Tampilkan postingan dengan label Tank. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tank. Tampilkan semua postingan

16 Juni, 2014

Tank TNI AD Akan Pergunakan Bahan Bakar Biofuel

Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal Budiman mengatakan dalam waktu dekat pihaknya akan menguji penggunaan biofuel pada pemakaian kendaraan pejabat militernya sebelum dicoba terhadap tank.

Tank TNI AD Akan Pergunakan Bahan Bakar Biofuel

"Dalam beberapa minggu lagi ktia coba pada mobil-mobil pejabat dulu," katanya setelah mengisi seminar nasional tentang cyber warfare di Institut Teknologi Bandung, Sabtu, 14 Juni 2014.

Saat berbicara dalam seminar itu, Budiman sempat menyinggung rencana penggunaan biofuel untuk mendukung program kemandirian energi. Dia mencontohkan biofuel itu sebagai salah satu dari sekian riset yang tengah digarap TNI Angkatan Darat dengan sejumlah perguruan tinggi.


"Hasil-hasil riset itu akan kita pakai sendiri," kata Budiman.

Budiman mengungkapkan biofuel yang digunakan belum murni mengganti 100 persen bahan bakar, baru menjadi campuran bahan bakar dengan porsi 50 persen.

"Saya akan pakai di mobil-mobil pejabat dulu, kalau rusak masih mampu ganti. Setelah tidak ada masalah, kami akan pakai di tank kami yang sangat boros (bahan bakar)," katanya.

Menurut Budiman, biofuel yang tengah dikembangkan bersama sejumlah perguruan tinggi itu berasal dari beragam bahan nabati. Di antaranya dari tanaman sorgum, kemiri sunan, sawit, jagung, serta ketela.

"Pengembangan dari (riset) universitas terus kita lanjutkan, dan terus kita tingkatkan dengan berbagai perencanaan," katanya.

Budiman menyinggung sejumlah riset yang tengah dilakukan TNI Angkatan Darat lainnya. Di antaranya riset pengembangan solar cell serta satelit. Dia menolak membeberkan rincian riset yang tengah dikembangkan dengan alasan masih dirahasiakan.

"Mudah-mudahan ke depan kalau nanti sudah settled, saya sudah lapor pimpinan tentang penemuan terakhir, baru berani expose," katanya.

Dia mengatakan institusinya sudah berkonsultasi dengan BPK serta KPK dalam hal penggunaan beragam hasil riset itu untuk memenuhi kebutuhan peralatan TNI Angkatan Darat.

"Ini enggak ada urusan politiknya. Bagi kami, betul-betul mau bangun negara ini," kata Budiman.

Dia mengklaim, salah satu hasil riset tersebut sukses memangkas pengeluaran institusinya. Dia mencontohkan salah satunya berhasil memangkas biaya pembuatan selembar peta ditekan hingga 1 persen biaya sebelumnya.

"Kita niatnya untuk membangun Angkatan Darat yang keren," kata Budiman. (Tempo)


09 Juni, 2014

PT Pindad siap produksi amunisi tank 2A4 Leopard

Satu lompatan dilakukan PT Pindad, setelah Direktur Utama PT Pindad, Sudirman Said, menyatakan kesanggupan perusahaan itu membuat dan membangun amunisi tank utama 2A4 Leopard. 



"Dari hasil Latihan Gabungan TNI 2014, banyak yang harus kami jawab, salah satunya melengkapi amunisi bagi beberapa perenjataan terkini TNI, termasuk peluru meriam 120mm smoothbore untuk tank Leopard," kata Said, di Bandung, Jumat.

Menurut dia, untuk peluru meriam 120mm smoothbore Leopard, ditargetkan pengembanganya sudah bisa dilakukan mulai akhir 2015.


"Sehingga kita bisa memenuhi kebutuhan kesenjataan tank itu," katanya.

Leopard memakai dua varian meriam utama, yaitu Rheinmetall 120 mm L44 atau L55 smoothbore alias tanpa ulir sepanjang 5,28 meter dan berbobot 3,37 ton.

Laras meriam tanpa ulir merupakan "jawaban" pada dasawarsa '70-an atas kejayaan seri tank T-72/80 dari Uni Soviet yang bisa membantai secara mudah tank-tank Barat.

Laras meriam tanpa ulir juga memiliki energi kinetik lebih besar ketimbang yang berulir sehingga meninggikan efek mematikan amunisi yang dilontarkan.

Selain amunisi konvensional, meriam ini bisa menerima berbagai tipe amunisi, sebutlah Armour Piercing Discarding Sabot DM23, ataupun Armour Piercing Fin Stabilized Discarding Sabot M829 dengan kepala ledak berisikan uranium.

Masih ada amunisi Multi Purpose Anti Tank Projectile yang berbasis teknologi High Explosive Anti Tank, buatan Jerman, berdesignasi NATO sebagai DM12. (Antara)


ITB Ciptakan Teknologi Kamuplase Untuk Panser Anoa dan Tank Pindad

Penyusupan kendaraan militer ke pihak musuh harus lolos dari sensor termal atau panas. Untuk itu, mahasiswa dan dosen Teknik Elektro ITB merintis teknologi penyamaran untuk tank atau pengangkut infanteri. Kelak kendaraan itu seakan menghilang dari pantauan, atau berubah wujud seperti hewan atau kendaraan sipil.


ITB Ciptakan Teknologi Kamuplase Untuk Panser Anoa dan Tank Pindad

Kamuflase termal untuk kendaraan militer itu digarap Adrian Yopi Gazali, Claudius Andri, dan Gregorius Famalt, mahasiswa Teknik Elektro ITB 2010. Bentuknya semacam sisik berupa pelat tembaga berukuran 12,5 sentimeter sama sisi, setebal 0,4 milimeter. "Ukuran itu menyesuaikan satu pixel pada kamera pengintai termal," kata Adrian kepada Tempo di acara Electrical Engineering Days di Aula Barat ITB yang berlangsung dari 3-6 Juni 2014.


Sisik-sisik kamuflase itu menjadi pelapis luar kendaraan militer. Untuk pengangkut infanteri seperti Anoa buatan PT Pindad, kata Adrian, kurang-lebih diperlukan 1.200 sisik kamuflase. Pemasangannya perlu memakai kerangka tambahan pada kendaraan jadi.

Di belakang tiap sisik itu, pelat tembaga disambungkan ke sejumlah komponen utama, seperti heatsink yang membuang panas, peltier sebagai pendingin atau pemanas, relay untuk mengubah pelat menjadi panas atau dingin, serta sensor termal untuk mendapatkan suhu di lingkungan sekitarnya.

Tiap sisik harus dipasang sepasang pada posisi berseberangan agar sanggup membaca temperatur lingkungan dengan optimal. "Jika berada di hutan atau semak, tank akan lenyap dari pantauan karena suhunya mengikuti kondisi sekitar," ujarnya.

Sisik kamuflase juga bisa diatur agar panasnya membentuk hewan atau kendaraan sipil untuk mengelabui musuh. Kamuflase itu untuk operasi malam hari yang pemantauan umumnya memakai kamera termal.

Menurut Andri, studi tugas akhir ini melanjutkan riset tahun lalu yang menjajal pelat dari bahan aluminium. Dari hasil uji coba mereka, pelat aluminium lebih lambat panas daripada tembaga sehingga lebih boros tenaga listriknya.

Namun mereka juga belum puas, karena tembaga yang sanggup panas dalam 38 detik, masih terhitung lambat dibanding komponen peltier yang bisa menghasilkan panas kurang dari lima detik. Konduktivitas termal peltier juga lebih baik, yakni berkisar -10 hingga 70 derajat celsius, adapun tembaga berkisar 15-30 derajat. "Bahan itu perlu dipelajari lagi jenis materialnya," kata dia.

Masalah terbesar teknologi mereka yaitu daya listrik untuk pemakaian sisik kamuflase. Tiap sisik tembaga misalnya, butuh listrik hingga 60 watt. Mereka belum menemukan jalan keluarnya. (Tempo)


05 Juni, 2014

Maneuvre Your Dream and Sound Of Freedom

Disaat tengah asyik bekerja sembari ditemani secangkir kopi, tiba-tiba pesan masuk lewat jaringan internet. Pesan itu berupa gambar MBT Leopard pesanan Pemerintah RI yang tengah belajar berlari serta menerkam. "Maneuvre Your Dream and Sound Of Freedom, tolong dikasih judul demikian", demikian tambahan dari pesan singkat itu.



Jauh di Jerman sana, kawan ARC tengah berjibaku berlatih menjinakan sang Macan. Tidak banyak yang dapat ARC ceritakan mengenai pelatihan di Jerman itu. Gambar yang ada pun tidak bisa semua dipublikasi. Namun demikian, yakinlah Prajurit muda kavaleri berusaha sekuat tenaga menundukan sang Macan.




Sumber : ARC


31 Mei, 2014

Pangdam Tanjungpura Minta 10 Tank untuk Perkuat Perbatasan

Panglima Kodam XII/Tanjungpura, Mayor Jenderal TNI Andi Ibrahim Saleh, meminta sepuluh tank Leopard untuk menjaga perbatasan Indonesia-Malaysia di wilayah Desa Temajuk, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, Provinsi Kalimantan Barat. "Kalau bisa, ditempatkan sepuluh tank dan helikopter," kata Andi di depan anggota Komisi Pertahanan DPR saat berkunjung ke Kalimantan Barat, Jumat, 30 Mei 2014.

Prajurit TNI menggunakan Tank Leopard (depan) saat peringatan ke-68 Hari Jadi TNI di Skuadron 2 Halim Perdana Kusumah, Jakarta, Sabtu (5/10). Tank Leopard merupakan perlengkapan persenjataan TNI terbaru yang diperkenalkan pertama kali pada Peringatan Hari Jadi TNI kali ini. ANTARA/Ujang Zaelani

Wilayah itu beberapa waktu yang lalu memanas karena Malaysia membangun rambu suar di patok STRP 01 perairan Tanjung Datu. Namun pembangunan itu dicegah oleh TNI, yang kemudian menjaga perairan Indonesia tersebut.


Menurut Ibrahim, topografi Desa Temajuk yang berbukit menyebabkan pengawasan memerlukan helikopter. Perbatasan wilayah Malaysia-Indonesia di Desa Tamajuk berada di kedua sisi Gunung Tanjung Datu. Keberadaan semenanjung di kawasan tersebut menyebabkan pengawasan makin sulit. Ia menambahkan, dengan kondisi seperti itu, Desa Temajuk sebaiknya dijadikan pangkalan militer.

Gubernur Kalimantan Barat Cornelis mengatakan pemerintah provinsi sudah mempersiapkan lahan seluas seribu hektare untuk membangun pangkalan militer di Desa Temajuk. “Itu jangka panjang,” ujarnya.

Anggota Komisi Pertahanan DPR, Tri Tamtomo, mengatakan pemerintah harus menyegerakan diplomasi. “Pemerintah harus berkomitmen mempertahankan kedaulatan wilayah,” ucapnya. Ia berpendapat pembangunan rambu suar oleh Malaysia belum lama ini bisa bermakna memperolok pemerintah Indonesia. (Tempo)



22 Mei, 2014

Dua Tahun Lagi RI Bakal Punya Tank Medium Buatan Sendiri

Industri lokal telah mampu memasok Alat Utama Sistem Persenjataan (Alutsista) berteknologi modern. BUMN produsen kendaraan tempur dan senjata, PT Pindad (Persero) yang berbasis di Bandung, Jawa Barat salah satu yang mampu melakukannya.

Prototipe Tank Buatan Pindad
Prototipe Tank Buatan Pindad

Produk unggulan Pindad yang sukses dan laris manis adalah panser ANOA 6X6. Sukses di kelas panser, Pindad melanjutkan inovasi pada kendaraan tempur beroda rantai alias tank. Pindad optimistis bisa melahirkan tank medium pada 2016.

“Harapannya bisa kuasai medium tank pada tahun 2016. Itu jenis canon. Itu yang dibutuhkan user adalah medium tank dengan bobot 25-30 ton,” kata Direktur Utama Pindad Tri Hardjono kepada detikFinance saat ditemui di DPR RI Senayan, Jakarta Selasa (20/5/2014).


Tri menyebutkan tank tersebut masuk kategori kendaraan tempur modern. “Kemampuan manuvernya tinggi, geraknya cepat, punya daya tembak lebih besar,” sebutnya.

Kemampuan Pindad mengembangkan tank tersebut tak lepas dari perjalanan panjang di industri pertahanan. Pindad berpengalaman merakit tank scorpion, mengembangkan prototipe tank, memodifikasi (retrofit) tank AMX-13 milik TNI hingga pengembangan produk tank bersama Turki.

Pengalaman dan kemampuan tersebut selanjutnya digunakan Pindad untuk melahirkan tank canggih asli karya putra-putri bangsa Indonesia. “Dengan 3 pengalaman ini. Kita juga sedang dimintakan lagi. Kita diminta kembangkan satu kendaraan medium tank bersama dengan Turki,” jelasnya.

Selain mengembangkan tank, Pindad juga akan meningkatkan kemampuan produk panser ANOA. Pada tahun 2015, Pindad akan memproduksi ANOA versi amphibi. Panser versi amphibi mampu dioperasikan di darat dan permukaan air.

“Ini APC (armoured personnel carrier), tapi Amphibi. 2014 kita punya prototipe dan 2015 itu kita jual,” jelasnya.

Tri menerangkan beberapa negara tertarik dan sedang menjajaki pembelian panser ANOA, salah satunya adalah Malaysia. “Malaysia berminat, kemudian Putra Mahkota Brunei berminat, ada negara di timur tengah berminat,” katanya. (Detik)


11 Mei, 2014

Kemenhan Batalkan Pembelian 50 Unit BTR-4 dari Ukraina

Krisis politik yang melanda Ukraina membuat Kementerian Pertahanan (Kemenhan) membatalkan rencana pembelian 50 unit kendaraan lapis baja Bronetransporter 4 atau BTR-4. Kemenhan, akan mencari negara lain yang dapat memasok kebutuhan tersebut.

BTR-4 produksi Ukraina yang batal dibeli Kemenhan
BTR-4 produksi Ukraina yang batal dibeli Kemenhan

Kepada pers, di sela acara Cyber Defence Competition 2014 di Akademi Angkatan Laut, Surabaya, Jumat (09/05), Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengatakan, awalnya, negara Eropa timur tersebut dipilih lantaran sudah dikenal sebagai produsen kendaraan lapis baja dengan kualitas bagus. BTR-4 itu dibuat oleh Biro Desain Kharkiv Morozov Machine Building (KMDB) Ukraina.


“Alutsista ini masuk ke dalam rencana strategis pertama, tapi ragu-ragu jadi beli karena Ukraina sedang perang,” ujar Purnomo.

Pembelian alat utama sistem persenjataan (alutsista) ini guna memenuhi capaian  kekuatan minimum pokok (minimum essential forces).

Daftar belanja alutsista TNI AL merupakan paling banyak datang pada 2014. Purnomo mengatakan, rencananya BTR-4 diperuntukkan untuk Korps Marinir.

Meski begitu, Menhan memastikan, pembatalan pembelian itu tidak terlalu mengganggu pencapaian kekuatan minimum pokok TNI AL. Pasalnya, Kemenhan bersama Mabes AL sedang berdiskusi untuk mengalihkan anggaran yang tersedia kepada produsen kendaraan lapis baja lainnya.

Disamping itu, Korps Marinir saat ini sudah menerima sebanyak 54 tank amfibi BMP-3F dari Rusia. “Mungkin pembelian dialihkan ke negara lain, sedang dicarikan,” kata Purnomo.

Secara khusus, Purnomo menyambut baik pencapaian kekuatan pokok minimun TNI yang sudah mencapai 40 persen. Capaian itu melebihi target yang ditetapkan sebesar 30 persen pada rencana strategis pertama periode 2009-2014.

Tolok ukurnya,  beberapa alutsista yang dibeli lebih murah dari harga normal disebabkan kemampuan diplomasi delegasi Kemenhan. “Kita bakal punya skuadron helikopter Apache dan Blackhawk, skuadron Sukhoi dan F-16, dan kapal cepat rudal maupun kapal korvet,” tandas Purnomo. (
politikindonesia.com | JKGR )


14 April, 2014

Blaar! Dan Tank Retrofit itu pun Mengaum

Sedikit menjauhkan diri dari hiruk pikuk ibukota yang tengah mempersiapkan diri dalam menghadapi Pemilu Legislatif 2014, ARC  memperoleh kesempatan untuk ikut dalam uji tembak first article tank AMX-13 hasil retrofit yang dikerjakan Pindad. Setelah pada minggu sebelumnya diuji kemampuan olah otomotifnya, pada tanggal 7-8 April 2014 AMX-13/105 diuji kemampuannya dalam melontarkan munisi 105mm Perancis dari kanon CN105-57G1 yang terpasang di kubah FL-12 buatan perusahaan Perancis Fives Babcock Cail.

Blaar! Dan Tank Retrofit itu pun Mengaum

Karena berkesempatan langsung melongok AMX-13/105 tersebut, ARC dari dekat dapat menyaksikan bahwa retrofit yang dijalankan tersebut bersifat menyeluruh. Tidak hanya mesinnya yang digantidan hull dimodifikasi, ternyata sistem kubahnya pun dicangkokkan sistem kendali penembakan (FCS: Fire Control System) modern yang sudah memasukkan input dari sistem laser rangefinder (LRF)  untuk memastikan jarak antara tank ke sasaran. Dan berbeda dengan dugaan banyak orang, sistem FCS yang digunakan bukanlah standar kubah FL-12 yaitu SOPTAC-18 buatan firma Sopelem, tetapi merupakan FCS modern buatan salah satu negara Eropa Barat. Bahkan untuk pengemudi pun disediakan sistem pengemudian berbasis LCD yang menginkorporasikan kamera FLIR/ Thermal  untuk melancarkan navigasi pada kondisi gelap malam.


Pada pengujian kali ini, dites dua macam amunisi yaitu munisi HE buatan firma Hinterberger dan OCC105G1 yang merupakan amunisi APFSDS (Armor Piercing Fin  Stabilised Discarding Sabot) untuk menjebol tank lawan. Berdasarkan data  pabrikan, amunisi OCC105G1 mampu menembus lapisan baja RHA setebal 250mm  pada kemiringan 30odari jarak 1.000m,  atau kurang lebih cukup untuk melalap ranpur/ tank medium dari segala sudut.

Pengujian dengan munisi hidup tersebut dilakukan sebanyak dua kali pada sasaran  yang terletak 1.000 meter jauhnya di puncak bukit. Pengujian disaksikan oleh perwakilan Pindad dan TNI AD. Tanpa perlu berbasa-basi,  kita simak kedahsyatan aksi Pindad AMX-13/105 melalui serangkaian foto berikut ini. (ARC)












01 April, 2014

Militer Indonesia Sangat Membutuhkan Tank Leopard

Kementerian Pertahanan menyatakan tank Leopard asal Jerman sangat dibutuhkan oleh Indonesia. Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro, menyatakan Leopard sangat penting untuk memperkuat pertahanan darat Indonesia.

Militer Indonesia Sangat Membutuhkan Tank Leopard

"Dari aspek taktis, MBT Leopard telah memenuhi Ketentuan Standar Umum Materiil TNI AD dihadapkan dengan fungsi satuan kavaleri sebagai unsur penggempur," kata Purnomo dalam siaran tertulisnya, Senin (31/3).

Menurutnya, tank Leopard adalah tank yang terunggul di kelasnya. Keunggulan MBT Leopard adalah pada kemampuan daya gerak, tembak, daya kejut, dan daya hancurnya. "MBT Leopard dapat digunakan di daerah perkotaan maupun di perbukitan atau di daerah setengah tertutup," katanya.


Meskipun beratnya mencapai 60 ton, Purnomo meyakinkan tekanan gandar yang ditumpukan ke permukaan hanya sekitar 8 kg/cm2. "Hal ini dimungkinkan karena permukaan tumpu relatif luas," ujarnya.

Pada tahun 2012, pemerintah dan DPR telah sepakat untuk membeli main battle tank (MBT) Leopard produksi Jerman. Proses pembelian Leopard dinilai telah melalui proses yang cukup panjang dengan pendekatan komprehensif.

Sementara itu, Kepala Dinas Penerangan TNI AD, Brigjen Andika Perkasa, mengatakan sudah sangat lama Indonesia tak memiliki tank dengan spesifikasi canggih. Padahal, katanya, daratan Indonesia amat luas, apalagi untuk menjaga seluruh perbatasan.

TNI AD berencana menempatkan sebanyak 103 Leopard yang telah dibeli di sejumlah satuan kavaleri. Penempatan ini sebagai upaya mempermudah untuk dikerahkan ketika terjadi ketegangan di wilayah atau perbatasan terdekat.

Di Batalyon Kavaleri 1 Kostrad, Cijantung, TNI AD akan menempatkan 41 Leopard yang terdiri dari 13 Leopard tipe 2A4 dan 28 Leopard 2 tipe RI. Di Pasuruan, Jawa Timur, tepatnya di Batalyon Kavalaeri 8 Kostrad, TNI AD juga menempatkan 41 Leopard. Di Pusat Pendidikan Kavaleri di Padalarang, Jawa Barat, akan ditempatkan 4 Leopard. Dan di Sentul, Jawa Barat, ditempatkan 13 Leopard. Sementara itum, di Kompi Kavaleri Pusat Latihan Pertempuran, Baturaja, ditempatkan 4 Leopard.

"Dari kebutuhan 103 garasi Tank Leopard, 82 di antaranya atau sebanyak 79,6 persen sudah selesai dibangun. Sisanya akan diselesaikan tahun 2014," kata Andika.

Andika mengatakan ada 140 negara pengguna MBT di seluruh dunia, dengan 65 jenis yang berbeda. Leopard sendiri digunakan di 20 negara atau 14,3 persen, antara lain di Australia, Austria, Brasil, Kanada, Cile, Denmark, Finlandia, Jerman, Yunani, Indonesia, Itali, Lebanon, Norwegia, Polandia, Portugal, Singapura, Spanyol, Swedia, Swiss, dan Turki.

"Dari 20 negara tersebut, hanya tiga negara atau 15 persen yang memiliki padang pasir, sebanyak 85 persen tidak memiliki padang pasir," lanjutnya.

Dia menjelaskan berat MBT Leopard dihadapkan jalan dan jembatan di Indonesia tidak ada masalah. Sekalipun beratnya sekitar 60 ton, namun tekanan jejaknya pada tanah hanya 0,8 kilogram per sentimeter atau 8,9 ton per meter persegi. Tekanan jejak itu, kata dia, relatif sama dengan Tank AMX-13 (berat 14,5 ton) dan Scorpion (8 ton).

Dengan tekanan jejak 8,9 ton per meter persegi, MBT Leopard sangat memenuhi syarat penggunaan jalan kelas satu dan dua di Indonesia. Pasalnya, sesuai peraturan muatan sumbu terberat di jalan kelas ini bisa lebih delapan ton per meter persegi.

"Beban terbagi rata Tank Leopard (q=2,38 kNm2) masih lebih kecil dari jembatan kelas A dan B (q=4.46 kNm2) di Indonesia dengan lebar enam meter, panjang 40 meter)," kata mantan Danrem 023/Kawal Samudera Sibolga itu.

Sebelumnya, mantan Presiden BJ Habibie mengkritik pembelian MBT Leopard 2A6 dari Jerman. Menurut Habibie, Leopard tidak cocok untuk Indonesia yang dikenal sebagai negeri maritim. MBT Leopard, sebut Habibie, ideal digunakan di medan gurun pasir. (KJ)


AMX-13 Retrofit Pindad itu Mulai Berjalan

Setelah ditinjau langsung oleh Wakil Menteri Pertahanan, Pindad tak membuang waktu. Perusaan senjata asal Bandung ini segera menggelar uji coba tank AMX-13 hasil Retrofit mereka. Mulai hari ini, 1 april 2014, Tank ringan itu akan diujikan berjalan ke kawasan Sukabumi dan Cianjur untuk melihat olah gerak hasil retrofit. Selain olah gerak, nantinya juga akan dilakukan uji tembak dalam waktu dekat.



Proyek retrofit AMX-13 ini mulai berjalan sejak akhir  2011 lalu. Seharusnya di Tahun 2013 ini Pindad telah melakukan produksi Retrofit AMX. Namun dalam perjalanannya, sejuta rintangan menghambat. Dan akhirnya, pada awal 2014, sebuah prototype bisa diselesaikan.


AMX-13 hasil retofit ini memiliki tampang yang sedikit berbeda dengan slinya. Untuk hull misalnya, terpaksa ditambah panjang sekitar 20cm untuk mengakomodir mesin anyar. Mesinnya sendiri memakai produk Navistar dari Amerika Serikat dengan daya sebesar 400HP. 


Sementara pada bagian persenjataan, terpasang meriam 105mm. Selain itu, untuk meningkatkan kemampuan tempur, akan dipasang pula Fire Control System yang kabarnya bikinan Belgia. Selain itu turut dipasang pula Laser Range Finder serta kamera Thermal.





Sumber : ARC


31 Maret, 2014

TNI AD Bantah Kritikan Habibie Soal Pembelian Tank Leopard

TNI Angkatan Darat membantah kritikan mantan Presiden BJ Habibie terkait dengan pembelian tank Leopard dari Jerman oleh pemerintah Indonesia. Menurut TNI AD, tidak benar tank Leopard yang termasuk dalam tank tempur utama (main battle tank atau MBT) adalah tank yang dikhususkan untuk negara yang memiliki padang pasir.

TNI AD Bantah Kritikan Habibie Soal Pembelian Tank Leopard

"Dari 20 negara pengguna tank Leopard, hanya 3 negara (15 %) yang memiliki padang pasir. Sedangkan 85% dari negara-negara tersebut tidak memiliki padang pasir," ujar Kepala Dinas Penerangan TNI AD Brigjen TNI Andika Perkasa dalam keterangan tertulis yang diterima Liputan6.com di Jakarta, Minggu (30/3/2014) malam.

Menurut Andika, saat ini ada 140 negara pengguna MBT diseluruh dunia, dengan 65 jenis MBT yang berbeda. Khusus untuk tank Leopard digunakan oleh 20 negara besar. Mulai dari Australia, Austria, Brasil, Kanada, Cile, Denmark, Finlandia, Jerman, Yunani, Indonesia, Italia, Lebanon, Norwegia, Polandia, Portugal, Singapura, Spanyol, Swedia, Swiss, dan Turki.


TNI AD juga membantah kritikan Habibie yang mengatakan berat tank Leopard yang mencapai 60 ton tak mampu melintasi medan-medan di Indonesia.

Menurut TNI AD, Sekalipun berat Leopard lebih kurang 60 ton, tekanan jejak pada tanah hanya 0.8 kg/cm2 atau 8.9 ton/m2. Tekanan jejak ini relatif sama dengan tank AMX-13 yang memiliki berat 14.5 ton dan Scorpion dengan berat 8 ton.

"Dengan tekanan jejak 8.9 ton/m2, tank Leopard sangat memenuhi syarat untuk digunakan di jalan kelas 1 dan 2 di Indonesia. Beban terbagi rata tank Leopard juga masih lebih kecil dari jembatan kelas A dan B di Indonesia dengan lebar 6 meter dan panjang 40 meter," terang Andika.

Selain itu, tank Leopard juga mampu bermanuver off road di permukaan berlumpur dan di sungai dengan kedalaman kurang dari 4 meter.

Dari kebutuhan 103 garasi tank Leopard, 82 di antaranya (79.6 %) sudah selesai dibangun di berbagai lokasi penempatan. Sisanya akan diselesaikan tahun 2014 ini.

Penempatan 103 unit tank Leopard TNI AD adalah:

- Batalyon Kavaleri 1 Kostrad, Cijantung (total 41)
* 13 Leopard 2A4.
* 28 Leopard 2 RI.

- Batalyon Kavaleri 8 Kostrad, Pasuruan (total 41)
* 28 Leopard 2A4.
* 13 Leopard 2 RI.

- Pusat Pendidikan Kavaleri, Padalarang (total 4)
* 3 Leopard 2 RI.
* 1 Leopard 2A4.

- Kompi Kavaleri CAMB, Sentul
* 13 Leopard 2 RI. 

- Kompi Kavaleri Pusat Latihan Pertempuran, Baturaja (total 4)

* 4 Leopard 2 RI.



Sumber : Liputan6


29 Maret, 2014

Pramono Bantah Pernyataan Habibie soal Tank Leopard

Mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Pramono Edhie Wibowo angkat bicara, membantah kritik Presiden ketiga RI BJ Habibie soal pembelian tank Leopard oleh bekas kesatuannya itu. Dia berpendapat penilaian Habibie tak tepat.



"Kalau Pak Habibie bilang tank Leopard keberatan berton-ton dan nggak ada jembatan yang mampu dilalui tank ini, saya tanya semenjak tank itu datang ke Indonesia apa ada jembatan yang ambruk?" ujar Pramono di Jakarta, Jumat (28/3/2014). Sebelumnya, Habibie mengatakan, tank Leopard tak cocok dengan karakteristik Indonesia.

Pembelian 116 tank Leopard bekas dari Jerman terjadi saat Pramono menjabat KSAD. Sejak tank-tank itu tiba di Pelabuhan Tanjung Priok, dibawa ke Mako Kopassus di Cijantung, dan kemudian dipamerkan di Kemayoran, Pramono mengaku langsung memeriksa apakah ada jembatan yang ambruk karena dilewati Leopard.


"Tidak ada yang ambruk. Saya pun bertanya, Pak Habibie ini kenapa menghina Kementerian PU Indonesia yang buat jembatan? Jangan selalu membangga-banggakan produk asing," kata anggota Dewan Pembina Partai Demokrat ini.

Selain itu, Pramono pun menepis pandangan Habibie yang menyatakan Indonesia tak membutuhkan Leopard karena tank ini dirancang untuk gurun pasir. Dia mengatakan, negara-negara seperti Brasil, Singapura, Belanda, dan Jerman yang tak punya gurun pasir juga menggunakan Leopard.

Pramono menambahkan, sekarang tak kurang dari 15 negara memiliki Leopard. Menurut dia, keberadaan tank tersebut akan sangat berguna bagi pertahanan Indonesia dalam situasi genting.

Diberitakan sebelumnya, Habibie mengkritik keputusan Kementerian Pertahanan membeli tank Leopard. Menurut dia, tank Leopard tak cocok sebagai alat utama sistem pertahanan (alutsista) Indonesia.

"Kita impor tank Leopard itu untuk apa? Itu kan untuk negara padang pasir, bukan negara maritim," papar Habibie saat memberikan pidato penutup dalam seminar Uji Publik Capres 2014: Mencari Pemimpin Muda Berkualitas di The Habibie Center, di Jakarta, Rabu (26/3/2014).

"Skenario perang berubah. Sekarang pembuat tank itu mencari orang yang mau bayar besi tuanya. Pakai dong otaknya," ujar Habibie. Terlebih lagi, lanjut dia, tank tersebut memiliki berat mencapai 60 ton.

Alat seberat itu, menurut Habibie, tidak akan cocok dioperasikan di Indonesia. "Belum tentu bisa lewat jembatan, tidak kuat nanti jembatannya. Dan, saya dengar akan datang langsung 120 (buah), mau taruh di mana?" ujarnya.

Habibie meyakini Kementerian Pertahanan sudah mengetahui kondisi- kondisi teknis itu. Namun, menurut dia, Kemenhan sepertinya lebih mementingkan unsur ekonomi dibandingkan unsur teknis dari pembelian tank itu. (Kompas)


27 Maret, 2014

Ini Dia Peralatan Moderen Untuk Modifikasi Tank AMX-13 TNI AD

PT Pindad saat ini tengah mendapatkan tugas untuk memodifikasi (retrofit) tank AMX-13 milik TNI.  Seperti apa modifikasi yang dilakukan?.


Pada saat kunjungan Wamenhan Sjafrie Sjamsoeddin ke PT Pindad,  Rabu (26/3/2014), Direktur Utama PT Pindad (Persero) Tri Hardjono menjelaskan tank AMX-13 merupakan tank lama dari masa Perang Dunia II sehingga perlu dimodernisasi.

Dia memaparkan setelah dilakukan retrofit, tank tersebut memiliki kelebihan yang dilengkapi senjata Canon 105 mm, fire control system sudah elektronik, serta mesin diesel yang bisa bertahan sampai 20 tahun dan transmisi otomatis.


Model lama AMX-13 masih bermesin bensin dari Eropa, dan modifikasi ini diganti menjadi mesin Diesel Turbointercooler dari Navistar Amerika Serikat. “Biaya untuk retrofit hanya sekitar Rp9 miliar-Rp10 miliar, lebih murah dibandingkan tank baru yang minimalnya Rp30 miliar,” ungkapnya.

Pihak Kemenhan juga memiliki program pembuatan tank medium, dengan senjata 105 mm, dan memiliki kemampuan tank modern yang dibutuhkan kavaleri.

“Untuk tank medium ini dikembangkan sekitar 3 tahun ke depan, sehingga protitipenya baru akan selesai pada 2016.  Sedangkan yang ada saat ini adalah tank Pindad hasil pengembangan sendiri kendaraan roda rantai yang sedang dicoba diaplikasikan,” katanya.
Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE MicrosoftInternetExplorer4

Apa Kecanggihan Tank AMX-13 Modifikasi Pindad?


PT Pindad saat ini tengah mendapatkan tugas untuk memodifikasi (retrofit) tank AMX-13 milik TNI.  Seperti apa modifikasi yang dilakukan Pindad?

Pada saat kunjungan Wamenhan Sjafrie Sjamsoeddin ke PT Pindad,  Rabu (26/3/2014), Direktur Utama PT Pindad (Persero) Tri Hardjono menjelaskan tank AMX-13 merupakan tank lama dari masa Perang Dunia II sehingga perlu dimodernisasi.

Dia memaparkan setelah dilakukan retrofit, tank tersebut memiliki kelebihan yang dilengkapi senjata Canon 105 mm, fire control system sudah elektronik, serta mesin diesel yang bisa bertahan sampai 20 tahun dan transmisi otomatis.

Model lama AMX-13 masih bermesin bensin dari Eropa, dan modifikasi ini diganti menjadi mesin Diesel Turbointercooler dari Navistar Amerika Serikat. “Biaya untuk retrofit hanya sekitar Rp9 miliar-Rp10 miliar, lebih murah dibandingkan tank baru yang minimalnya Rp30 miliar,” ungkapnya.

Pihak Kemenhan juga memiliki program pembuatan tank medium, dengan senjata 105 mm, dan memiliki kemampuan tank modern yang dibutuhkan kavaleri.

“Untuk tank medium ini dikembangkan sekitar 3 tahun ke depan, sehingga protitipenya baru akan selesai pada 2016.  Sedangkan yang ada saat ini adalah tank Pindad hasil pengembangan sendiri kendaraan roda rantai yang sedang dicoba diaplikasikan,” katanya.


Sumber : BisnisBandung


Pindad Akan Meretrofit 23 Tank Ringan AMX-13

PT Pindad menunjukkan kemampuannya memodifikasi (retrofit) tank kelas ringan buatan Prancis yaitu AMX-13 pada Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsuddin. Sjafrie pun menyatakan, sebanyak 23 dari 400 populasi AMX-13 milik TNI pun akan dimodifikasi PT Pindad.


"Kita berencana akan membuat 23 unit sebagai pesanan pertama," ujar Sjafrie usai melakukan kunjungan ke PT Pindad di Jalan Gatot Subroto Bandung, Rabu (26/3/2014)

Ia mengatakan, proyek retrofit AMX-13 itu akan terus dilaksanakan kedepannya. "Kita punya kurang lebih hampir 400 populasi AMX-13 yang harus kita retrofit," katanya.


Sjafrie mengatakan program retrofit ini sudah masuk dalam grand strategy atau rencana kerja untuk pembangunan industri pertahanan.

"Mudah-mudahan retrofit ini bisa berlangsung di tahun anggaran 2015 sampai 2019. Tapi tergantung dengan kebijakan pemerintah yang baru nanti dan kemampuan anggaran," tuturnya.

Dikatakan Sjafrie dalam kunjungannya, PT Pindad mampu menampilkan 1 prototipe tank ringan revolfit AMX-13 yang teknologinya dimodifikasi lebih tinggi dari yang ada sebelumnya

"Kelebihannya, buatan Pindad ini disesuaikan dengan postur prajurit dan kebutuhan operasional. Kalau itu sudah terpenuhi maka itu sudah sangat meyakinkan, sebab kan prajurit harus cocok," jelas Sjafrie.

AMX-13 adalah tank buatan Perancis yang pertama kali digunakan pasukan Perancis. Tank ini diproduksi sejak 1953-1985. Tank ini sudah diekspor ke lebih dari 25 negara. (Detik)


Habibie Kritik Pembelian Tank Leopard Oleh Pemerintah RI

Presiden ketiga RI Bacharudin Jusuf Habibie mengkritik pemerintah yang membeli tank Leopard buatan Eropa, Rabu 26 Maret 2014. Pembelian alat utama sistem persenjataan (alutsista) buat TNI AD itu dinilai tidak tepat, sebab tidak cocok digunakan di wilayah Indonesia.


"Untuk apa impor tank Leopard? Itu kan digunakan di negara padang pasir, bukan negara maritim seperti Indonesia. Pakai dong otaknya," kritik Habibie dalam pidatonya dalam acara Uji Publik Capres 2014: Mencari Pemimpin Muda Berkualitas di sebuah hotel berbintang kawasan Thamrin, Jakarta.

Habibie menyindir pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertahanan dalam pembelian persenjataan perang angkatan darat tersebut. Dia berpendapat, dengan membeli Leopard itu skenario perang jadi berubah. "Sekarang pembuat tank itu mencari orang yang mau membayar besi tuanya," sindir Habibie.


Tank jenis ini memiliki berat sekitar 60 ton. Alat seberat itu, kata Habibie, tidak cocok dioperasikan di wilayah Indonesia yang pulau dan perairan. "Tank itu tentu tidak bisa lewat jembatan. Saya dengar November akan datang akan datang 120 unit Leopard. Itu nanti mau taruh di mana?" katanya.

Pihak Kementerian Pertahanan tentu sudah mengetahui mengenai kondisi-kondisi teknis itu. Namun, kenapa tetap membeli alutsista tersebut. "Itu otak dagang, mumpung murah maka dibeli. Saya tidak mau mengkritik siapapun, cuma mau peringatkan anak cucu intelektual saya."

Seperti diketahui, Kementerian Pertahanan baru saja membeli 42 unit tank Leopard 2A4 dan 61 unit tank tempur utama Leopard Revolution. Bersamaan dengan itu, Kemenhan juga mendatangkan 50 unit tank tempur medium Marder asal pabrikan Jerman, Rheinmenttal.


Sumber : VivaNews


07 Maret, 2014

Rusia Pemasok Mobil Tempur Terbesar ke RI

Meski telah mempunyai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang memproduksi kendaraan tempur (tank) seperti PT Pindad (Persero), tak menyurutkan Indonesia untuk mengimpor tank dari negara lain, seperti Rusia, Korea dan Prancis.

Tank BMP 2 Marinir TNI AL
Tank BMP 2 Marinir TNI AL

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), impor tank Indonesia dari beberapa negara sepanjang 2013 tercatat sebesar US$ 220,56 juta atau setara Rp 2,5 triliun (kurs: Rp 11.481 per dolar AS)

Impor tank terbesar berasal dari Rusia dengan realisasi sebesar US$ 127,49 juta. Disusul Republik Korea yang memasok tank sebesar US$ 72,75 juta.


Di posisi ketiga ditempati Prancis yang mengimpor US$ 10,34 juta. Sementara negara lainnya membukukan nilai impor tank ke Indonesia sebesar US$ 9,94 juta.

Sementara pada periode Januari 2014, realisasi impor tank sebesar US$ 17,12 juta. Angka ini melonjak drastis dari awal tahun lalu yang mencatatkan nilai impor tank sebesar US$ 2,27 juta.

Realisasi impor tank tertinggi khusus Januari ini berasal dari Republik Korea senilai US$ 13,82 juta. Selanjutnya Prancis dengan nilai impor sebesar US$ 3,26 juta serta negara lainnya sebesar US$ 45,81 ribu. Sedangkan saldo impor tank Rusia di awal tahun ini nol alias tidak mengimpor.

Jumlah ini mengalami peningkatan dibanding periode yang sama 2013 di mana nilai impor dari Republik Korea sebesar US$ 288,90 ribu, Prancis senilai US$ 1,43 juta serta negara lainnya US$ 547,50 ribu dan Rusia tidak melakukan impor di periode Januari tahun lalu. (Liputan6)


27 Februari, 2014

Menanti Prototype Tank Buatan Pindad dan Turki

T Pindad dan FNSS Turki sedang mengembangkan pembuatan tank kelas sedang untuk TNI AD. Rencananya prototipe ini akan selesai pada awal tahun 2016.

Menanti Prototype Tank Buatan Pindad dan Turki ACV-300 Turki
ACV-300 Turki

"Awal 2016, harapannya prototipe jadi," tulis Juru Bicara PT Pindad Tuning Rudyati melalui pesan singkat kepada Liputan6.com, Jakarta Selasa (25/02).

FNSS Turki pernah mengirimkan prototipe tank ringan ACV-300 untuk dijajal oleh TNI AD. Apakah desainnya akan dikembangkan dari ACV-300?

"Untuk joint dengan Turki, model tidak mengacu pada ACV-300 tapi akan ditentukan oleh Pindad dan FNSS dalam Forum Intergrated Planing Team Meeting," imbuh Tuning.


Saat ini PT Pindad juga melakukan riset dengan Pussenkav TNI AD. Kadispen TNI AD, Brigjen Andika Perkasa saat dihubungi terpisah mengatakan, dari hasil riset ini akan dipelajari desain yang cocok agar bisa sesuai dengan kondisi geografis Indonesia.

"Tes dilakukan sendiri oleh PT Pindad dengan mempertimbangkan kebutuhan user (TNI AD)," tulis Andika melalui pesan singkatnya.

Tank kelas sedang pengembangan 2 negara ini akan memiliki berat 24-25 ton. Untuk kanon menggunakan kaliber 105 mm dan chasis untuk kavaleri dengan silhouette maximum 2.5 meter.

"Chasis tank termasuk tinggi turent dan kanon. Chasis tank ini dapat dikembangkan amphibious sehingga dapat dipakai juga oleh marinir," tambah Tuning.

Kerjasama PT Pindad dan FNSS Turki sudah dilakukan sejak beberapa tahun yang lalu. Pada 6 Februari 2014, kedua industri pertahanan ini melakukan penandatangan kerjasama di Gedung Soeprapto, Kementerian Pertahan, Jakarta dengan disaksikan Dirjen Potensi Pertahanan, Timbul Siahaan.

Selain dengan FNSS Turki, Indonesia juga sedang membicarakan kerjasama tank kelas sedang lainnya yaitu Marder milik perusahaan Rheinmetal Jerman. Pembicaraan ini terkait transfer teknologi salah satunya terkait turret Oto Melara Hifact 120 mm.

"Mengenai IFV Marder Jerman sejauh ini masih dilakukan tahap pembicaraan kerjasama, khususnya dalam hal transfer teknologi," kata Andika.

PT Pindad salah satu industri pertahanan yang bernaung dibawah Badan Usaha Milik Negara telah banyak membuat kendaraan lapis baja beroda seperti APS-3 Anoa 6x6, Rantis Komodo 4x4 dan beberapa kendaraan lainnya. Untuk kendaraan lapis baja rantai, PT Pindad masih melakukan pengembangan pada prototipe untuk tipe angkut personel (APC).

Sedangkan FNSS Turki telah banyak membuat lapis baja berantai seperti ACV-19, ACV-15, LAWC-T, ACV-30 dan beberapa tipe lainnya. Malaysia juga bekerjasama dengan FNSS Turki dalam pembuatan lapis baja berantai ACV-300 dan beroda 8x8 AV8. (Liputan6)


26 Februari, 2014

Prototype Tank SBS Pindad Mulai Berlari

Meski nantinya akan menggandeng FNSS Turki dalam mengembangkan medium tank, bukan berarti PT.Pindad berpangku tangan. Pabrik senjata asal Bandung itu tetap menyempurnakan desain Tank (Ranpur Roda rantai) yang dikenal dengan nama Tank SBS. Sekitar 1 bulan lalu, Tank desain murni anak bangsa ini bahkan sudah uji coba berjalan.


Dalam video yang diterima redaksi ARC, terlihat Tank tersebut melaju mulus dan cukup cepat. Ukurannya yang lumayan kecil membuatnya juga cukup lincah mengarungi jalanan yang lumayan sempit di kompleks PT. Pindad di Bandung. 


Dari informasi yang ARC dapatkan, untuk sementara, Tank SBS ini masih menggunakan mesin milik truk Hino.  Nantinya, desain, mesin serta lainnya masih bisa berubah sesuai riset yang masih terus dilakukan. Setidaknya, untuk sementara Pindad membuktikan bisa membuat Tank yang berjalan tanpa bantuan luar. Maju terus Pindad.. !!

ARC | Youtube


14 Februari, 2014

Menanti Wujud Tank Medium Pindad - FNSS Turki

Indonesia dan Turki sepakat bekerjasama untuk mengembangkan tank medium baru. Kesepakatan ini ditandatangani 6 Februari 2014 di Jakarta, antara perusahaan FNSS Turki dengan PT Pindad Indonesia, untuk mengembangkan tank bagi keperluan TNI AD.


Diperkirakan tank baru ini memiliki desain konvensional, yang memungkinkan dipasang turet dengan canon 105 mm serta  dual co-axial machine gun (MG) 7.62 mm dengan sistem penembakan bersifat komputerisasi.


Untuk memudahkan penyebarannya di Indonesia, diharapkan tank ini memiliki berat tempur sekitar 25 ton.


ACV 300 Turki

Disain Tank Pindad yang sempat beredar
Disain Tank Pindad yang sempat beredar

FNSS memiliki pengalaman luas dalam desain, pengembangan dan produksi kendaraan tempur lapis baja berpenggerak roda maupun rantai (tracked). Lapis baja buatan FNSS terakhir adalah keluarga/ varian Armoured Combat Vehicle (ACV), yang dibangun dalam jumlah signifikan untuk keperluan dalam negeri Turki maupun pasar ekspor. (Janes.com | JKGR)


28 Januari, 2014

Menhan Tinjau Kesiapan Garasi Tank Leopard Di Yonkav 8 Pasuruan

Menhan RI Punomo Yusgiantoro, Senin (27/1) meninjau kesiapan dari garasi khusus Tank Leopard di Batalyon Kavaleri 8 (Yonkav 8) Divisi 2 Komando Cadangan Strategis TNI Angkatan Darat (Kostrad), Pasuruan, Jawa Timur.

Menhan Tinjau Kesiapan Garasi Tank Leopard Di Yonkav 8 Pasuruan

Sebelum meninjau, Menhan dengan didampingi Panglima TNI Jenderal TNI Dr. Moeldoko, Ketua Komisi I DPR Mahfudz Siddiq, dan Kasal Laksamana TNI Dr. Marsetio, menerima paparan dari Danyon Kav 8 Letkol Kav Otto Sollu terkait kesiapan Yonkav 8 untuk menerima kedatangan kendaraan tempur MBT baru Leopard buatan Jerman.  Turut mengikuti paparan tersebut Panglima Divisi 2 Kostrad, Mayjen TNI Agus.K, Pangdam V Brawijaya, Mayjen TNI Ediwan Prabowo, dan Kabaranahan Kemhan, Laksda TNI Ir. Rachmad.Lubis serta para pejabat lainnya dari Kemhan, Komisi I DPR dan TNI.


Dalam paparannya Danyon Kav 8 mengungkapkan bahwa kesatuannya sudah membangun garasi serta sarana pendukung lain untuk operasional Tank MBT jenis Leopard.

Bangunan garasi khusus Tank Leopard yang tersedia saat ini sebanyak 33 unit. Masing-masing garasi ini dapat menahan beban sekitar 70 ton.

Selain itu secara umum Yonkav 8 juga memiliki garasi Tank Pendukung sebanyak 5 unit garasi, garasi Transporter sebanyak 8 unit, garasi untuk kegiatan workshop 1 unit serta gudang munisi 1 unit.

Sementara itu, kesiapan sumber daya manusia untuk mendukung operasional Leopard, Yonkav 8 telah menyiapkan personil terlatih yaitu 60 orang komandan kendaraan, 60 orang pengemudi, 41 orang penembak, serta 41 orang loader. Disamping itu telah disiapkan tim teknisi berjumlah 24 orang, terdiri dari teknisi mesin 8 org, teknisi alkom 8 org dan teknisi senjata 8 org.

Usai menerima paparan, Menhan beserta rombongan meninjau lokasi garasi Tank Leopard.

Disela-sela peninjauan tersebut Menhan mengatakan bahwa rencananya Tank Leopard yang akan ditempatkan di Satuan Yonkav 8 ini sekitar 40 unit.  Menurut Menhan, garasi beserta sarana pendukungnya di YonKav 8 telah siap menerima Tank Leopard.

Sementara itu Panglima TNI, Jenderal TNI Moeldoko mengatakan masih terdapat beberapa hal yang harus dipersiapkan di satuan Yonkav 8 tersebut, diantaranya lahan yang akan dipergunakan khusus untuk medan latihan manuver ataupun menembak dari Tank Leopard.

"itulah yang sedang kita pikirkan medan untuk manuvernya kavaleri khususnya untuk Main Battle Tank. kalo tidak ya nanti bisa mengganggu lalu lintas atau lingkungan sekitarnya." ungkap Panglima TNI.

Yonkav 8 merupakan satuan kavaleri yang mendapat kehormatan dan kepercayaan untuk menerima dan mengoperasikan Tank Leopard ini dengan kekuatan 1 Batalyon lengkap. (DMC)