannya," kata Budiman.
Budiman menambahkan, sebetulnya produk kedirgantaraan yang diproduksi dalam negeri tidak kalah saing dengan produk pabrikan luar negeri. Selain radio, ada panser Anoa. Kendaraan tempur ini juga diminati oleh negara lain, khususnya kawasan ASEAN.
"Panser Anoa sudah dibeli oleh Malaysia dan ada peralatan lain juga," jelasnya.
TNI-AD telah menggandeng Universitas Surya untuk mengembangkan 15 teknologi untuk mendukung operasi personel di lapangan. Teknologi tersebut diciptakan untuk memperkuat sistem alutsista Indonesia, sekaligus meminimalisasi pengeluaran negara untuk membeli produk luar negeri. Di antaranya adalah:
1. Superdrone, yakni pesawat tanpa awak untuk pemantauan suatu daerah. Di beberapa negara digunakan sebagai pesawat pembom.
2. Alat konvensi BBM ke BBG, dengan ini sepeda motor TNI AD akan menggunakan bahan bakar hibrid; bensin dan gas. Subsidi gas lebih murah dibandingkan subsidi bensin. Motor menggunakan gas 3 kg bisa menempuh jarak 240-300 km. Jika alat ini dijual ke publik, akan sangat membantu tukang ojek dan pengendara motor lain.
3. Bioetanol dari sorgum, dilengkapi dengan genset yang sudah dimodifikasi sehingga cocok dengan bioetanol ini. Harganya lebih murah dan memungkinkan masyarakat bisa membuat sendiri bahan bakar untuk rumahan.
4. Laser gun, senjata untuk latihan menembak. Hanya saja pelurunya diganti dengan berkas sinar laser. Komputer membuat tembakannya seperti tembakan peluru. Hal ini untuk menghemat penggunaan peluru.
5. Open BTS. Dengan BTS ini, TNI AD bisa membuat jaringan seluler sendiri. Alat ini cocok untuk daerah-daerah pedalaman.
6. VOIP Based MESH network, sistem jaringan yang tidak tergantung pada salah satu point (self healing).
7. APRS and MESH Network, sistem untuk mengatur alutsista dan tentara ketika berada di lapangan. Dilengkapi dengan sistem tracking GPS.
8. Nanosatelit, satelit yang beratnya hanya 1 kg. Untuk tahap ini baru bisa dipakai untuk komunikasi saja.
9. Integrated Optronic Defense System, sistem pertahanan dengan memanfaatkan sistem optik dan elektronika.
10. Simulasi komputer 1, software yang dikembangkan untuk menganalisis tank atau alat perang lainnya dan mempelajari kekurangan serta kelemahan alat ini ketika dipakai di Indonesia.
11. Simulasi komputer 2, software untuk menganalisis berbagai senapan.
12. Gyrocopter, prototipe motor terbang, diharapkan dapat membantu transportasi antar pulau-pulau kecil di Indonesia.
13. IPv6, tiap komputer punya alamat yang disebut IP.
14. Multirotor, dipakai untuk pengintaian dan pemantauan daerah.
15. Frapping bird, Dipakai untuk pengintaian dan pemantauan daerah.
Sumber : VivaNews
TNI AD Luncurkan Kapal Motor Cepat (KMC) Komando Karya Anak Bangsa
Diunggah Oleh:
filereid12345678
pada Rabu, April 30, 2014
Ini kabar baik bagi industri pertahanan nasional. Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Darat (AD) baru saja meluncurkan Kapal Motor Cepat (KMC). Kapal yang diberi nama "Komando" itu asli buatan dalam negeri.
Peluncuran yang digelar di Pantai ABC Ancol, Jakarta, Selasa 29 April 2014, ditandai dengan demonstrasi, manuver dan uji tembak KMC 'Komando'. Disaksikan langsung Kepala Staf AD (KSAD) Jenderal Boediman.
Kapal ini merupakan hasil karya anak negeri. Dari tangan ahli yang terdiri dari para perwira Direktorat Pembekalan dan Angkutan (Ditbekang) TNI-AD dengan melibatkan tenaga ahli dari Institut Teknologi Surabaya (ITS) dan tenaga pelaksana pembangunan PT Tesco Indomaritim.
"Kami sudah beli 10 unit. Per unit seharga Rp 12 miliar sudah termasuk biaya riset dan pembangunannya," kata Jenderal Budiman.
Dari sepuluh unit KMC Komando itu, bulan ini baru dua unit yang telah selesai diproduksi. Selebihnya, akan selesai pada akhir bulan depan. Kata Budiman, harga produksi kapal motor ini jauh lebih murah ketimbang membeli kapal sejenis dari luar negeri.
Kapal ini akan didistribusikan ke sembilan Komando Daerah Militer, yakni Kodam Iskandar Muda, Kodam Bukit Barisan, Kodam Sriwijaya, Kodam Mulawarman, Kodam Wirabuana, Kodam Udayana, Kodam Tanjungpura, Kodam Patimura, dan Kodam Cendrawasih.
Daerah operasi kapal ini meliputi rawa, laut, sungai, dan pantai. Kapal ini juga bisa digunakan untuk pendaratan pasukan di pantai dan mampu berlayar terus menerus sejauh 250 NM (mil laut).
KMC berkapasitas 31 penumpang dan tiga ABK. Kecepatan maksimum kapal ini mencapai 35 knot. Tapi, untuk pengembangan berikutnya, kecepatan akan ditambah.
"Tahun 2015 nanti, kecepatannya akan ditambah menjadi 45 knot. Harus lebih cepat dari sekarang, karena pertempuran ke depan memerlukan kecepatan dan akurasi. KMC Komando terus akan kami kembangkan," kata Jenderal Budiman.
Untuk persenjataan, kapal ini dilengkapi dengan sistem senjata mesin berat (SMB) dengan jenis peluru 17,5 milimeter yang mampu menembak hingga 6 kilometer dengan jarak efektif tembakan 2 kilometer. "Dengan begitu, posisi penembak lebih aman," kata dia.
Bukan cuma itu, kapal ini juga memiliki dengan sistem tracking and locking target. Sistem tersebut mengatur penggunaan senjata secara otomatis yang dikendalikan oleh seorang penembak dari dalam ruang kemudi.
Minim Alat
Wilayah Indonesia begitu luas. Sarana penunjang sudah menjadi keharusan. Itulah yang diinginkan KSAD Jenderal Budiman.
"Jujur, kadang-kadang kami sedih melihat prajurit yang bertugas di wilayah pesisir dan terpencil. Mereka mengalami keterbatasan transportasi," kata Budiman.
Meski terkadang mendapatkan pinjaman kapal pengangkut pasukan dari satuan di atasnya, seperti Komando Militer wilayah setempat, namun kendala teknis sering tak teratasi.
Tak jarang, kapal yang dipinjamkan itu justru tidak dapat digunakan karena medan perairan yang dilalui terlalu dangkal. Sedangkan kapal yang ada rata-rata untuk perairan dalam.
Dia khawatir, ketidakmampuan TNI dalam menunjang sarana operasi anggotanya, dimanfaatkan pihak lain yang justru akan merugikan kedaulatan bangsa. "Kami memikirkan tentara yang berada di wilayah kecil (Kepulauan) ini, jangan sampai dibiayai oleh pihak lain (asing)," kata dia.
Oleh karena itulah, kata Budiman, pihaknya melakukan kerjasama dengan Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya dan PT Tesco Indomaritim, untuk mengembangkan teknologi KMC Komando. Kapal yang dapat digunakan di permukaan air dengan kedalaman hanya satu meter. (VIvaNews)
![]() |
| Kapal Motor Cepat (KMC) Komando melakukan manuver saat peluncurannya di Ancol, Jakarta Utara, Selasa (29/4/2014). (VIVAnews/Muhamad Solihin) |
Peluncuran yang digelar di Pantai ABC Ancol, Jakarta, Selasa 29 April 2014, ditandai dengan demonstrasi, manuver dan uji tembak KMC 'Komando'. Disaksikan langsung Kepala Staf AD (KSAD) Jenderal Boediman.
Kapal ini merupakan hasil karya anak negeri. Dari tangan ahli yang terdiri dari para perwira Direktorat Pembekalan dan Angkutan (Ditbekang) TNI-AD dengan melibatkan tenaga ahli dari Institut Teknologi Surabaya (ITS) dan tenaga pelaksana pembangunan PT Tesco Indomaritim.
"Kami sudah beli 10 unit. Per unit seharga Rp 12 miliar sudah termasuk biaya riset dan pembangunannya," kata Jenderal Budiman.
![]() |
| Prajurit TNI beraksi dengan Kapal Motor Cepat (KMC) Komando saat peluncurannya di Pantai ABC Ancol, Jakarta Utara, Selasa (29/4/2014). (VIVAnews/Muhamad Solihin) |
Dari sepuluh unit KMC Komando itu, bulan ini baru dua unit yang telah selesai diproduksi. Selebihnya, akan selesai pada akhir bulan depan. Kata Budiman, harga produksi kapal motor ini jauh lebih murah ketimbang membeli kapal sejenis dari luar negeri.
Kapal ini akan didistribusikan ke sembilan Komando Daerah Militer, yakni Kodam Iskandar Muda, Kodam Bukit Barisan, Kodam Sriwijaya, Kodam Mulawarman, Kodam Wirabuana, Kodam Udayana, Kodam Tanjungpura, Kodam Patimura, dan Kodam Cendrawasih.
![]() |
| Kapal Motor Cepat KMC Komando TNI AD (photo: Media Indonesia) |
Daerah operasi kapal ini meliputi rawa, laut, sungai, dan pantai. Kapal ini juga bisa digunakan untuk pendaratan pasukan di pantai dan mampu berlayar terus menerus sejauh 250 NM (mil laut).
KMC berkapasitas 31 penumpang dan tiga ABK. Kecepatan maksimum kapal ini mencapai 35 knot. Tapi, untuk pengembangan berikutnya, kecepatan akan ditambah.
"Tahun 2015 nanti, kecepatannya akan ditambah menjadi 45 knot. Harus lebih cepat dari sekarang, karena pertempuran ke depan memerlukan kecepatan dan akurasi. KMC Komando terus akan kami kembangkan," kata Jenderal Budiman.
Untuk persenjataan, kapal ini dilengkapi dengan sistem senjata mesin berat (SMB) dengan jenis peluru 17,5 milimeter yang mampu menembak hingga 6 kilometer dengan jarak efektif tembakan 2 kilometer. "Dengan begitu, posisi penembak lebih aman," kata dia.
Bukan cuma itu, kapal ini juga memiliki dengan sistem tracking and locking target. Sistem tersebut mengatur penggunaan senjata secara otomatis yang dikendalikan oleh seorang penembak dari dalam ruang kemudi.
![]() |
| Kapal Motor Cepat KMC Komando TNI AD (photo: Media Indonesia) |
Minim Alat
Wilayah Indonesia begitu luas. Sarana penunjang sudah menjadi keharusan. Itulah yang diinginkan KSAD Jenderal Budiman.
"Jujur, kadang-kadang kami sedih melihat prajurit yang bertugas di wilayah pesisir dan terpencil. Mereka mengalami keterbatasan transportasi," kata Budiman.
Meski terkadang mendapatkan pinjaman kapal pengangkut pasukan dari satuan di atasnya, seperti Komando Militer wilayah setempat, namun kendala teknis sering tak teratasi.
Tak jarang, kapal yang dipinjamkan itu justru tidak dapat digunakan karena medan perairan yang dilalui terlalu dangkal. Sedangkan kapal yang ada rata-rata untuk perairan dalam.
Dia khawatir, ketidakmampuan TNI dalam menunjang sarana operasi anggotanya, dimanfaatkan pihak lain yang justru akan merugikan kedaulatan bangsa. "Kami memikirkan tentara yang berada di wilayah kecil (Kepulauan) ini, jangan sampai dibiayai oleh pihak lain (asing)," kata dia.
Oleh karena itulah, kata Budiman, pihaknya melakukan kerjasama dengan Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya dan PT Tesco Indomaritim, untuk mengembangkan teknologi KMC Komando. Kapal yang dapat digunakan di permukaan air dengan kedalaman hanya satu meter. (VIvaNews)
23 April, 2014
Rencana Pembuatan Stasiun Luar Angkasa Indonesia
Diunggah Oleh:
filereid12345678
pada Rabu, April 23, 2014
Lapan sebagai induk dari pusat teknologi luar angkasa telah lama bermimpi memberikan hadiah besar kepada bangsa Indonesia dengan berbagai hasil riset dan penemuannya. Berbagai hal telah diraih untuk dipersembahkan kepada bangsa dan negara. Beberapa hal telah dapat kita lihat dan diuji coba, seperti contoh: Lapan Surveillance UAV 02 (LSU 02), Satelit Lapan A1 (Lapan Tubsat), roket rx 1220, rx 350, rx 550 dan berbagai satelit lainnya yang mampu memberikan sumbangsih besar dalam dunia teknologi bangsa Indonesia.
Setelah berbagai riset dan penelitian dilakukan, tidak salah kiranya jika bangsa Indonesia ingin selangkah lebih maju bermimpi memiliki “stasiun luar angkasa republik Indonesia”
Sesuai dengan undang undang nomor 21 tahun 2013 tentang keantariksaan.
Hal ini mendapat persetujuan dari TNI dan KeMenham, karena nantinya dapat digunakan sebagai sarana pertahanan negara Indonesia dari LUAR angkasa. Proyek “stasiun luar angkasa Republik Indonesia” dibantu beberapa negara seperti jepang, jerman, china, sehingga “stasiun luar angkasa republik Indonesia” mirip dengan ISS.
Guna dan Tujuannya adalah:
Negara yang membantu untuk point 1 dan 3 : rusia, china, jerman. Negara yang membantu point 2 dan 4 : jepang
Target dan pemantapan:
Beberapa riset telah dilakukan UNTUK mendukung RENCANA PEMBUATAN STASIUN LUAR ANGKASA INDONESIA, baik design dan teknologi roketnya, terutama roket pendorong.

BIDANG TEKNOLOGI MOTOR ROKET
Bidang Teknologi Motor Roket mempunyai tugas melaksanakan kegiatan penelitian, pengembangan dan perekayasaan teknologi motor roket, serta penyiapan bahan pelaksanaan kerjasama teknis dibidangnya. Dalam melaksanakan tugas, Bidang Teknologi Motor Roket menyelenggarakan fungsi:
Bidang Teknologi motor roket terdiri dari sejumlah tenaga peneliti di bidang Teknik Mesin, Teknik kimia, Teknik fisika, Teknik elektro, aerodinamika, dinamika fluida, fisika, matematika terapan, termodinamika, Teknologi Material, instrumentasi, dan bidang lain yang berkaitan serta tenaga teknisi, analis dan laboran dalam jabatan fungsional yang terbagi dalam kelompok-kelompok :
Riset Propelan dan Aerodinamika
Bidang Propelan terdiri dari sejumlah tenaga peneliti di bidang struktur mekanika, mesin, kimia, fisika, aerodinamika, fisika nuklir, matematika, termodinamika, bahan, instrumentasi, dan bidang lain yang berkaitan serta tenaga teknisi, analis dan laboran dalam jabatan fungsional yang terbagi dalam kelompok-kelompok :
Kerja sama dengan negara luar
kerja sama dengan jepang: diwakil:i JAMSS (Japan Manned Space System) kita belajar :Pressurized Module (PM), 2) Exposed Facility (EF), 3). Experiment Logistics Module-Pressurized Section (ELM-PS), 4)Experiment Logistics Module-Exposed Section (ELM-ES), 5) Japanese Experiment Module Remote Manipulator System (JEMRMS), dan 6)Inter-orbit Communication System (ICS).
Sementara Lapan diwakili Pusteksat menjelaskan tentang program pengembangan satelit yang sudah dilakukan sejak peluncuruan satelit LAPAN-TUBSAT tahun 2007 hingga rencana pengembangan satelit di tahun 2025.dalam rangka mewujudkan peluncuran perdana 2030-2035.
Pusat peluncuran:
“Untuk bandara antariksa, posisi Indonesia di khatulistiwa, peluncuran roket nantinya di wilayah ekuator karena cenderung lebih murah. Daerah yang sedekat-dekatnya dengan ekuator yaitu Biak dan Morotai.
Kerja sama dengan TNI/kEMENHAM
Lapan memiliki cita-cita untuk dapat meluncurkan roket pengorbit satelit dan membantu pemenuhan kebutuhan persenjataan TNI. Dalam ini tni mengingkan suatu sistem kendalisatelit yang dapat meraba, mendengar, dan merasakan serta melacak baik dengan suara, panas bumi, dan titik panas,semua ancaman serangan militer. Sistem anti serangan rudal dan anti balistic misile untuk itu beberapa model satelit hasil riset telah diuji coba dan dapat diterapkan pada stasiun luar angkasa RI.
Uji coba berkala
Beberapa model roket Lapan yang telah di produksi oleh Pusat Teknologi Roket diantaranya adalah RX 320 yang merupakan jenis roket pengorbit satelit. Roket ini berhasil di uji statik pada 2 Juli 2013 di Instalasi Uji Statik Roket milik Lapan di Rumpin Bogor. Roket yang mempunyai daya dorong maksimum 6 Ton tersebut dirancang dengan tujuan untuk mendukung program pembuatan Roket Pengorbit Satelit (RPS) secara mandiri. Rencananya, RPS terdiri dari empat tingkat kombinasi dari dua jenis roket, yaitu RX-420 dan RX-320. Kegiatan uji statik roket RX 320 ini mempunyai tujuan untuk menguji validasi sistem propulsi dan menguji validasi kekuatan struktur motor roket dimana nantinya dapat dipilih jenis roket yang akan menjadi pengantar dalam mendukung RENCANA PEMBUATAN STASIUN LUAR ANGKASA INDONESIA. (by Telik Sandi | JKGR)
Setelah berbagai riset dan penelitian dilakukan, tidak salah kiranya jika bangsa Indonesia ingin selangkah lebih maju bermimpi memiliki “stasiun luar angkasa republik Indonesia”
Sesuai dengan undang undang nomor 21 tahun 2013 tentang keantariksaan.
Hal ini mendapat persetujuan dari TNI dan KeMenham, karena nantinya dapat digunakan sebagai sarana pertahanan negara Indonesia dari LUAR angkasa. Proyek “stasiun luar angkasa Republik Indonesia” dibantu beberapa negara seperti jepang, jerman, china, sehingga “stasiun luar angkasa republik Indonesia” mirip dengan ISS.
Guna dan Tujuannya adalah:
- Sebagai pusat penginderaan jarak jauh;
- Pusat pengujian cuaca dan deteksi dini bencana alam;
- Pusat operasi riset militer: kendali uav,rudal pinter, rudal balistik, sistem anti serangan udara;
- Pusat kendali sistem radar, sains antariksa dan citra bumi dan atmosphers.
Negara yang membantu untuk point 1 dan 3 : rusia, china, jerman. Negara yang membantu point 2 dan 4 : jepang
Target dan pemantapan:
- Riset dan uji coba awal baik roket dan modul pendukung;
- Pelatihan calon astronot Indonesia;
- Seleksi titik penempatan stasiun ruang angkasa;
- Merumuskan dan memantapkan rencana;
- Pembuatan space shuttle stasiun ruang angkasa bekerja sama dengan iss/eropa;
- Peluncuran perdana ditargetkan 2030-2035 oleh putra putri bangsa Indonesia.
Beberapa riset telah dilakukan UNTUK mendukung RENCANA PEMBUATAN STASIUN LUAR ANGKASA INDONESIA, baik design dan teknologi roketnya, terutama roket pendorong.

BIDANG TEKNOLOGI MOTOR ROKET
Bidang Teknologi Motor Roket mempunyai tugas melaksanakan kegiatan penelitian, pengembangan dan perekayasaan teknologi motor roket, serta penyiapan bahan pelaksanaan kerjasama teknis dibidangnya. Dalam melaksanakan tugas, Bidang Teknologi Motor Roket menyelenggarakan fungsi:
- Penyusunan rencana kegiatan Bidang Teknologi Motor Roket;
- Pelaksanaan kegiatan Penelitian dan Pengembangan Teknologi Motor Roket Padat, Roket Cair dan Propulsi Maju;
- Pelaksanaan kegiatan Perancangan, Asembling dan Pengujian motor roket padat, Roket Cair dan Propulsi Maju;
- Pelaksanaan kegiatan Simulasi dan anlisis dinamika fluida Sistem propulsi Roket padat, Roket Cair dan Propulsi Maju;
- Pelaksanaan kegiatan pengkajian sistem kontrol pada enjin roket cair dan serta propulsi maju serta pengujiannya;
- Pelaksanaan kegiatan penelitian, pengembangan dan analisis untuk peningkatan performa motor roket padat, roket cair dan Propulsi Maju;
- Pelaksanaan kegiatan pelayan pengujian dan informasi data performa system propulsi roket padat, Roket cair dan Propulsi Maju;
- Evaluasi dan penyusunan laporan hasil pelaksanaan program
Bidang Teknologi motor roket terdiri dari sejumlah tenaga peneliti di bidang Teknik Mesin, Teknik kimia, Teknik fisika, Teknik elektro, aerodinamika, dinamika fluida, fisika, matematika terapan, termodinamika, Teknologi Material, instrumentasi, dan bidang lain yang berkaitan serta tenaga teknisi, analis dan laboran dalam jabatan fungsional yang terbagi dalam kelompok-kelompok :
- Kelompok Penelitian Motor Roket Padat;
- Kelompok Penelitian Enjin Roket Cair;
- Kelompok Penelitian Propulsi Maju;
- Kelompok Penelitian Kontrol roket Cair dan propulsi maju;
- Kelompok Penelitian Komputasi dan Dinamika Fluida;
- Kelompok Penelitian Data Akusisi Uji Motor Roket.
Riset Propelan dan Aerodinamika
Bidang Propelan terdiri dari sejumlah tenaga peneliti di bidang struktur mekanika, mesin, kimia, fisika, aerodinamika, fisika nuklir, matematika, termodinamika, bahan, instrumentasi, dan bidang lain yang berkaitan serta tenaga teknisi, analis dan laboran dalam jabatan fungsional yang terbagi dalam kelompok-kelompok :
- Kelompok Penelitian Komposisi Dasar Propelan Padat;
- Kelompok Penelitian Proses Pembuatan Propelan;
- Kelompok Penelitian dan Pengembangan Teknologi Proses Pembuatan Propelan;
- Kelompok Penelitian dan Pengembangan Liner-Inhibitor;
- Kelompok Penelitian dan Pengembangan Bahan Pyroteknik;
- Kelompok Penelitian Uji Mutu Propelan Padat;
- Kelompok Penelitian Pembuatan Bahan Baku Propelan.
Kerja sama dengan negara luar
kerja sama dengan jepang: diwakil:i JAMSS (Japan Manned Space System) kita belajar :Pressurized Module (PM), 2) Exposed Facility (EF), 3). Experiment Logistics Module-Pressurized Section (ELM-PS), 4)Experiment Logistics Module-Exposed Section (ELM-ES), 5) Japanese Experiment Module Remote Manipulator System (JEMRMS), dan 6)Inter-orbit Communication System (ICS).
Sementara Lapan diwakili Pusteksat menjelaskan tentang program pengembangan satelit yang sudah dilakukan sejak peluncuruan satelit LAPAN-TUBSAT tahun 2007 hingga rencana pengembangan satelit di tahun 2025.dalam rangka mewujudkan peluncuran perdana 2030-2035.
Pusat peluncuran:
“Untuk bandara antariksa, posisi Indonesia di khatulistiwa, peluncuran roket nantinya di wilayah ekuator karena cenderung lebih murah. Daerah yang sedekat-dekatnya dengan ekuator yaitu Biak dan Morotai.
Kerja sama dengan TNI/kEMENHAM
Lapan memiliki cita-cita untuk dapat meluncurkan roket pengorbit satelit dan membantu pemenuhan kebutuhan persenjataan TNI. Dalam ini tni mengingkan suatu sistem kendalisatelit yang dapat meraba, mendengar, dan merasakan serta melacak baik dengan suara, panas bumi, dan titik panas,semua ancaman serangan militer. Sistem anti serangan rudal dan anti balistic misile untuk itu beberapa model satelit hasil riset telah diuji coba dan dapat diterapkan pada stasiun luar angkasa RI.
Uji coba berkala
Beberapa model roket Lapan yang telah di produksi oleh Pusat Teknologi Roket diantaranya adalah RX 320 yang merupakan jenis roket pengorbit satelit. Roket ini berhasil di uji statik pada 2 Juli 2013 di Instalasi Uji Statik Roket milik Lapan di Rumpin Bogor. Roket yang mempunyai daya dorong maksimum 6 Ton tersebut dirancang dengan tujuan untuk mendukung program pembuatan Roket Pengorbit Satelit (RPS) secara mandiri. Rencananya, RPS terdiri dari empat tingkat kombinasi dari dua jenis roket, yaitu RX-420 dan RX-320. Kegiatan uji statik roket RX 320 ini mempunyai tujuan untuk menguji validasi sistem propulsi dan menguji validasi kekuatan struktur motor roket dimana nantinya dapat dipilih jenis roket yang akan menjadi pengantar dalam mendukung RENCANA PEMBUATAN STASIUN LUAR ANGKASA INDONESIA. (by Telik Sandi | JKGR)
22 April, 2014
LFX, Pengembangan Pesawat Tempur Indonesia yang Tertunda
Diunggah Oleh:
filereid12345678
pada Selasa, April 22, 2014
belum terlibat (dalam program KFX/IFX) waktu itu karena Pustekbang Lapan itu baru terbentuk 2011. Kemudian kita mengajukan riset itu melalui PKPP Program peningkatan pendidikan perekayasa lalu kita melakukan riset semacam konfigurasi awal untuk pesawat tempur," ucap Sulistyo saat dihubungi Liputan6.com, Jakarta Senin 21 April 2014.
LFX sendiri memiliki konsep sebagai pesawat latih-lanjut generasi ke 5, dan dengan kemampuan multi-misi dan dirancang agar bisa sesuai dengan kondisi geografis Indonesia. Sulistyo menambahkan, meski dengan anggaran yang sedikit, ia bersama beberapa teman sesama penelitinya sudah berhasil membuat konsep LFX kecepatan supersonik.
"PKPP itu cuma Rp 250 juta, itu untuk penelitian 5 peneliti untuk satu tahun. Rp 250 juta itu untuk honor penelitinya, pembuatan modelnya, dan sebagainya. Itu dikelola Kemenristek, setiap PKPP itu dijatah Rp 50 juta untuk setiap peneliti. Tapi kita sudah di tahap conceptual design, kita sudah merancang bentuk luarnya dan kita uji dengan terowongan angin dan simulasi CFD," imbuhnya.
Project LFX sudah dilakukan sejak tahun 2012, namun sayangnya program ini tidak berlanjut karena masalah anggaran. Selain itu, hampir seluruh tim Pustekbang Lapan sedang mengembangkan pesawat sipil N-219 bersama PT Dirgantara Indonesia.
"Cuma tahun 2012 saja, sebetulnya tahun 2013 ada penelitian intern untuk membuat model terbangnya, tapi ternyata dananya nggak ada. Selain itu tahun ini PKPP tahun ini sudah tidak ada lagi. Tahun ini sudah tidak ada lagi penelitiannya (LFX), karena hampir semua SDM terlibat di N-219 karena itu kan butuh banyak tenaga dan ini (LFX) juga belum prioritas," urai Sulistyo.
Untuk kelanjutan Program LFX, pria yang telah puluhan tahun berpengalaman di teknologi penerbangan ini menyerahkan sepenuhnya kepada Pemerintah. Karena ini merupakan program jangka panjang yang membutuhkan anggaran dan penelitian yang lama.
"Tergantung pimpinan nasional kita, bagaimana? Apakah mau meneruskan IFX kalau KFX-nya nggak jadi. Tapi waktu kita mendisain itu ada narasumber dari dokter ITB yang juga terlibat dalam program bersama Korea dan juga Pak Agung Nugroho, beliau juga terlibat dalam KFX. Jadi sebetulnya walaupun konsepnya beda, tapi hampir miriplah dengan program IFX gitu," tambahnya.
Jika diteruskan, ia berharap pemerintah membantu transfer of technology dengan negara lain agar program LFX bisa berjalan dengan cepat. Selain itu, perlu dibangun konsorsium pesawat tempur nasional.
"Pesawatnya nggak terlalu masalah, tapi instrumentasinya kalau kita mau membuat kelas generasi 5 itu sudah siluman. Kalau siluman itu Korea saja teknologinya belum dikasih sama Amerika. Jadi diberi saja tapi ilmunya tidak dikasih. Tapi kita tetap berusaha, karena kan pesawat terbang itu kan tidak hanya dalam jangka waktu 1-5 tahun. Tapi sampai jangka 15 tahun. Siapa tahu pada saat kita harus membuat, entah itu ada pengetahuan atau sudah ada negara lain yang mampu bekerjasama dengan kita," katanya.
"Kalau untuk sampai tingkat prototipe, tentu diperlukan konsorsium, karena Lapan tidak mampu sendiri. Seperti PT DI untuk industrinya, lalu BPPT karena mereka punya laboratorium, ITB dan sebagainnya. Kalau kita tugasnya sebagai perisetnya aja," jelas dia.
Sementara, dihubungi terpisah, juru bicara Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) Silmi Karim menilai program LFX ini bisa dimaksimalkan agar membantu kemandirian dalam negeri. Ia berharap tim peneliti LFX bisa membantu program KFX/IFX, agar kemandirian pesawat tempur dalam negeri bisa segera terlaksana.
"Kita harus melakukan satu sinergi, baik itu penelitian atau pengembangan riset dan teknologi. Sehingga energinya itu bisa dimaksimalkan di satu tujuan. Kalau Kemenhan punya kebijakan KFX/IFX dengan Korea, terus kemudian ada Lapan dengan LFX. Nah ini kan ada 2 Energi, yang kalau dimaksimalkan lebih bagus. Intinya kita perlu memaksimalkan potensi bangsa," ungkap Silmi. (Tanti Yulianingsih | Liputan6)
LFX sendiri memiliki konsep sebagai pesawat latih-lanjut generasi ke 5, dan dengan kemampuan multi-misi dan dirancang agar bisa sesuai dengan kondisi geografis Indonesia. Sulistyo menambahkan, meski dengan anggaran yang sedikit, ia bersama beberapa teman sesama penelitinya sudah berhasil membuat konsep LFX kecepatan supersonik.
"PKPP itu cuma Rp 250 juta, itu untuk penelitian 5 peneliti untuk satu tahun. Rp 250 juta itu untuk honor penelitinya, pembuatan modelnya, dan sebagainya. Itu dikelola Kemenristek, setiap PKPP itu dijatah Rp 50 juta untuk setiap peneliti. Tapi kita sudah di tahap conceptual design, kita sudah merancang bentuk luarnya dan kita uji dengan terowongan angin dan simulasi CFD," imbuhnya.
Project LFX sudah dilakukan sejak tahun 2012, namun sayangnya program ini tidak berlanjut karena masalah anggaran. Selain itu, hampir seluruh tim Pustekbang Lapan sedang mengembangkan pesawat sipil N-219 bersama PT Dirgantara Indonesia.
"Cuma tahun 2012 saja, sebetulnya tahun 2013 ada penelitian intern untuk membuat model terbangnya, tapi ternyata dananya nggak ada. Selain itu tahun ini PKPP tahun ini sudah tidak ada lagi. Tahun ini sudah tidak ada lagi penelitiannya (LFX), karena hampir semua SDM terlibat di N-219 karena itu kan butuh banyak tenaga dan ini (LFX) juga belum prioritas," urai Sulistyo.
Untuk kelanjutan Program LFX, pria yang telah puluhan tahun berpengalaman di teknologi penerbangan ini menyerahkan sepenuhnya kepada Pemerintah. Karena ini merupakan program jangka panjang yang membutuhkan anggaran dan penelitian yang lama.
"Tergantung pimpinan nasional kita, bagaimana? Apakah mau meneruskan IFX kalau KFX-nya nggak jadi. Tapi waktu kita mendisain itu ada narasumber dari dokter ITB yang juga terlibat dalam program bersama Korea dan juga Pak Agung Nugroho, beliau juga terlibat dalam KFX. Jadi sebetulnya walaupun konsepnya beda, tapi hampir miriplah dengan program IFX gitu," tambahnya.
Jika diteruskan, ia berharap pemerintah membantu transfer of technology dengan negara lain agar program LFX bisa berjalan dengan cepat. Selain itu, perlu dibangun konsorsium pesawat tempur nasional.
"Pesawatnya nggak terlalu masalah, tapi instrumentasinya kalau kita mau membuat kelas generasi 5 itu sudah siluman. Kalau siluman itu Korea saja teknologinya belum dikasih sama Amerika. Jadi diberi saja tapi ilmunya tidak dikasih. Tapi kita tetap berusaha, karena kan pesawat terbang itu kan tidak hanya dalam jangka waktu 1-5 tahun. Tapi sampai jangka 15 tahun. Siapa tahu pada saat kita harus membuat, entah itu ada pengetahuan atau sudah ada negara lain yang mampu bekerjasama dengan kita," katanya.
"Kalau untuk sampai tingkat prototipe, tentu diperlukan konsorsium, karena Lapan tidak mampu sendiri. Seperti PT DI untuk industrinya, lalu BPPT karena mereka punya laboratorium, ITB dan sebagainnya. Kalau kita tugasnya sebagai perisetnya aja," jelas dia.
Sementara, dihubungi terpisah, juru bicara Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) Silmi Karim menilai program LFX ini bisa dimaksimalkan agar membantu kemandirian dalam negeri. Ia berharap tim peneliti LFX bisa membantu program KFX/IFX, agar kemandirian pesawat tempur dalam negeri bisa segera terlaksana.
"Kita harus melakukan satu sinergi, baik itu penelitian atau pengembangan riset dan teknologi. Sehingga energinya itu bisa dimaksimalkan di satu tujuan. Kalau Kemenhan punya kebijakan KFX/IFX dengan Korea, terus kemudian ada Lapan dengan LFX. Nah ini kan ada 2 Energi, yang kalau dimaksimalkan lebih bagus. Intinya kita perlu memaksimalkan potensi bangsa," ungkap Silmi. (Tanti Yulianingsih | Liputan6)
Pesawat NC-212-400 Buatan PT.DI Jalani Uji Terbang
Diunggah Oleh:
filereid12345678
pada Selasa, April 22, 2014
Tanpa banyak publikasi, PT. Dirgantara Indonesia ternyata telah mencetak lagi sebuah prestasi. Pabrik pesawat asal kota Bandung ini ternyata menyelesaikan sebuah pesawat NC-212-400, pesanan pemerintah Thailand. Pesawat yang masih bercat dasar ini kini tengah menjalani uji terbang.
Terbang perdana pesawat jenis angkut ringan ini berlangsung pada pertengahan april lalu. Bertugas sebagai pilot uji adalah crew Airbus Military yang sebelumnya membawa C295 ferry flight dari Madrid. Mereka yaitu Pilot Capt. Alejandro Grande dan Capt.Rafaelde Diego Coppen, serta Flight Test Engineer Eduardo Mayo Avila. Pesawat Take off pada pukul 10:05 dan kemudian mendarat dengan selamat pada pukul 13:05 wib. Selama 3 jam pesawat dibawa terbang ke Pelabuhan Ratu serta area Bandung sekitarnya.
PT DI sendiri secara resmi sekarang hanya punya 1 pilot tes karyawan tetap yaitu Esther Gayatri Saleh. Pilot uji perempuan ini tidak ikut karena belum punya lisensi C212-400. Namun saat ini Esther dan FTE PT DI sedang menjalani pelatihan di Bandung oleh instruktur Airbus Military untuk mendapatkan lisensi. Untuk penerbangan selanjutnya, dan setelah pemasangan lavatory, sistem avionik baru serta optional lain desain PT DI, uji terbang akan dilakukan oleh pilot & FTE PT DI.

NC212-400 dapat dijadikan pilot project untuk program N219 karena konfigurasinya hampir sama. Perbedaan terdapat hanya pada ramp door, flaperon, horizontal fin lebih tinggi, pilot door seperti Cessna Grand Caravan & sistem avionik terbaru atau mungkin powerful engine. Produksi C-212-400 sendiri kini memang telah dialihkan ke Bandung, sementara Airbus sendiri lebih berkonsentrasi pada produksi pesawat yang lebih besar. (ARC)
![]() |
| Pesawat NC-212-400 Jalani Uji Terbang Perdana | foto : Noviarli Wahyudi |
PT DI sendiri secara resmi sekarang hanya punya 1 pilot tes karyawan tetap yaitu Esther Gayatri Saleh. Pilot uji perempuan ini tidak ikut karena belum punya lisensi C212-400. Namun saat ini Esther dan FTE PT DI sedang menjalani pelatihan di Bandung oleh instruktur Airbus Military untuk mendapatkan lisensi. Untuk penerbangan selanjutnya, dan setelah pemasangan lavatory, sistem avionik baru serta optional lain desain PT DI, uji terbang akan dilakukan oleh pilot & FTE PT DI.

NC212-400 dapat dijadikan pilot project untuk program N219 karena konfigurasinya hampir sama. Perbedaan terdapat hanya pada ramp door, flaperon, horizontal fin lebih tinggi, pilot door seperti Cessna Grand Caravan & sistem avionik terbaru atau mungkin powerful engine. Produksi C-212-400 sendiri kini memang telah dialihkan ke Bandung, sementara Airbus sendiri lebih berkonsentrasi pada produksi pesawat yang lebih besar. (ARC)
21 April, 2014
Indonesia perlu kemandirian satelit untuk pertahanan
Diunggah Oleh:
filereid12345678
pada Senin, April 21, 2014
Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional, Prof Thomas Djamaluddin, mengatakan, Indonesia memerlukan kemandirian kepemilikan satelit guna kepentingan pertahanan dan keamanan.
"Tentu, dengan memiliki kemandirian satelit ini, keamanan data lebih terjamin ketimbang hanya sebagai negara pemakai teknologi satelit negara lain," katanya, di Bogor, Jawa Barat, Senin.
Dia menegaskan, ada target pembangunan keantariksaan Indonesia dalam 25 tahun ke depan yang hendak diraih.
Sekurangnya, kata dia, ada empat target, yakni membuat dan memiliki sendiri satelit penginderaan jarak jauh, merintis satelit telekomunikasi, merintis pembangunan peluncur roket, dan suatu saat memiliki badan antariksa.
"Untuk mencapai tujuan itu semua, maka diperlukan kemauan politik, baik dari pemerintah dan DPR," katanya.
Ia juga menegaskan, UU Nomor 21/2013 tentang Keantariksaan yang mulai berlaku pada 6 Agustus 2013 pun mengamanatkan kemandirian dimaksud. Yang juga esensial, UU itu juga akan mengoptimalkan penyelenggaraan keantariksaan untuk kesejahteraan rakyat dan produktivitas bangsa.
Sementara itu, Deputi Bidang Penginderaan Jauh Lapan, Taufik Maulana, menjelaskan, India dan Korea Selatan adalah negara-negara yang mulai membangun kemandirian dalam teknologi satelit.
"Awalnya memang mereka membeli, namun kemudian belajar dan membuat satelit sendiri dengan sumber daya manusia (SDM)-nya sendiri," katanya.
Indonesia pun, kata dia, dengan SDM yang ada, cukup punya kemampuan untuk mewujudkan apa yang sudah dilakukan India dan Korea Selatan itu.
Sedangkan Kepala Pusat Pemanfaatan Penginderaan Jauh Lapan, Dedi Irawadi, menambahkan, data satelit penginderaan jauh dapat digunakan untuk deteksi dini mengatasi kebakaran hutan. Data satelit penginderaan jauh digunakan sebagai dasar untuk membangunan Fire Danger Rating System/FDRS (Sistem Pemeringkatan Bahaya Kebakaran).
Sumber : Antara
"Tentu, dengan memiliki kemandirian satelit ini, keamanan data lebih terjamin ketimbang hanya sebagai negara pemakai teknologi satelit negara lain," katanya, di Bogor, Jawa Barat, Senin.
Dia menegaskan, ada target pembangunan keantariksaan Indonesia dalam 25 tahun ke depan yang hendak diraih.
Sekurangnya, kata dia, ada empat target, yakni membuat dan memiliki sendiri satelit penginderaan jarak jauh, merintis satelit telekomunikasi, merintis pembangunan peluncur roket, dan suatu saat memiliki badan antariksa.
"Untuk mencapai tujuan itu semua, maka diperlukan kemauan politik, baik dari pemerintah dan DPR," katanya.
Ia juga menegaskan, UU Nomor 21/2013 tentang Keantariksaan yang mulai berlaku pada 6 Agustus 2013 pun mengamanatkan kemandirian dimaksud. Yang juga esensial, UU itu juga akan mengoptimalkan penyelenggaraan keantariksaan untuk kesejahteraan rakyat dan produktivitas bangsa.
Sementara itu, Deputi Bidang Penginderaan Jauh Lapan, Taufik Maulana, menjelaskan, India dan Korea Selatan adalah negara-negara yang mulai membangun kemandirian dalam teknologi satelit.
"Awalnya memang mereka membeli, namun kemudian belajar dan membuat satelit sendiri dengan sumber daya manusia (SDM)-nya sendiri," katanya.
Indonesia pun, kata dia, dengan SDM yang ada, cukup punya kemampuan untuk mewujudkan apa yang sudah dilakukan India dan Korea Selatan itu.
Sedangkan Kepala Pusat Pemanfaatan Penginderaan Jauh Lapan, Dedi Irawadi, menambahkan, data satelit penginderaan jauh dapat digunakan untuk deteksi dini mengatasi kebakaran hutan. Data satelit penginderaan jauh digunakan sebagai dasar untuk membangunan Fire Danger Rating System/FDRS (Sistem Pemeringkatan Bahaya Kebakaran).
Sumber : Antara
Mahasiswa ITS Ciptakan Peluru Frangible Bullet Pertama di ASIA
Diunggah Oleh:
filereid12345678
pada Senin, April 21, 2014
Vicko Gentantyo Anugraha, mahasiswa Jurusan Teknik Material dan Metalurgi memberanikan diri mengikutsertakan hasil risetnya dalam Lomba Karya Tulis Indonesia yang diadakan oleh Tentara Negara Indonesia Angkatan Darat (TNI AD). Bertemakan pertahanan nasional, Vicko mengenalkan peluru frangible yang belum pernah diproduksi di Asia. Tak disangka, dari 134 peserta yang berasal dari berbagai kalangan, Vicko berhasil menyabet juara pertama. Peluru frangible ini sekaligus merupakan Tugas Akhir yang tengah dikerjakan Vicko sebagai syarat kelulusan.
Bermula dari ajakan senior tiga tahun lalu untuk mengikuti Pekan Kreatifitas Mahasiswa (PKM), Vicko dikenalkan tentang peluru frangible yang memiliki berbagai keunggulan. Penasaran, Vicko mengangkat riset tersebut dalam Tugas Akhirnya. Di tengah Vicko melakukan riset, salah seorang temannya memberitahukan lomba yang diadakan TNI AD. “Kebetulan sekali saya sedang melakukan riset mengenai itu. Temanya pun mengenai sistem pertahanan nasional,” ujar Vicko.
Dalam pengerjaannya, Vicko didukung oleh berbagai pihak. Ia mengaku pengerjaan peluru frangible banyak dibantu oleh teman dalam tim riset tugas akhirnya, Paiman Joni. “Kami banyak berdiskusi dan terkadang mengerjakan bersama,” ujar Vicko. Selain itu, Vicko mendapat arahan dari dosen pembimbing risetnya, Dr Widyastuti SSi MSi yang telah terlebih dulu menekuni sistem pertahanan. Bahkan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) dan Kementerian Riset dan Teknologi (Ristek) pun membantu pendanaan riset yang rencananya akan menjadi proyek jangka panjang.
Vicko menjelaskan berbagai keunggulan peluru frangible, salah satunya adalah komposisi penyusun serbuk peluru. Jika biasanya timbal yang menjadi penyusunnya, Vicko menggantinya dengan tembaga. Pasalnya, timbal merupakan zat berbahaya jika sampai kontak langsung dengan manusia. Memang, menurut Vicko, peluru frangible lebih membahayakan daripada peluru biasa, tapi lebih aman. ”Sebab, peluru biasa akan menimbulkan back-splash ketika membentur benda keras dan membahayakan orang sekitar,” ujar Vicko.
Peluru biasa akan mempunyai 2 kemungkinan, kalau tidak back-splash, maka akan menembus tubuh. Sedangkan peluru frangible mampu hancur ketika mengenai permukaan keras atau mengenai tubuh, sehingga disinyalir akan lebih merusak ketika mengenai tubuh sasaran. ”Pelurunya akan mancep dan akan pecah dalam tubuh,” tambahnya. Karenanya, peluru frangible ini akan diaplikasikan dalam ruangan tertutup, misalnya evakuasi terorisme.
Dalam perlombaan itu sendiri, awalnya, Vicko tak mengetahui bahwa dirinya lolos menjadi 12 besar dari 134 peserta dengan kategori umum. Melalui info dari salah seorang temannya seminggu sebelum pengumpulan terakhir, ia baru mengetahuinya. Sehingga, Vicko harus membuat produk jadi sesuai persyaratan lomba dalam waktu yang sebentar.
Merasa tidak sanggup, Vicko pun menghubungi pihak TNI AD bahwa Ia tidak siap mengikuti tahap selanjutnya. “Saya sudah pasrah kala itu. Hingga H-3 saya dihubungi pihak TNI AD bahwa saya harus mengikuti tahap selanjutnya di Jakarta 3 hari lagi,” ujar Vicko. Tak ayal, dalam waktu yang singkat, Vicko hanya mampu membuat pellet peluru saja.
Tak hanya itu, ketika akan melakukan presentasi, Vicko terjebak macet parah di Jakarta. “Ketika saya datang, semua juri sudah bergegas pulang. Yang semula saya adalah kontestan pertama yang maju presentasi, akhirnya saya menjadi kontestan terakhir yang presentasi ketika itu,” kenang Vicko.
Namun, usahanya pun membuahkan hasil, Vicko menyabet juara pertama dalam ajang tersebut. Ia mengalahkan para kontestan lain yang lebih ahli. Para kontestan itu diantaranya mahasiswa S2, dosen, dan para ahli dalam bidang persenjataan. Vicko pun berharap pemerintah dapat mengapresiasi karya-karya pemuda di Indonesia yang ia yakini sangat hebat. “Sayang sekali kalau tidak diapresiasi oleh negara sendiri. Kalau negara lain mengetahui kemampuan pemuda kita, pasti ditarik ke luar negeri,” ujar Vicko.
Diminati PT PINDAD
Menjadi juara pertama dalam ajang yang berkaitan pertahanan dan keamanan nasional, hasil riset Vicko dilirik oleh PT PINDAD (persero), perusahaan persenjataan milik Indonesia. Menurut PINDAD, peluru yang sangat langka di Indonesia tersebut akan menjadi sesuatu yang baru dan unik dalam industri pertahanan dan keamanan di Indonesia. Perusahaan ini menjanjikan untuk mengadakan uji tembak dalam waktu dekat.
Usai uji tembak, PT PINDAD mencanangkan untuk produksi masal, tetapi hanya untuk case yang spesial. “Masih ada bimbingan lanjutan dari TNI AD. Jika terjalin kontrak kerjasama, akan dilakukan dengan persetujuan dari TNI AD dahulu,” ujar Vicko. (its.ac.id | JKGR )
![]() |
| Vicko Gentantyo Anugraha, mahasiswa Jurusan Teknik Material dan Metalurgi (photo: its.ac.id) |
Bermula dari ajakan senior tiga tahun lalu untuk mengikuti Pekan Kreatifitas Mahasiswa (PKM), Vicko dikenalkan tentang peluru frangible yang memiliki berbagai keunggulan. Penasaran, Vicko mengangkat riset tersebut dalam Tugas Akhirnya. Di tengah Vicko melakukan riset, salah seorang temannya memberitahukan lomba yang diadakan TNI AD. “Kebetulan sekali saya sedang melakukan riset mengenai itu. Temanya pun mengenai sistem pertahanan nasional,” ujar Vicko.
Dalam pengerjaannya, Vicko didukung oleh berbagai pihak. Ia mengaku pengerjaan peluru frangible banyak dibantu oleh teman dalam tim riset tugas akhirnya, Paiman Joni. “Kami banyak berdiskusi dan terkadang mengerjakan bersama,” ujar Vicko. Selain itu, Vicko mendapat arahan dari dosen pembimbing risetnya, Dr Widyastuti SSi MSi yang telah terlebih dulu menekuni sistem pertahanan. Bahkan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) dan Kementerian Riset dan Teknologi (Ristek) pun membantu pendanaan riset yang rencananya akan menjadi proyek jangka panjang.
![]() |
| Peluru frangible |
Vicko menjelaskan berbagai keunggulan peluru frangible, salah satunya adalah komposisi penyusun serbuk peluru. Jika biasanya timbal yang menjadi penyusunnya, Vicko menggantinya dengan tembaga. Pasalnya, timbal merupakan zat berbahaya jika sampai kontak langsung dengan manusia. Memang, menurut Vicko, peluru frangible lebih membahayakan daripada peluru biasa, tapi lebih aman. ”Sebab, peluru biasa akan menimbulkan back-splash ketika membentur benda keras dan membahayakan orang sekitar,” ujar Vicko.
Peluru biasa akan mempunyai 2 kemungkinan, kalau tidak back-splash, maka akan menembus tubuh. Sedangkan peluru frangible mampu hancur ketika mengenai permukaan keras atau mengenai tubuh, sehingga disinyalir akan lebih merusak ketika mengenai tubuh sasaran. ”Pelurunya akan mancep dan akan pecah dalam tubuh,” tambahnya. Karenanya, peluru frangible ini akan diaplikasikan dalam ruangan tertutup, misalnya evakuasi terorisme.
Dalam perlombaan itu sendiri, awalnya, Vicko tak mengetahui bahwa dirinya lolos menjadi 12 besar dari 134 peserta dengan kategori umum. Melalui info dari salah seorang temannya seminggu sebelum pengumpulan terakhir, ia baru mengetahuinya. Sehingga, Vicko harus membuat produk jadi sesuai persyaratan lomba dalam waktu yang sebentar.
Merasa tidak sanggup, Vicko pun menghubungi pihak TNI AD bahwa Ia tidak siap mengikuti tahap selanjutnya. “Saya sudah pasrah kala itu. Hingga H-3 saya dihubungi pihak TNI AD bahwa saya harus mengikuti tahap selanjutnya di Jakarta 3 hari lagi,” ujar Vicko. Tak ayal, dalam waktu yang singkat, Vicko hanya mampu membuat pellet peluru saja.
Tak hanya itu, ketika akan melakukan presentasi, Vicko terjebak macet parah di Jakarta. “Ketika saya datang, semua juri sudah bergegas pulang. Yang semula saya adalah kontestan pertama yang maju presentasi, akhirnya saya menjadi kontestan terakhir yang presentasi ketika itu,” kenang Vicko.
![]() |
| Peluru frangible yang menyentuh benda keras |
Namun, usahanya pun membuahkan hasil, Vicko menyabet juara pertama dalam ajang tersebut. Ia mengalahkan para kontestan lain yang lebih ahli. Para kontestan itu diantaranya mahasiswa S2, dosen, dan para ahli dalam bidang persenjataan. Vicko pun berharap pemerintah dapat mengapresiasi karya-karya pemuda di Indonesia yang ia yakini sangat hebat. “Sayang sekali kalau tidak diapresiasi oleh negara sendiri. Kalau negara lain mengetahui kemampuan pemuda kita, pasti ditarik ke luar negeri,” ujar Vicko.
Diminati PT PINDAD
Menjadi juara pertama dalam ajang yang berkaitan pertahanan dan keamanan nasional, hasil riset Vicko dilirik oleh PT PINDAD (persero), perusahaan persenjataan milik Indonesia. Menurut PINDAD, peluru yang sangat langka di Indonesia tersebut akan menjadi sesuatu yang baru dan unik dalam industri pertahanan dan keamanan di Indonesia. Perusahaan ini menjanjikan untuk mengadakan uji tembak dalam waktu dekat.
Usai uji tembak, PT PINDAD mencanangkan untuk produksi masal, tetapi hanya untuk case yang spesial. “Masih ada bimbingan lanjutan dari TNI AD. Jika terjalin kontrak kerjasama, akan dilakukan dengan persetujuan dari TNI AD dahulu,” ujar Vicko. (its.ac.id | JKGR )
Kapal Trimaran Baru di DSA 2014
Diunggah Oleh:
filereid12345678
pada Senin, April 21, 2014
Pameran produk pertahanan DSA 2014 di Kuala Lumpur Malaysia menghadirkan kejutan dari Perusahaan Galangan Kapal North Sea Boats (PT. Lundin). Bersama SAAB Swedia (16/04/2014), PT Lundin menampilkan desain baru Trimaran FMPV (Fast Missile Patrol Vessel) 63 m, yang dipesan Angkatan laut Indonesia.
Dalam pembicaraan dengan situs Navy Recognition, SAAB Swedia menyatakan akan menginstal radar laut modern Giraffe 1x 3D, yang memiliki jangkauan lebih baik dan mampu meredusir efek lengkung bumi.
Radar baru ini hanya memiliki berat 150 kilogram. Pemasangan radar baru Giraffe menyebabkan desain trimaran yang baru berbeda dengan desain sebelumnya.
Tiang utama trimaran (the mast) akan mengintegrasikan radar, ESM dan sistem komunikasi. Kini North Sea Boats telah menandatangani kontrak kerjasama dengan SAAB Swedia untuk proyek trimaran yang baru, pasca kasus terbakarnya trimaran pertama saat diluncurkan tahun 2012.
SAAB menawarkan diri untuk mengerjakan seluruh sistem persenjataan dan radar dari Trimaran yang baru, termasuk versi ekspor-nya dengan nama “Stealth FAC” (Stealth Fast Attack Craft).
Menurut perwakilan SAAB, Trimaran yang baru akan dilengkapi:
Rudal RBS15 Mk3 yang ditawarkan SAAB, jenis jelajah subsonik fire-and-forget yang mampu dioperasikan dalam segala kondisi cuaca dengan jangkauan 200 km. Sementara versi original dari Trimaran (KRI Klewang yang terbakar), didisain lebih condong ke sistem dan persenjataan dari Tiongkok.
Meski demikian, perwakilan PT Lundin di DSA 2014 mengatakan kepada Navy Recognition, Angkatan Laut Indonesia masih mengevaluasi senjata dan sensor apa yang cocok diinstal di Kapal Trimaran yang baru.
Konstruksi dari Trimaran FMPV 63m dimulai bulan Februari 2014 di
North Sea Boats facility Indonesia. Kapal dengan desain baru ini akan diluncurkan 24 bulan mendatang. Menurut SAAB, versi lebih lanjut (future version) dari trimaran akan memiliki kemampuan anti-kapal selam, anti-submarine warfare suite (weapons + sensors).
Navy Recognation mencoba menanyakan kepada perwakilan BAE Systems Bofors yang ikut pameran di DSA 2014 Malaysia. Menurut mereka menjual 4 sistem naval gun kepada Angkatan Laut Indonesia, sekaligus ekspor pertama dari sistem naval gun baru yang diproduksi oleh BAE.
Saat ini BAE system memproduksi 4 naval gun 40Mk4 untuk empat kapal TNI AL, namun secara keseluruhan bisa 30 unit akan diproduksi untuk Angkatan Laut Indonesia. (Naval Recognation | JKGR)
![]() |
| Desain baru Trimaran 63 m dari PT Lundin yang muncul dalam booth SAAB di DSA 2014, Kuala Lumpur (navyrecognition.com) |
Dalam pembicaraan dengan situs Navy Recognition, SAAB Swedia menyatakan akan menginstal radar laut modern Giraffe 1x 3D, yang memiliki jangkauan lebih baik dan mampu meredusir efek lengkung bumi.
![]() |
| Booth SAAB dalam Pameran Persenjataan di DSA 2014 |
Radar baru ini hanya memiliki berat 150 kilogram. Pemasangan radar baru Giraffe menyebabkan desain trimaran yang baru berbeda dengan desain sebelumnya.
Tiang utama trimaran (the mast) akan mengintegrasikan radar, ESM dan sistem komunikasi. Kini North Sea Boats telah menandatangani kontrak kerjasama dengan SAAB Swedia untuk proyek trimaran yang baru, pasca kasus terbakarnya trimaran pertama saat diluncurkan tahun 2012.
![]() |
| Radar Sea Giraffe 1X 3D yang ringan memungkinkan arsitektur kapal mendesain tiang kapal yang lebih tinggi untuk meningkatkan performa radar (navyrecognition.com) |
SAAB menawarkan diri untuk mengerjakan seluruh sistem persenjataan dan radar dari Trimaran yang baru, termasuk versi ekspor-nya dengan nama “Stealth FAC” (Stealth Fast Attack Craft).
Menurut perwakilan SAAB, Trimaran yang baru akan dilengkapi:
- 4x RBS15 Mk3 anti-ship missiles
- x BAE Systems 40Mk4 gun under a stealth cupola
- A stern ramp to deploy a 12 meters RIB
- SAAB’s 9LV combat management system
- SAAB’s Ceros 200 radar and optronic tracking system
- SAAB’s TactiCall Integrated Communications System
Rudal RBS15 Mk3 yang ditawarkan SAAB, jenis jelajah subsonik fire-and-forget yang mampu dioperasikan dalam segala kondisi cuaca dengan jangkauan 200 km. Sementara versi original dari Trimaran (KRI Klewang yang terbakar), didisain lebih condong ke sistem dan persenjataan dari Tiongkok.
Meski demikian, perwakilan PT Lundin di DSA 2014 mengatakan kepada Navy Recognition, Angkatan Laut Indonesia masih mengevaluasi senjata dan sensor apa yang cocok diinstal di Kapal Trimaran yang baru.
Konstruksi dari Trimaran FMPV 63m dimulai bulan Februari 2014 di
North Sea Boats facility Indonesia. Kapal dengan desain baru ini akan diluncurkan 24 bulan mendatang. Menurut SAAB, versi lebih lanjut (future version) dari trimaran akan memiliki kemampuan anti-kapal selam, anti-submarine warfare suite (weapons + sensors).
Navy Recognation mencoba menanyakan kepada perwakilan BAE Systems Bofors yang ikut pameran di DSA 2014 Malaysia. Menurut mereka menjual 4 sistem naval gun kepada Angkatan Laut Indonesia, sekaligus ekspor pertama dari sistem naval gun baru yang diproduksi oleh BAE.
Saat ini BAE system memproduksi 4 naval gun 40Mk4 untuk empat kapal TNI AL, namun secara keseluruhan bisa 30 unit akan diproduksi untuk Angkatan Laut Indonesia. (Naval Recognation | JKGR)
16 April, 2014
LAPAN : Negara Maju Pelit Berbagi Ilmu Teknologi Roket
Diunggah Oleh:
filereid12345678
pada Rabu, April 16, 2014
Penguasaan teknologi roket Indonesia masih sangat jauh di bawah negara maju, khususnya Eropa. Oleh sebab itu, Indonesia harus mampu mengembangkan teknologi roket secara mandiri karena negara maju cenderung pelit untuk membagi ilmu mereka.
Kepala Pusat Teknologi Penerbangan LAPAN Ari Sugeng Budiyanta mengakui teknologi roket tidak mudah untuk dikuasai. “Teknologi peroketan itu teknologi yang sangat tinggi dan sulit. Selain itu, teknologinya sangat tertutup tidak gampang dicari di luar seperti teknologi penerbangan lain. Teknologi roket kurang dibuka oleh negara maju,” kata Ari di sela-sela acara Workshop Kompetisi Muatan Roket dan Roket Indonesia (KOMURINDO) yang diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Selasa 15 April 2014.
Sehingga, menurutnya, Indonesia harus mampu bangkit sendiri dalam bidang tersebut dengan ahli-ahli dari Indonesia. “Mau tidak mau kita harus bangkit sendiri, sulit untuk mengharapkan negara lain untuk memberikan training bagi negara berkembang seperti Indonesia,” katanya lagi.
Meskipun berat, Ari mengingatkan, penguasaan teknologi sangat penting bagi negara manapun saat ini, tak terkecuali Indonesia. Teknologi roket membuat sebuah negara mampu meluncurkan satelit komunikasi sipil atau untuk kepentingan pertahanan negara.
Namun ia menilai hal itu masih sangat jauh, karena saat ini Indonesia belum mampu meluncurkan satelit secara mandiri dan harus menumpang kepada negara lain.
LAPAN memiliki cita-cita dapat meluncurkan roket pengorbit satelit dan membantu pemenuhan kebutuhan persenjataan TNI. Sehingga, LAPAN mengapresiasi gelaran KOMURINDO dan KOMBAT yang digelar oleh DIKTI di UMY.
"Saya berharap kompetisi tersebut dapat menumbuhkan kecintaan generasi muda, khususnya mahasiswa dalam dunia roket. Sehingga ke depan para calon ahli roket tersebut dapat mempercepat perwujudan cita-cita LAPAN," katanya. (VIvaNews)
![]() |
Teknologi roket sulit dikuasai dan mahal |
Sehingga, menurutnya, Indonesia harus mampu bangkit sendiri dalam bidang tersebut dengan ahli-ahli dari Indonesia. “Mau tidak mau kita harus bangkit sendiri, sulit untuk mengharapkan negara lain untuk memberikan training bagi negara berkembang seperti Indonesia,” katanya lagi.
Meskipun berat, Ari mengingatkan, penguasaan teknologi sangat penting bagi negara manapun saat ini, tak terkecuali Indonesia. Teknologi roket membuat sebuah negara mampu meluncurkan satelit komunikasi sipil atau untuk kepentingan pertahanan negara.
Namun ia menilai hal itu masih sangat jauh, karena saat ini Indonesia belum mampu meluncurkan satelit secara mandiri dan harus menumpang kepada negara lain.
LAPAN memiliki cita-cita dapat meluncurkan roket pengorbit satelit dan membantu pemenuhan kebutuhan persenjataan TNI. Sehingga, LAPAN mengapresiasi gelaran KOMURINDO dan KOMBAT yang digelar oleh DIKTI di UMY.
"Saya berharap kompetisi tersebut dapat menumbuhkan kecintaan generasi muda, khususnya mahasiswa dalam dunia roket. Sehingga ke depan para calon ahli roket tersebut dapat mempercepat perwujudan cita-cita LAPAN," katanya. (VIvaNews)
07 April, 2014
"Roadble Gyrocopter" Drone Transformer Hasil Riset TNI AD dan Universitas Surya
Diunggah Oleh:
filereid12345678
pada Senin, April 07, 2014
TNI AD menggaet Universitas Surya yang didirikan Prof Yohanes Surya membuat alat-alat pertahanan. Dari sepeda motor yang berubah jadi seperti helikopter bak film 'Transformer' hingga pesawat tanpa awak alias drone. Ini keunggulannya.
Sepeda motor yang bisa terbang yang dibuat ini dinamakan Roadble Gyrocopter. KSAD Jenderal TNI Budiman membanggakan sepeda motor terbang ini.
"Riset pertama di dunia, motor yang bisa terbang. Bisa digunakan untuk pasukan khusus sampai masyarakat," kata KSAD dalam peluncuran alat pertahanan hasil riset dengan Universitas Surya di Mabes TNI AD, Jl Veteran, Jakarta Pusat, Senin (7/4/2014).
Sepeda motor terbang ini juga mampu mendarat di landasan pendek bahkan di jalan. "Landasan hanya 50 meter, dalam keadaan darurat bisa mendarat di jalan raya atau jalan dengan medan yang masih kasar," imbuhnya sambil menjelaskan.
Sedangkan pesawat nirawak Unmanned Aerial Vehicle (UAV) Autopilot Super Drone, KSAD menjelaskan bahwa bahan pesawat itu dari fiber, yang besarnya 6x4 meter. "Jam terbangnya 6-8 jam. Diberi tangki cadangan namun bisa digunakan untuk benda lain. Bisa terbang malam dan dilengkapi kamera thermal. Menggunakan teknologi Autonomous Return To Base," tutur KSAD.
Sedangkan Kabag Rencana Kegiatan TNI AD Letkol Kavaleri Joko Prawoto mengatakan untuk saat ini pesawat nirawak ini lepas landas dan pendaratannya masih manual namun setelah itu bisa autopilot.
"Namun masih dikembangkan agar take of landing-nya juga bisa autopilot. Pengerjaan baru mulai November 2014 dengan tim (yang terdiri) 15 orang. Untuk sementara ini untuk pesawat latihan," kata Joko.
Ke depan, KSAD menambahkan teknologi pesawat nirawak ini akan dikombinasikan dengan teknologi open Base Transceiver System (BTS) yang dibuat oleh Onno W Purbo dari Universitas Surya. Penggunaannya untuk memantau perbatasan.
"Sudah pasti saya buat beberapa buah untuk pengamanan perbatasan karena selama ini hanya menggunakan manusia dan kekuatan Tuhan. Yang segera akan digunakan combine open BTS dgn UAV untuk pengamanan perbatasan," tutur KSAD. (Detik)
![]() |
| Roadable Grycopter, motor yang bisa terbang |
Sepeda motor yang bisa terbang yang dibuat ini dinamakan Roadble Gyrocopter. KSAD Jenderal TNI Budiman membanggakan sepeda motor terbang ini.
"Riset pertama di dunia, motor yang bisa terbang. Bisa digunakan untuk pasukan khusus sampai masyarakat," kata KSAD dalam peluncuran alat pertahanan hasil riset dengan Universitas Surya di Mabes TNI AD, Jl Veteran, Jakarta Pusat, Senin (7/4/2014).
Sepeda motor terbang ini juga mampu mendarat di landasan pendek bahkan di jalan. "Landasan hanya 50 meter, dalam keadaan darurat bisa mendarat di jalan raya atau jalan dengan medan yang masih kasar," imbuhnya sambil menjelaskan.
Sedangkan pesawat nirawak Unmanned Aerial Vehicle (UAV) Autopilot Super Drone, KSAD menjelaskan bahwa bahan pesawat itu dari fiber, yang besarnya 6x4 meter. "Jam terbangnya 6-8 jam. Diberi tangki cadangan namun bisa digunakan untuk benda lain. Bisa terbang malam dan dilengkapi kamera thermal. Menggunakan teknologi Autonomous Return To Base," tutur KSAD.
Sedangkan Kabag Rencana Kegiatan TNI AD Letkol Kavaleri Joko Prawoto mengatakan untuk saat ini pesawat nirawak ini lepas landas dan pendaratannya masih manual namun setelah itu bisa autopilot.
"Namun masih dikembangkan agar take of landing-nya juga bisa autopilot. Pengerjaan baru mulai November 2014 dengan tim (yang terdiri) 15 orang. Untuk sementara ini untuk pesawat latihan," kata Joko.
Ke depan, KSAD menambahkan teknologi pesawat nirawak ini akan dikombinasikan dengan teknologi open Base Transceiver System (BTS) yang dibuat oleh Onno W Purbo dari Universitas Surya. Penggunaannya untuk memantau perbatasan.
"Sudah pasti saya buat beberapa buah untuk pengamanan perbatasan karena selama ini hanya menggunakan manusia dan kekuatan Tuhan. Yang segera akan digunakan combine open BTS dgn UAV untuk pengamanan perbatasan," tutur KSAD. (Detik)
Langganan:
Postingan (Atom)












+Komando+Karya+Anak+Bangsa+1.jpg)

+Komando+Karya+Anak+Bangsa+4.jpg)
+Komando+Karya+Anak+Bangsa+3.jpg)













